Posted in gaya hidup, keluarga

Gathering dengan keponakan, cucu dan adik-adik


Jleg pesawat Garuda mendarat di Bandara begitu beranjak dari urusan imigrasi menuju pengambilan bagasi kami sudah dipapak (hadang) oleh para portir. Selamat datang di Indonesia. Justru manusia berseragam abu-abu kebiruan inilah “maskot” Indonesia, sebab di negara lain macam Australia, Singapura sulit mendapatkan pelayanan seramah mereka.

Tapi kali ini penumpang Garuda sangat sepi sehingga walaupun rangsel saya cuma 8,5 kilogram (ada Komputer dan baterei) serta 9 kilogram tas kanvas tak urung saya panggil portir. Terbungkuk sang portier mengucapkan terimakasih kepada saya, dan keluarga yang menjemput saking senangnya mendapat tarikan hari ini.

Jleg kedua, daftar acara sudah dibacakan selama liburan.

Pertama keponakan, adik, ipar, cucu semua kepingin ketemu, makan siang bersama. Lia sudah meledek bapaknya melalui SMS, “aku bayangkan senyum papa selebar parit di jalan tol.”

Kalau sudah begini ada dua orang lain yang bergembira, mak Trio Kwek Kwek dan mak Har para tetangga bisa dimintai tolong tenaganya dan sebagai tambahan tambal butuh kehidupan mereka sehari-hari.

Sekalipun saya masih bingung menukar waktu kerja 12malam -12siang ke hari normal maka kedatangan mereka sudah menjadi jamu super kolesum bagi saya.

Maka inilah daftar keluarga saya.

Ini Giswa – gadis kecil, memanggil saya iyan (eyang). Lahir dengan kebocoran jantung membuat seluruh keluarga dibikin panik.

Beruntung masa kritis sudah dilalui tanpa harus melalui pisau bedah. Hobinya memencet Aqua sampai penuh dan tumpah, lalu membagikan kepada setiap hadirin. Kalau ada tamu, herannya semua minuman tamu dicicipinya satu persatu.

Keahlian lainnya memencet tilpun, atau remote televisi. Pengamatannya setajam kakeknya yang jago Inteligent dan anti teroris. Begitu melihat gambar saya kecil dan terpampang bertopi, dia hanya melihat senyum dalam gambar tersebut lalu teriak iyan -alias Eyang.

Tangan kecilnya sempat membuat kami prei (puasa) nontonTV satu bulan sebab entah bagaimana, remote control TV sudah pindah kedalam tas Lia yang saat itu sedang liburan di Indonesia.

Baru ngeh setelah Lia menilpun menemukan dua remote ada ditasnya. Kalau selesai difoto ia selalu ingin melihat hasilnya, ini juga gara-gara tantenya sering berpura-pura memotret sehingga ia terdidik baru percaya kalau sudah melihat hasilya.

Sebuah anugerah sekalipun bukan dari anak saya sendiri. Cucu yang membuat kakek neneknya deg-degan kalau mulai mendekati kipas angin. Kuatir tangan mungilnya masuk diantara sisi-sisi pelindung.

Lalu Ashraf, anak Amerika yang sedang belajar bahasa Indonesia ini favorit masakannya adalah sup kacang merah (red peanut), lalu daging tetelan pendeknya semua masakan budenya dilidahnya cuma enak dan enak tenan.

Ashraf menemukan mainan baru di rumah kami yaitu “back scratch” kayu penggaruk punggung.

Anak ini naik bobotnya tujuh kilogram setelah mengubah menu dari makan roti menjadi nasi.

Disekolahnya dikenal dengan olokan anak bule yang yang kagak bisa ke WC gara-gara kebelet ee namun berhadapan dengan kakus jongkok dan air satu bak dia menjadi kikuk. “I can handle it Maam” sambil megal-megol menahan kedutan dalam usus pembuangannya.

Kakaknya “Arwa” sempat mendebat gurunya ketika Arwa mengatakan bahwa ia menyimpan pakaian di “closet” – maka seisi kelas termasuk gurunya tertawa, “masak pakaian ditauh di kakus..”

Sia-sia Arwa (gambar belum dipasang) menjelaskan beda antara Closet (lemari) dan Water Closet (kakus) sebab sang pendidik bahasa Inggris enteng mengeles, “oh kamu pakai Inggris Amerika sih, kami disini pakai Inggris British.” – Ternyata menjadi guru juga harus belajar bisa menerima kritikan muridnya.

Haza, cewek gemuk yang legendaris ini ngamukan dan ngerusak. Kalau kemauannya tidak dituruti, mengamuk sejadinya. Tapi kalau moodnya sedang bagus, mulutnya nyerocos lucu.

Tetapi tidak usah dipermasalahan lebih lanjut sebab seperti kakak-kakaknya menjelang besar mereka menjadi penurut dan pendiam. Kalau dipikir-pikir sang bundanya (adik kandung saya) mudah teriak dan ngambekan juga.

Betul saja ketika muncul tokoh generasi dibawah Haza yang lebih “legendaris” mendadak sontak Haza menjadi sosok pengalah.

Kelemahannya sulit membuat hurup V dari telunjuk dan jari tengah, selalu yang terbentuk adalah Jari manis dengan kelingking. Dan itu sudah cukup membuatnya frustrasi. Apalagi ketika pakdenya menyuruh membuat tanda metal antara kelingking, telunjuk dan jempol untuk difoto.

Bakat penggosipnya muncul ketika kami kerumahnya, sementara sang ibu mengenakan kerudung, Haza berbisik “pakde kan mbak T sudah haid..

Dan ini the rising star terbaru kami, gadis Yusi Yusuf, kalau sudah menangis, mengamuk, pingin buka baju entah dipesta entah dipesawat dianggap sama saja. Keponakan yang tinggal di Wates (betul Wates) di Metro, Lampung Tengah dengan peradatannya sendiri. Kalau sudah bilang “Emoh (jw)” alias tidak, sulit membujuknya. Di Sumatera bagian Lampung Tengah, bahasa sehari-hari disana banyak digunakan Jawa. Jangan salah Wahai Orang Beriman.

Sekali tempo ia minta makanan yang dijual dalam bungkus bergambar ceria.

Bret” bungkus dibuka, begitu diberikan kepada Yusi, weladhalah bocah ini malahan gulung-koming menangis sekuat tulang tenggorokannya.

Hanya masalah sepele, dirumahnya bungkus makanan harus dipotong rapi, sejajar dengan gunting. Lha dirumah orang lain ya main sobek sesuai petunjuk.

Popcon “UT” yang dibawakan oleh Pakdenya dari Perth ternyata sangat disukainya. Bude dan Buliknya pada wanti-wanti nanti batuk lho kalau kebanyakan makan popcorn. Saya menjawab humor “urusan batuk itu orang tuanya,” urusan aku menghitung listrik naik gara-gara bolak balik bikin popcorn. Lha di Perth Popcor cuma 2menit10detik ternyata baru mbledoz di Bekasi setelah menik ke enam.

Mudah-mudahan dengan pernah ditulis masa kanak-kanaknya, mereka tidak kaget kelak kalau sudah dewasa mempunyai anak yang mirip. Maklum banyak orang tua sering belagak pilon, begitu melihat anaknya berkelakuan aneh biasanya saling menyalahkan orangtuanya.

Kami meledeknya “maklum anak way kambas” – Way Kambas adalah sekolah Gajah didaerah Lampung Tengah. Hobinya bersisir lalu minta pakde Miem memotret.

Masih ada keponakan lain dalam stok, namun saat pemotretan diambil mereka sedang sibuk bermain PS dan baru kumpul ketika pakdenya bercerita soal Laskar Pelangi dan Pak Ando penemu mi instan.

Mereka semua adalah buah hati kami. Pertemuan dengan generasi kecil ini selalu kami rindukan. Semoga kelak mereka dewasa, jejak orang tuanya bisa dicontoh. Lia sulung saya sekalipun terkesan judes, juga menjadi favorit keponakannya.

Satrio anak yang bungsu bahkan rela membobol tabungan pribadinya ketika salah satu istri temannya melahirkan dan tidak punya biaya untuk membeli susu.

Adik nomor 10 alias sang bontot. Menikah dengan Janggam Adytawarma. Sudah memiliki buntut Arwa, Tabina dan Ashraf.

Bakat melucu mirip saya. Satu-satu adik yang pandai melawak, menulis dengan baik. Pandai menirukan dialog ala Cina Kota, menyampaikan anekdot dengan cerita-cerita yang memerlukan ketrampilan dan sensitivitas humor yang tinggi.

Adik 10 (ikutan filem kungfu), sama sekali tidak bisa terima ayahnya menikah dengan Janda beranak banyak, bercucu, sangat lihai bersilat lidah.

Arwa sulungnya menurun memiliki kemampuan menulis yang perlu diperhitungkan bola dipupuk terus.

Dengan wajah penuhnya “tabembeng – Manado) adik nomor enam ini tergolong berhoki moncer. Motonya banyak anak banyak rejeki bisa dengan mudah digulirkan. Satu cita-citanya sang suami menjadi Jendral dan kalau diijinkan Kapolda. Lho cita-cita, usia dan kemampuan suaminya yang selalu nomor satu dikelas memungkinkan. Pasangan ini menimbulkan iri hati saya yang cita-citanya punya anak banyak sampai-sampai kalau panggil Titi keliru Toto, kalau mau panggil Sri keliru Adam, misalnya. Mereka sudah membukukan keluarga anak terbanyak. Mulai dari Ajeng, Sita, Dimas (alm), Tika, Bowo dan Haza. Penggemar karaoke dan selalu menyanyi dalam setiap kesempatan. Sampai sekarang putra-putrinya masih terbatas mendengarkan lagu sebanyak-banyaknya namun belum PD untuk maju kedepan organ dan menyanyi. Belum kelihatan ada yang memiliki otak secermelang ayahnya. Mungkin karena tidak diexploitasi.

Adik nomor Lima, tinggal di Baturaja, Sumatera Selatan. Mempunyai anak mulai dari Ogie, Merry dan Putri. Dialognya sudah full Baturaja. Sekali tempo saat sang istri berada di Surabaya, sang suami menilpunnya. Ketiga anak-anaknya selalu teratas dikelasnya. Dapat angka sembilan adalah bencana diomeli oleh ibunya.

Lalu untuk menunjukkan kangen lantaran istri berkumpul di Jakarta, sang suami bilang “Ai Lap yu” – kok boro-boro dia menjawab “lap yu tu” adik saya menukas “Ai kanjian nian kau” – ini bahasa Palembang “kamu kok genit..” – tetapi setidaknya sama-sama ber ai. Ai Lap yu dan Ai Kanji.

Lalu sang suami saat hendak mengobrol ngalor ngidul, lagi-lagi istri memotong “jangan lamo-lamo nilpun tu (ka)gek pulsa habis..” – saya terjemahkan “jangan lama-lama tilpun nanti pulsa habis.”

Akhirnya adik no 6 ini diomeli kakak-kakaknya sebab naga-naganya kok watak ibunda tercinta yang kurang romantis menurun deras disini.

Adik nomor enam tinggal di Wates, Metro, Lampung Utara. Dengan anak ZIdan, Adam dan Yusi. Kami menyebutnya ibu dengan usus lebih panjang dari dua belas jari.

Waktu mudanya terkenal mengalah terhadap adik maupun kakaknya. Setelah berkeluarga mengalah dengan kehendak sang suami dan anak-anaknya. Iya adalah potret ibu dengan judul “ya dan ya,” padahal dalam keluarga, satu-satunya wanita dalam keluarga kami yang lulus dengan gelar Dokteranda Bahasa Inggris.

Sang suami yang harus menyertakan gelar R (raden) didepannya sedikit unik yaitu merasa gerah manakala berada diantara ipar-ipar. Namun rada memaksakan agar istrinya betah manakala berada dikeluarganya.

Memaklumi peradatan sang suami, kami tidak pernah mempersoalkannya sebab kalau nurani belum mengajak berkumpul dipaksakanpun tidak ada manfaatnya. Sebab setiap ipar manapun akan merasa tidak terlalu nyaman berada dikelompok lain. Apalagi kalau sudah menggembol rasa minder diperutnya.

Masih ada adik-adik lain belum sempat saya muat. Maklum belum semua bisa berkumpul.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Gathering dengan keponakan, cucu dan adik-adik

Comments are closed.