Posted in gaya hidup

Membajak Tanaman


Banyak dari kita yang hobi akan tanaman hias sehingga rela menerobos jauh ke kampung, mencari tanaman koleksinya, rela membuang waktu, mengeluarkan sejumlah biaya yang bagi orang lain adalah gila-gilaan.Belum lagi saat orang lain tertidur jam dua dinihari penggemar tanaman masih berkutat dengan kesayangannya. Tangan tertusuk duri, kadang terluka oleh parang saat menebang tanaman pengganggu seperti tidak menyurutkan langkah mereka.

Kadang pergi ke luar negeri yang diselundupkan adalah tanaman ketimbang beli keperluan lain yang biasanya disukai para ibu. Alasannya “tanamannya memang sama tetapi kenapa yang dari luar negeri daunnya mengecoh seperti terbuat dari plastik..

Namun belakangan ini saya melihat trend terutama para “ibu-ibu arisan” saya simplifikasi kalau melihat tanaman bagus terlontar kekagumannya dan berahir dengan ujung “aku dibagi dong anakannya.

Ada yang memang sukses membesarkan tanaman tersebut dan membagi-bagikan lagi kepada teman-teman berikutnya namun tak jarang – bertandang kembali dan “minta dong anakannya, yang kemarin dikasih ternate mati..” – sederhana seperti melihat laron yang berjuta-juta mendadak terkapar di lantai tak berdaya.

Saya terkadang bergurau kepada, terutama, istri saya – bahwa apakah ketika kamu menyirami tanamanmu lalu muncul puring, gelombang cinta, kupu papua, bunga cucakrawa, kantong semar adenium dari tanah ke permukaan secara gratis dan ajaib?.

Jawabannya tentu saja tidak. Namun pokok pembahasan adalah mengapa setiap kali sejenis tanaman hias meledak dipasaran, usianya hanya singkat dan dipandang seperti kelas rakyat jelata.

Saya pikir disebabkan kebiasan kita melipat gandakan tanaman dan memberikannya kepada sahabat, tamu yang sejatinya mampu membeli dari koceknya.

Pertama agar lebih menjiwai susah payahnya memelihara tanaman dan yang kedua agar petani tanaman hias agar hidup lebih baik ketimbang berharap dari jual pupuk, media yang terkadang kita lebih suka membelinya di toko-toko besar.

Saya kadang membaca artikel soal obat alternative atau tanaman obat.

Bisa dipastikan tidak lama kemudian ada response pembaca yang minta dikirim gratis ke tempat tinggalnya yang berlainan kota, kadang berlainan pulau.

Banyak kerabat, misalnya sakit mendatangi dokter yang masih famili. Apabila sang dokter hanya memberikan resep, mereka biasanya ngedumel dibelakang. “Mana sembuh sakit hanya dikasih resep, mengapa tidak obatnya sekalian…” – profesi dokter, dukun, tukang pijat ternyata hanya berlaku kepada orang lain. Saat jatuh kepada famili sendiri, tidak ada uang lelah terlibat semua seperti sudah standar “perdeo.”.

Sebuah persahabatn dikabarkan retak ketika seorang juru kue menolak menuliskan resep rahasia penganan buatannya yang memang lezat.

Ibu tukang kue memang menggantungkan hidupnya dari berjualan kue. Lalu kalau resep “rahasianya” diberikan kepada pihak lain yang dikemudian hari dipancar luaskan kepada pihak lain, maka kelompok yang menderita adalah ibu kue pertama.

Kadang kalau sudah begini saya menoleh kepada teman-teman saya yang memiliki darah Putri Gurun Gobi bahwa, tidak boleh barang berharga diberikan begitu saja tanpa ada “mas kawin” – karena istilah mereka “tidak hoki, kalau ilmu tidak tajam , kalau pengobatan tidak manjur.” sepintas kelihatan “matre” – namun diperpanjangan hari adalah sikap apresiasi terhadap keahlian seseorang.

Sekali waktu kami mengadakan rapat di rumah. Banyak sekali penganan lezat berdatangan, lalu ada celetukan “makanannya enak dan gratis soalnya dikasih oleh si XXXX, – sebuah nama disebut”

Saya hanya tersenyum saja mengiyakan. Namun tak dinyana istri menjadi sewot “mau lihat rekeningnya? – giliran guwe emang gratis, tapi belum tentu orang lain kepada aku..

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Membajak Tanaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s