Posted in buku, buku harian, memoir

Panas sehari – lupa kacang akan kulitnya


Memoir bekas pilot Saddam Husein ini di gelar di Perth dengan rabat 75% dari harga asalnya. Langsung saya sambar diantara deretan buku obral toko Borders – Perth Australia sekalipun sempat bingung dengan judul lain yang serupa misalnya Escape From Kabul yang menceritakan pengalaman para relawan Aid Worker tatkala kepegang kelompok Taliban di Kabul. Di pesawat GA731, kursi nomor 5C, saya mencoba menikmati jalannya cerita ketika seorang bapak mengaku lulusan Farmasi ITB dan isrinya yang baru menengok anaknya di Perth, meminta saya bergeser ke kursi dekat jendela.

Ceritanya tidak jauh berbeda dengan para manusia-manusia yang hidup disekitar Saddam, namun pengaruh dollar membuatnya mereka memburuk-burukkan sang manusia yang semula dianggap Juru Selamat mereka.

Lalu saya bandingan kok mirip dengan kehidupan Alm Soeharto yang setelah jatuh dari kekuasaannya hampir semua orang mengecam dan cuci tangan seakan-akan suksesnya selama ini adalah karena mereka berani “melawan kekuatan tirani.

Sebut saja pemuda Ali, saat meneruskan jurusan Ekonomi di Universitas Bagdad ia membaca di harian Al-Jumhooria bahwa angkatan udara Irak membutuhkan pemuda untuk dididik menjadi Kadet Penerbang dan dididik di sekolah penerbangan Oxford – Inggris. Sebuah standar ganda mirip kita, disatu pihak menceritakan Inggris, Amerika sebagai setan pengacau yang berkolaborasi dengan Israel untuk menghancurkan dunia dengan perilakunya, sementara dipihak lain – kita tersenyum manakala menggunakan produk negara “jahat” tersebut, bahkan termimpi-mimpi ingin bersekolah disana.

KAMU GAGAL, HIDUNGMU KEBESARAN

Ali dan ribuan pelamar hari itu sudah berada di depan rumah sakit Al Rasid untuk menjalankan test kesehatan THT – Telinga Hidung dan Tenggorokan. Sang dokter yang tugasnya hanya memeriksa kesehatan ketiga lubang tadi begitu menerima berkas Ali langsung membubuhkan tanda “gagal” sehingga pemuda pemalu ini bertanya “Dokter belum memeriksa saya mengapa sudah mengatakan gagal..”

Sebab batang hidungmu besar. Apakata orang Inggris kelak, dipikir Inggris Irak kekurangan manusia ganteng..

Ali sang pemalu kembali ke bangku kuliah ekonominya. Ia membesarkan hatinya bahwa hanya Ekonomi-lah di Irak yang tidak bisa diatur penguasa. Beberapa tahun setelah cita-cita menjadi pilot mulai tiarap, seorang sepupu yang telah menjadi pilot senior dan mengenal baik sang dokter anti hidung besar bersedia menjadi “backing.” – Begitu melihat Ali diantarkan oleh teman dekatnya sang dokter mulai tersenyum “hebat.. nampaknya bentuk hidungmu mengalami perubahan sekarang..” – dan hidung yang sejak semua tidak pernah disentuhpun tiba-tiba membuat dokter THT meluluskannya untuk test interview.

Pertanyaannya dalam wawancara tersebut sederhana “mengapa kamu ingin menjadi Pilot..” – maka dengan gusto (suka cita) – Ali menceritakan alasannya seperti “mengabdikan diri kepada kemajuan bangsa, dst” – yang sayangnya belum selesai ia berbuih menyelesaikan ceritanya, salah satu dari lima manusia berwajah batu menyelanya dengan pertanyaan lain “kamu dari suku mana?

Tentu saja Ali menceritakan bahwa ia satu kampung Tikrit dengan Saddam Hussein.

Dua minggu kemudian, namanya ternyata tidak lulus dalam test tersebut.

Dengan setengah gusar, Ali menemui kepala personalia untuk mendapatkan jawaban bahwa ia tidak diterima dengan alasan prestasi akademisnya sebagai anak ekonomi (non eksak) tidak cukup baik untuk menjadi pilot. Ali mendesak bahwa ia belum pernah diuji tertulis. Kepala personalia sekarang mengecapnya “tak sopan..” – maka sekali bertanya dua kesalahan dilampau Ali, “prestasi sekolah yang katanya tak pas, tingkah laku yang katanya tak sopan.”

Sebagai anggota Partai Baath, kebetulan saya ia mengenal baik pak Rawi seorang tokoh partai berengaruh.

Rawi pun dimintai tolong Ali untuk maju memohonkan pertimbangan agar diterima test berikutnya. Samaray, sang Manajer Personalia bahkan tidak mempersilahkan teman baiknya untuk duduk. Ia hanya mengatakan sebentar lagi ada test gelombang kedua, mungkin Ali bisa dipertimbangkan dengan kata lain “EGP” – emang gue pikirin.

Ali yang mendadak pemurung menimbulkan kecemasan sang ibu. Upaya menghiburnya dengan mengatakan bahwa hidup itu bukan menjadi pilot saja tak mampu membangkitkan gairahnya yang sudah pupus. Ia bahkan sudah ancang-ancang mengakhiri hidupnya ketika bibi Selwa berkunjung kerumahnya lalu saat mereka bercerita tentang masa sekolah mereka, disebutlah nama Sajidah, yang tidak berarti apa-apa bagi Ali.

Geledek baru saja terdengar dikepala Aki tatkala bibi Selwa mengatakan bahwa nama tersebut adalah Istri Saddam Hussen yang saat itu menjadi “Deputy Presiden” – namun orang sudah tahu, kekuasaannya melebihi sang presiden Bakir sendiri.

Bahkan setelah mereka menilpun Sajidah, Saddam Hussen akan menilpun Manager Personalia secara langsung. Saddam direncanakan akan menilpun Samaray pada jam delapan pagi.

Maka beberapa jam sebelumnya Ali sudah bersembunyi didepan rumah Samaray dan baru berani mengetuk pintu saat jarum jam menunjukkan beberapa menit melewati angka delapan. Setelah diperintahkan masuk, kelihatan sekali wajah Samaray nampak kesal melihatnya. Namun telinganya masih menempel pada hulu tilpun. Seseorang penting nampaknya memberikan perintah, nyata-nyata sang serigala galak macam Samaray berubah menjadi anak domba penakut didepan tilpun tersebut…

Disamping rasa kemenangan, Ali juga kuatir Samaray mendapat serangan jantung sebab suaranya terbata ketakutan “Yes Sir, Of Course Sir, Absolutely Sir, Consider it done sir..

Begitu tilpun diletakkan dengan dengan rasa hormat seperti hendak membongkok didepan tilpun itu sendiri, Samaray lalu menoleh kearah Ali dan kali ini ali merasa Sosok Saddam Hussen merasuk kedalam raganya sampai-sampai ia tak percaya pendengarannya sendir saat ia mendengar “Nak kamu punya koneksi “Sang Deputy” mengapa tidak bilang-bilang dari semula. Lalu ia menawarkan secangkir teh dan rokok cerutu.

Sebelum berpisah, Samaray masih berpesan agar Ali menyampaikan “yang baik-baik saja kepada sang Deputy.”

Selesai pertemuan dengan Samaray, sambil menarik napas lega Ali padahal bertemu dengan Sang Deputypun cuma sesekali di layar TV. Sejak itupun hidupnya berubah. Ali dikirim ke Oxford untuk sekolah menjadi pilot, menjadi CoPilot pesawat terbang pribadi Saddam Hussein dan akhirnya menjadi Pilot pribadi. Kariernya melampau para senior lainnya.

Saat masih menjadi copilot dia menyadari bahwa First Lady Sajilah Saddam ada didalam pesawat Boeing747, tiba-tiba dia nekad melewati beberapa pengawal (pilot dilarang keruang penumpang saat membawa rombongan presiden, ancamannya langsung diinterogasi Mukhabarat, Bakinnya Iraq), ia mengucapkan terimakasih pernah ditolong oleh First Lady. bayangkan anak ekonomi, nggak lulus, bisa jadi pilot presiden.

Setelah pesawat mendarat, ia dihadiahi jam tangan bergambar Saddam berkumis dengan ujung jarum dan waktu bertahtakan berlian.

Namun mengapa ia tega menghianati sang Juru Penolong, apa betul hanya gara-gara “sebuah Visi” yang kerap muncul didepan matanya melihat seorang tua seusia satu abad, nampak keberatan dibebani dosanya ? – silakan baca bukunya.

Judul buku “Farewell Brave Babylon” – Ali Al-Wahabi, bekas pilot pesawat Pribadi Saddam Hussein yang membelot ke Inggris.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s