Posted in gaya hidup

Ke Jakarta aku harus kembali


Semenjak keluar dari perusahaan yang lama Geoservices Perancis pada Juli 2004, maka sebulan kemudian sejak 21 Agustus 2004 saya mulai bekerja di perusahaan baru yang sebetulnya pemain lama. Sejak itu sebagai orang lapangan di rig pengeboran jadwal kerja adalah selama sebulan di Rig dan berlibur penuh selama sebulan namun tetap digaji.

Sengaja kata-kata digaji saya berikan penekanan mengingat beberapa teman selalu bertanya bahwa bekerja di Singapura hanya dibayar kalau kita bekerja dan nol puthul (kosong-kosong) alias tidak dibayar saat kita berada di rumah. 

Empat tahun lamanya saya hidup di kapal bernama Ocean Bounty, tak terhitung client yang kami ikuti mulai dari Coogee, ENI, Conoco Phillips, Hardman, Santos, Chevron , Woodside dengan pelbagai sistem yang selalu berubah-ubah.

Saya dengan bangga mengaku menjadi TKI. Sekali tempo dipesawat ketemu pasangan senior asal Tegal, lalu kepada suaminya saya bilang di Perth jadi TKI. Sang suami cerita bahwa – ia dari Kimia ITB lalu menjenguk anak perempuannya beranak empat lalu ditinggal kabur oleh suaminya sehingga sang orang tua kelabakan membantu anak perempuannya yang sedang depresi.

Mendadak sang istri duduk disebelah suaminya langsung menukas tegas dan ketus “dari pada menjadi pembantu, kenapa bapak tidak menjadi Supir saja di Perth, gajinya lebih besar ketimbang jadi pembantu.” – Saya lihat  sang suami mencoba menetralisir dengan mengatakan bahwa bapak ini (saya) bekerja di Pertambangan, Untung saja tidak ada tambahan sang istri “iya tapi kan jadi Pembantu Rumah Tangga di Pertambangan..”

Mata saya semula melihat ibu ini seperti penjelmaannya Ade Irawan, sekarang balik berubah menjadi encim penjual tahu. Duh gusti kenapa saya cepat sekali berubah pikir.

Mak jegagik mendadak , Rabu 18 Juni 08, ada email dari Australia mengajak temuan di kantor Cilandak – Jakarta . Sayapun memenuhi undangan tersebut, disebuah gedung lantai 6, tanpa bertanya apa saya setuju, langsung pekerjaan managerial diberikan kepada saya. Tentu dengan iming-iming ini dan itu, tapi biasanya saya masukkan kekuping kanan lantas keluar ke kanan lagi.

Pasalnya saya sudah kapok, saat mereka butuhkan kemampuan saya dengan tingkat kesukaran bak mendirikan benang basah, aku dielus macam ayam jago siap bertarung. Istilahnya dijamoni (diberi jamu), diurut, dibombong (timang-timang). Sekali badai sudah berlalu, orang yang saya percayai pun menggunakan teknik kuno Shun Tsu, “eluslah pagar jembatan agar meniti sungai dengan selamat,” – tapi begitu sampai ditepian hancurkan jembatan dan jangan berfikir untuk kembali.

Celakanya, atau sudah apesnya, saya masih merasa tukang bergurau sayangnya rekanan, sohib, guru, kakak saya melihat saya sebagai jembatan dan ditangannya sudah tergenggam dinamit dengan sumbu menyala. Singkatnya saya sudah menjadi pesaing yang berbahaya.

Dan suara-suara minor yang dari semua mengecam  saya “kok mau-maunya dijadikan jembatan” pada berteriak gumbira (pakai U)  sambil menilpun “apa aku bilang. Once Chinese always chinese” – maksudanya orang tidak akan pernah berubah wataknya. Yang berubah adalah kepura-puraannya.

Lalu saya meninggalkan dunia penuh politik Shin Tsu, masuk pertapaan ala Rig. bekerja, makan, dapat upah, liburan dan pulang kerumah selama 1x24x7x30 tanpa ada tilpun, email, atau tekanan lainnya. Australialah tempat saya bertapa. Ada lowongan kerja manajerial saya tak pernah beranjak.

Tapi, garis hidup sulit ditembus oleh mata bathin saya.

Ternyata kantor menempatkan saya ke posisi semula, sekalipun saat ini saya masih nebeng tempat disana sini mengganggu mbak Rita sang sekretaris Senior dengan pertanyaan dimana ada ruang kosong, tetapi setidaknya saya harus siap bekerja dan menerima panggilan 24jam.

Dan orang Rig Ocean Bounty akan kehilangan pemandangan pria gemuk theklak-thekluk berjalan perlahan di lapangan helo (kopter), entah jam dua siang saat matahari terik atau jam dua pagi saat angin malam bergembus dengan kerasnya.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Ke Jakarta aku harus kembali

  1. ya…begitulah hidup. Bapak yang sudah theklak-thekluk tapi pasti masih harus berkelahi dimana sebagian orang seusia bapak (atau om saya) sudah ‘leren’ timang-timang cucu atau menanti mentari pagi sambil ngopi sama istri. Namun itu kebanggan yang orang lain tak mampu melakukannya. Saya yang masih seperempat abad lebih masih harus mencari celah dan jalan tercepat untuk bekerja di tengah laut. Yang tentunya masih butuh banyak perkelahian hidup yang sangat keras.
    Namun selama menjalani hidup enjoy yakinlah bahwa di posisi apapun, tugas apapun, gaji berapapun kita akan tetap bahagia. Kayak iklannya itu lho ” enjoy aja..”

    Like

  2. Nama saya rudolf. Saya sangat suka sekali dengan tulisan2 bapak, gaya menulis yang lugas, tegas dan mengupas didukung pengalaman yang cukup banyak dapat menginspirasi generasi muda untuk dapat ‘sesuatu’ dari semua tulisan bapak. Sekali lagi saya ucapkan salut dan sukses terus. Terus menulis dan berbagi pengalaman.terima kasih atas inspirasinya. Semoga saya bisa ketemu dengan bapak dan bisa mendengar langsung cerita dari semua pengalaman yang bapak tulis.

    Like

  3. pak dhe…mbok ya jangan pake “kuning”, bukan anti parpol tertentu…cuma mataku sakit nggak kebaca tulisan suhu di atas itu…

    Kenapa ke Jakarta hayo….kenapa nggak salah satu kota di Sumatera atau di Jawa lainnya? (Satu lagi pertanyaan iseng..he…he..he…maklum kan Jakarta sudah 481 tahun…nggak takut kelelep nantinya? Siapa tahu El Nino dan La Nina ngamuk gitu….)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s