Posted in bekasi, patung

Kesatria “Naga Bonar” dari Cilangkap yang kesepian


Patung berkuda

Kalau anda berada di jalan Tol dari arah Taman Mini menuju Cikunir maka sekitar 500 meter sebelum mencapai pintu keluar jalan Hankam Bekasi (Jatiwarna) akan ditemui patung orang berpakaian militer ala jaman penjajahan Jepang tahun 45-an.

Kalau masih sulit membayangkan pakaian ala KenPetai (polisi rahasia ala jepang), bolehlah melirik ke filem komedi satir – Naga Bonar 1 yang dibintangi oleh Dedy Mizwar.

Karena tidak ada penjelasan mengenai patung ini, perkiraan saya bisa jadi patung Pak Dirman dalam versi lain mengingat patung berkuda dijepit diantara jalan berbau militer komplek Cilangkap dan Jalan Hankam.

Sangat disayangkan patung demikian expresif menjadi mubazir karena tidak terurus juga tidak ada keterangan mengenai jatidiri patung.

Beberapa pihak malahan berspekulasi dulunya ada usaha tanaman hias dan patung lalu pindah dan meninggalkan patungnya karena terlalu berat untuk dibawa.

setengah km setelah patung \Pertama Patung sekarang seperti tenggelam dilevel dasar jalan tol, hilang keperkasaannya. Lalu jamur yang memenuhi tubuh kuda dan penunggangnya sama lebatnya dengan tanaman liar tumbuh subur disekitarnya.

Akhirya kesatria berkuda kita terkesan bingung karena ada jalan tol memotong perjalannya. Atau seperti kata pak Sri, bingung lantaran hanya Kuda dari Mitshubishi yang boleh menggunakan jalan Tol sementara kuda aselinya dilarang.

Lengkaplah sudah kehebatan kita,satria berkuda setelah membangun sesuatu yang serba besar dan hebat, kita langsung lumpuh dan tidak mampu memeliharanya.

Kalau saya mencatat sudah memasuki tahun ke empat memanfaatkan ruas jalan ini (2008), maka usia patung tersebut tentunya jauh lebih lama lagi.

Semoga pihak-pihak terkait dapat memberikan perhatian atas nasib patung pahlawan tersebut.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Kesatria “Naga Bonar” dari Cilangkap yang kesepian

  1. Dari Silvi Anhar: Sabtu, 21-06-2008 14:19:29 oleh: silvi

    pak dhe, kayaknya di negara ini kalo membuat sesuatu yg wah, cepet.. tapi urusan pelihara.. wah nanti ya🙂

    Sabtu, 21-06-2008 17:02:55 oleh: GUS WAI

    Tunggu nanti setelah ada “proyek” buat memelihara, nah baru tuh ada yang rajin sekali memelihara.

    Tetapi, jangan khawatir, setelah tulisan Pak Mimbar dipublikasikan, tunggu saja, ada 2 kemungkinan.
    Patung itu lenyap digondol kolektor, atau tiba2 mendapat tempat terhormat di Bekasi.

    Like

  2. Pak Sri: Tapi melihat fotonya kesannya malahan menjadi natural gitu lho Mas …. Si penunggang kuda memang kelihatan bingung karena kok malah terjebak di kebun pisang … bingung untuk mencari jalan keluar …. Atau lakone (anak mudanya … istilah Medan) tersebut sedang kelaparan sehingga dari medan perang njrantal masuk kekebun pisang …. ee.. siapa tahu ada buah pisang yang udah masak yang bisa untuk ngganjal perut ….. :-))

    Like

  3. Pak Sri: Tapi melihat fotonya kesannya malahan menjadi natural gitu lho Mas …. Si penunggang kuda memang kelihatan bingung karena kok malah terjebak di kebun pisang … bingung untuk mencari jalan keluar …. Atau lakone (anak mudanya … istilah Medan) tersebut sedang kelaparan sehingga dari medan perang njrantal masuk kekebun pisang …. ee.. siapa tahu ada buah pisang yang udah masak yang bisa untuk ngganjal perut ….. :-))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s