Posted in oil rig

Periuk Nasi seorang MudLogger


Okey memang bentuk benda yang tergolek paling kanan ini mirip kaleng kerupuk yang biasa digotong ke kampung-kampung sebagai teman makan lotek atau pecel. Ada yang mengatakan mirip bumbung susu yang biasa digotong pemerah susu di Pengalengan.

Hanya yang saya potret ini jauh dari menarik tetapi inilah centong nasi saya sebagai mudlogger. Namanya Gas Trap atau Gas Extractor.

Kaleng kerupuk (stainless steel) edisi mini ini dipasang pada got pengeluaran lumpur dari perut sumur.

Lumpur yang melaluinya akan sebagian terhisap, lalu karena dalam kaleng kerupuk (tapi bukan) tadi dipasang alat semacam pengaduk berputaran tinggi, maka lumpur mulai dikacau dan persis ibu-ibu membuat kue dengan mengocok telur, maka gelembung gas perlahan-lahan memecah dipermukaan lumpur.

Gas ini kami baca dan analisa dan di rig pengeboran munculah istilah Total Gas, Gas Chromatograph, gas H2S, Gas CO2, hotwire detector, Flame Ionization Detector sebagai santapan mudlogger sehari-hari sehingga menjadi lahan penghidupan saya semasa 27tahun lamanya. Mampu menyekolahkan anak ke Singapura.

Dalam gambar alat sedang kami bersihkan. Nampak Raman Dhanda seorang anak Punjab, lajang, Master dari Petroleum Engineer Adelaide yang tidak sungkan bekerja sebagai mudlogger yang penting halal, ridho, barokah dan bisa hidup sedikitnya 100kali lipat BLT. Bukan Bacon, Lettuce and Tomato melainkan Bantuan Tunai Langsung. Wekekek.

Raman Dhanda harus menggunakan PPE – Personnal Protective Equipment (alat keselamatan) seperti kacamata keselamatan, sarung tangan karet keselamatan dan baju khusus “tywek” yang dirancang sekali pakai buang.

Dengan demikian lajang yang titip salam kepada pembaca ini bisa langsung bekerja dalam keadaan tetap bersih sebab yang kotor hanya sarung tangan, dan baju tyweknya.

Bukan itu saja bersentuhan dengan lumpur pengeboran yang padat bahan kimia, apalagi lumpur yang terbuat dari Synthetic Base Mud bisa bikin badan meriang kegatalan. Kalau anda paham satu tong minyak mentah sudah diatas 100 barrel harganya maka bisa dibayangkan berapa biaya untuk ribuan barrel Oil Base Mud yang dipakai dalam pengeboran ini.

Raman saya jadikan model blogger saya sebab kalau saya yang nampang bisa “nggilani” – alias najong!.

Begini keadaannya kalau alat sudah “in action” – Foto diambil saat sirkulasi lumpur sedang dihentikan. Dalam keadaan beraksi, alat ini akan seperti kapal (floating) sambil mengaduk lumpur. Floating Gas Trap ini dipasang di “possum belly” yaitu perutnya shale shaker. Parit-parit besi ini lokasi yang banyak “ikan gasnya” karena mereka pertama kali keluar menghirup udara segar dan sebagian keburu ditangkap lagi oleh alat mudlogger. Persis polisi menangkap grup kelompok agama kita yang meneror kelompok lain  yang tidak sepaham.

Ada persyaratan agar alat ini bekerja dengan sempurna maka jatah kolam lumpur harus stabil seperti dollar. Dalam praktek tidak ada pengeboran yang mempertahankan debit lumpur dengan konstan. Ada saja gangguannya seperti pompa rusak, atau ayakan terlalu padat dan perlu dikurangi bebannya sehingga para mudlogger macam kami harus bolak-balik mengecek posisi bubu gas.

Lalu diciptakan alat yang sambil mengocok lumpur tetap busa terapung macam gabus. Pekerjaan kami sedikit dibantu dan yang terpenting perusahaan minyak atau gas tidak perlu mengeluarkan biaya extra atas layanan super extra ini. Dalam keadaan lumpur kosong, alat gastrap kami kandas sampai dasar, namun begitu ada aliran lumpur, dia dengan anggunnya menari diatas penderitaan lumpur yang diinjaknya. Ada satu lagi yang tidak terlalu “signifikan’ bagi pihak lain, namun membuat hidup mudlogger sedikit lapang adalah alat ini digerakkan melulu dengan kekuatan udara sehingga jarang rusak seperti terjadi motor terbakar seperti yang terjadi pada alat penggerak listrik. Keuntungan lain, tidak terlalu menjadi isue keselamatan.

Dalam hal yang khusus, misalnya saat pengeboran menembus batuan reservoir maka gas yang kami analisa di lapangan harus disisakan untuk dianalisa lebih lanjut di laboratorium Amerika. Dalam hal pengiriman hanya diijinkan menggunakan pembungkus kardus yang telah diberikan perusahaan sebab telah mengalami uji sertifikasi kelayakan terbang.

Tabung aluminium dengan volume tak lebih 110 cc ini setelah dianalisa di tempat yang lebih canggih akan menghasilkan data seperti komposisi gas metana, etana, propana, iso butana, normal butana, iso pentana, normal pentana, C6+, nitrogen, Oxygen, Argon dan Carbon Dioksida.

Selang atau interval pengambilan contoh gas ini cukup sederhana. Misalnya awal mengebor, gas hanya disampling setiap 150meter. Maklum belum ditemui kandungan gas yang besar, kecuali kalau ada “shallow gas yang berbahaya”.

Lalu sekitar 200meter sebelum memasuki batuan reservoir, selang pengambilan diubah menjadi 50meter, sedangkan saat memasuki batuan reservoir selang menjadi 5meter.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “Periuk Nasi seorang MudLogger

  1. Goodie!!

    Nice and cool! pasti ini bagus bgt buat yang awam dalam mud log and tools.

    lanjutin aja

    lumayan buat yang akan masuk service company..ngga tau jadi makin berani atau malah mundur🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s