Posted in gaya hidup

Hanya kepadamu saya memohon


Kriiing, hp saya berbunyi nyaring. Saya berada ditengah perjamuan sebuah ulang tahun seorang kerabat.

Jujur saja secara pribadi saya banyak berseberangan cara pandang dengannya. Saya adalah kelompok takut salah yang selalu memegang azas sebisanya jangan melanggar peraturan sekecil apapun.

Sementara kerabat yang berulang tahun punya “hobby” menerabas daerah abu-abu atau merah sekalipun sebagai cara membangun “adrenalin” dan membuktikan bahwa “ia bukan orang biasa-biasa saja.”

Gampangnya sebuah contoh, kesukaannya menerobos jalur busway atau three in one menurut saya sudah final dan tidak boleh dicoba-coba. Namun kerabat (yang memang sangat berhasil dalam materi), mendapatkan kegembiraan menyuruh supirnya menerobos jalur larangan. Nanti kalau ditindak petugas dia seperti kesetanan kalau dari mulutnya keluar sederetan nama orang gede atau penguasa.  Pemilu ini dia akan terlibat dalam kancah politik, masuk kapal sebuah bendera yang pernah besar di Indonesia berpuluh-puluh tahun.

Celakanya lagi dimata keluarganya  ia adalah manusia paling hebat dan terhormat sehingga tidak ada secuil perbuatannnya yang kurang sreg. Semua serba betul dan bagus. Keluarga menjadikannya ia anak emas yang tidak tersentuh oleh kesalahan sama sekali.

Aha jadi menyimpang…. Tapi memang buku harian isinya harus pertentangan bathin buka.

Sumpit tulang yang saya pegang  di sebuah restoran lantai 8 di kawasan Sudirman segera saya letakkan. Padahal kailan sapi yang empuk sudah hampir saya jepit. Kalau bukan kerabat saya yang kaya ini, entah kapan saya menikmati hidangan super mewah.

Kepada pihak yang berulang tahun saya beri isyarat bahwa ada tilpun masuk pada malam hari, biasanya urusan keluarga.  Kerabat yang mengelilingi meja bundar pada mengecilkan suaranya.

Nomor saya lihat yang kurang familiar, nampaknya dari salah satu kota di Jawa Tengah. Ternyata dari Yogyakarta. Di ujung saja, seorang ibu yang biasa saya panggil bude, termasuk yang membesarkan saya mulai dari tangsi polisi perintis Pingit – Yogya,  memang saya hormati dari ujung kaki sampai ujung kepala menilpun dengan suara lembutnya. “Tolong, anak saya disisipkan sebagai pekerja – apa saja asal dia bekerja..

Hati saya terasa ditusuk, suara diujung tilpun adalah orang yang kerap menolong saya, namun belum pernah saya membalas kebaikannya. Sekarang ketika ia minta pertolongan hanya demi anaknya yang seharusnya pintar karena lulusan universitas terkenal dengan angka kelulusan terbaik, malahan seperti orang patah sayap. Sepupu saya adalah korban ambisi seorang ahli matematika, jenius, yang kurang membumi sehingga meninggalkan luka ribuan orang menjadi pengangguran.

Sehari sebelumnya, kejadiannnya di rumah. Pagi-pagi seorang ibu sudah mendatangi saya dirumah sambil membawa putranya. Ketika saya mengajari sang anak cara menulis biodata dalam bahasa Inggris, dipojok sana ia meneteskan air mata, katanya trenyuh kok saya mau membantu anaknya.

Belum lagi ada himbauan dan email dari teman-teman dari teman senasib agar putra kesayangannya bisa bergabung dengan perusahaan kami. Saya bisa merasakannya sebab Satrio pun bisa jadi akan memposisikan saya seperti kerabat-kerabat tadi.

Rasanya sih sebuah kebanggaan bahwa orang lain kok bisa memandang hidup saya itu wah..wah, padahal hakekatnya aku kan seorang kuli pengeboran.

Sedihnya…

Saya sendiri tidak mungkin membantu mereka sebab rata-rata mereka memiliki keahlian yang diluar yang kami perlukan. Paling saya hanya bisa menampung biodata yang sudah saya revisi, untuk diberikan kepada bagian kepegawaian sebab mereka sendiri sedang mencari pekerja baru.

Saya memang takjub kepada pada pelamar, mereka rata-rata sudah siap lahir bathin untuk “fight” dalam arena mencari kerja. Agak kecut juga saya ketika melihat sarjana kita yang mencari kerja serba “ragu” kurang “PD” – sehingga dengan sedikit malu lalu meminta bantuan melalui orang tuanya. Saya yakin mungkin kulit wajah para lulusan tersebut sudah menebal beberama mm, tetapi keadaan memaksa.

Kadang untuk mencairkan suasana bagi para bapak dan ibu yang sedikit menekan, saya bergurau garing “kalau lowongan kerja banyak, tetapi lowongan yang membayar tenaga kerja yang tidak banyak…

Posted in gaya hidup, oil rig

Manajemen Warung Tegal


Bagaimana tidak, awal Juli harusnya saya ngepak-ngepak alias menimbun barang kebutuhan untuk berangkat ke Rig Lepas Pantai Australia, mendadak dipanggil harus mengurus dua proyek pengeboran sekaligus di Jakarta. Sudah hampir sebulan ini saya menjadi manajer warung tegal.

Seorang manajer di filem-filem kerjanya hanya duduk, bertengkar dengan saingannya kadang dengan ayahnya, namun sukses berat. Sementara saya masih seperti kucing beranak, hari ini dipojok utara, besok dipojok selatan, lusa di pusat.

Orang Palembang menamakan “KABAG merangkap KASI” – bukan singkatan Kepala Bagian atau Kepala Seksi yang moncer itu melainkan (katik bagian merangkap katik kursi). Katik=tidak punya.
Bahkan Laptop yang layarnya sudah seperti kapal kertas kelebu di air masih juga saya pakai. Sebab penggantinya belum kunjung datang juga.

Lalu mulai kesibukan membuat rencana impor barang (RIB), yang lucunya kontrak belum selesai dibuat saya sudah ditodong “mana draft Master List” – alias Packing List. Harus selesai “sekarang juga” – padahal seyogyanya, master list importasi barang baru dibuat setelah kontrak yang disepakati ditandatangani.

Lalu seperti biasa keluarlah kata-kata mutiara bahwa mengurus selembar surat ini akan melewati beberapa pintu – alias birokrasi alias – prosedurnya lama.  Dan kalau mau serba cepat tentu ada resepnya yang ehem-ehem. kalau seorang pegawai sudah melihat dirinya “bukan” bagian dari perusahaan itu sendiri, atau kasarnya sudah membelah jiwanya menjadi dua. Satu belahan jiwa “makan gaji” diperusahaan tempat ia bekerja, belahan kedua sebagai “calo” yang mencoba menghalangi kinerja kerja perusahaan sendiri agar menjadi lambat dan saat itulah ia “masuk sebagai oli” mempercepat jalannya operasi yang seret.

Layaknya orang baru, saya selalu berkonsultasi dengan para senior kantor. Dan pandangan heran selalu saya jumpai yaitu “anda dari divisi mana?” – yang membutuhkan penjelasan panjang kali lebar kali tinggi.

Tugas lain adalah melakukan recruitment pekerja baru.

Mulailah pekerjaan saya mencari para MatLoger berpengalaman yang kepingin mengembangkan karirnya di perusahaan saya. Bahasa kasar dari “mencari para matloger berpengalaman” lebih baik diterjemahkan sebagai “pembajakan..”

Sisi terangnya – Inilah saatnya mereka menaikkan tariff bonus dan gaji bulanannya.

Bayangkan, seandainya perusahaan saya mengiming-imingi seperempat gaji dan bonus lebih besar dari yang ia dapatkan sekarang, lalu “data” ini ditawarkan ke perusahaan mereka dengan gaya “menodong” – “bos aku ditawari segini nih, berani menaikkan gaji saya, saya tetap loyal.”

Secara teori, para matlogger berpengalaman bisa menangguk hampir separuh gajih mereka.

Selalu ada rasa “exiting” – kata selebritis Anang yang seharusnya adalah “Exited” manakala melihat biodata para pelamar. Puluhan tahun saya melakukan yang sama, selalu saja indera saya tidak bisa selalu tepat. Anak yang nampaknya “cegukan” kalau berbicara didepan tim penguji, ternyata dibelakang hari menjadi personel birokrasi yang hebat.

Yang nampaknya pintar dan trengginas, dikemudian hari sekedar menjadi pegawai biasa-biasa saja.

Kadang biodata mereka saya minta diperbaiki, agar nampak lebih “jozz” – beberapa mengikuti nasehat saya, namun ada juga yang bergeming alot.

Lalu saya tak lupa menanyakan bagaimana bahasa Inggris mereka. Selalu jawabnya “cukupanlah” – padahal saya tahu bahwa bahasa Inggris selalu saja merupakan sandungan bagi pelamar, sekalipun mereka sudah bekerja di lingkungan perminyakan cukup lama.

Ada yang kelewat percaya diri “pak kalau soal bahasa Inggris -saya tidak akan mengecawakan, saya lalap habis..” – ada yang menggunakan email address terkesan ndagel atau mencerminkan putra daerah serambi Warnet. Biasanya mereka saya berikan teguran, namun tetap saja lamarannnya saya proses. Indonesia membutuhkan anak-anak yang “sedikit bengal ini..”

Tapi masih ada sisi gelap, “yang mau cari kerja banyak, yang mau bayar sedikit!” – alias saya tidak bisa main cap-cip-cup ambil pekerja lalu menawari gajih sekian. Ada birokrasi kantor yang tidak boleh saya lampaui.

Sebagai contoh, untuk menerima karyawan saya harus membuka Intranet kami, minta ijin membuka saluran (loggin dan password) – sampai tulisan ini naik, permintaan saya ditolak lantaran pangkat saya masih belum cukup tinggi untuk melakukan recruitment.

Hari yang dinantikan datang. Para pelamar terpaksa dibagi karena keterbatasan tempat dan dengan menyesal, para sarjana baru terpaksa ditunda penerimaannya sambil menunggu prosedur birokrasi selesai. Rasanya saya sendiri yang mengalami kekecewaan akibat pemberitahuan “last minutes.” .

Betul saja, sekalipun saya sudah melucu, memberikan pengertian kepada mereka, tetap saja banyak peserta ‘”demam panggung wawancara” – Cirinya adalah kalau sang interviewer mulai mengambil alih percakapan dan yang ditanya berjuang untuk menjawab “yas,yes,” mengangguk-angguk. Beberapa pertanyaan dasar seperti “ho do you know we have a recruitment” – Barangkali kalau dipindahkan dalam bahasa tertulis, pelamar akan mudah menjawabnya. Tapi karena diucapkan secara cepat, maka tak jarang jawaban dengan menganggukkan kepala atau “yes”. Dalam hati saya berdoa semoga mereka bernasib sesukses KD muda – yang saat di Asia Bagus hanya bisa menjawab Yes dan Insya Allah sambil mengangguk namun akhirnya menjadi orang popular Indonesia.

Palamar satu persatu dibaca CV-nya dan ada yang membuat CV seperti mengajak “jethungan” alias petak umpet.

Di alenia pertama menyebut lulusan SD dan SMA (yang sebetulnya tidak perlu), ditengah-tengah mereka baru memasukkan pekerjaan terakhir. Yang dibutuhkan adalah pendidikan saya Geoscience atau Petroleum Engineer. Lalu kalau pernah bekerja di Offshore atau Onshore semua dituliskan dengan mengikuti aturan paling muda berada diurutan teratas.

Mudah-mudahan dengan tulisan ini para pelamar lebih mengasah bahasa Inggrisnya dan mengelus -elus Biodatanya. Sebab itulah modal utama mereka.

Posted in gaya hidup, singapura

Panadol Atas Atau Panadol Bawah


Seminggu saya berada di Yard kawasan Tuas, Singapore. Hujan kadang turun. Panas sering menyengat. Namanya komplek industri jauh diujung negeri maka makanan yang paling gampang tersedia dan dibelikan oleh Hwang seorang teknisi asal Malaysia adalah nasi Lemak.Biasanya Hwang menunggang motornya special membawakan nasi bungkus ke kantin terdekat. Menunya tak jauh dari gulai “kepak” alias zwiwi, lalu fish meat ball – alias bakso ikan, kadang ada tambahan semangka.

Di hajar panas dingin panas dingin, kendari malamnya masih harus menemani Lia sulung saya mencari durian Sultan, XO, Red Prawn, maka praktis masuk hotel jam 01-an dan jam lima sudah harus terbangun.

Lama-lama tenggorokan terasa panas dan kepala mulai sedut senut.

Lalu saya minta kepada Lia putri saya yang selalu berkunjung selepas ulang kantor, sebutir Panadol. Kok jawabannya terdengar aneh “Panadol Atas atau Panadol Bawah.”

Ketika dia menjelaskan artinya Panadol Bawah, maka keprucutlah istilah Citayam “Bujug Buneng” – tanda keheranan. Pertama pertanyaan itu sendiri. Usut punya usut, panadol atas memang untuk menghilangkan nyeri bagian atas alias kepala, sementara panadol bawah untuk nyeri bagian bawah yang biasanya menyertai menstruasi. Nah keheranan saya kali ini Lia mengapa ikutan bapaknya mulai beranekdot.

Posted in gaya hidup

GPS


Namanya anak-anak, apalagi bungsu saya sekalipun badannya jauh lebih besar dari bapaknya, tetap saja kami perlakukan seperti anak kecil. Belakangan dia ribut mau ke Sukabumi dalam rangka kegiatan perpetaan di sekolahnya.

Yang tidak saya sangka dia perlu GPS untuk pemetaan. Padahal jaman kami dulu sekedar Teodolit, Daftar Logaritma, pensil dan kertas, selesai sekalipun sekolah saya tidak selesai keburu ditawari kerja oleh sohib-sohib saya.

Lalu perburuanpun dimulai. Layaknya anak militer, maka rencana cadangan adalah andai GPS tidak diperoleh maka hp saya, bapaknya yang memang dilengkapi dengan GPS akan dipinjam sekalipun mungkin lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya.

Menimbang HP tidak didesign sebagai alat keluar masuk hutan yang sedang musim hujan. Atau dengan bahasa lugas, kalau mau memotret, beli kamera, bukan pakai kamera HP sebab selain mahal hasilnya dibawah standar. Apapun kata iklannya.

Tentu saja saya juga memanfaatkan milis sebagai sarana cari tahu sebab para kataman dan khatamawati soal GPS berjibun disini. Satu persatu tulisan masuk, beberapa alamat diberikan baik yang online maupun offline. Bahkan beberapa artikel panjang lebar dikirimkan ke milis yang saya asuh.

Intinya kalau sewa jatuhnya mahal dan jarang tersedia. Maksudnya begini, kalau sewa per bulan minimal 1 juta, kalau beli sekitar 1-2 juta. Kalau sewa lalu rusak atau hilang maka sudah jatuh GPS ketimpa tangga bayar ganti rugi pesawat.

Tetapi untuk mendidik anak, saya biarkan dia kelimpungan cari GPS. Mula-mula dengan langkah tegap dia bilang teman-temannya punya koneksi bisa pinjam GPS sampai tipe Colorado yang kumplit plit. Tetapi dua hari berlalu, mukanya seperti tentara “kepala lele” habis berendam di rawa menjalankan latihan pengintaian. Lesu.

Satu pembelajaran yang belum juga diresapinya, rumahnya boleh jadi bertahun-tahun tempat menginap teman-temannya, tidur dengan AC sepanjang mereka mau, ada fasilitas PS, computer dengan internet terhubung, plus makan, bahkan ada yang minta dibelikan rokok sekalipun anak saya tidak merokok, boleh menggunakan mobil bapaknya yang sekedar kuli minyak. Tidak jarang Satrio pulang dengan muka bengap – rupanya habis berkelahi dan selalu karena membela teman-temannya.

Saya sengaja menulis “sekedar kuli minyak,” sebab ada orang tua temannya yang sekali waktu tahu kerja ayah adalah – MudLogger – spontan wajahnya menunjukkan sikap meremehkan. Saya bisanya menenangkannnya dengan kata-kata jadul “Low Profile Job but High Profit.”

Namun saat keadaan dibalik dimana seharusnya ia bekerja sama dengan teman-temannya, Satrio seperti satu mahluk dari ruang angkasa. Lantas mana teman-teman yang ayahnya High Profile Job tadi. Ngacir.

Dan manakala kami menyentil soal pertemanan dengan azas “win win solution” – wajahnya menunjukkan tidak suka. Tapi kalau nanti pakai uang keringatnya sendiri, barangkali cerita akan lain.

Sebagai bapak, saya juga diam diam cari tahu. Di Bandung. Jakarta persewaan mematok 1 juta per bulan, pakai garansi dan setelah dicecar – jawabannya “barang sedang tidak tersedia…”

Lalu mulai saya tilpun beberapa toko maya dengan pajangan gede “On The Stock” disertai harganya. Kalau mau beli tinggal dimasukkan trolley. Semudah ABC – kata orang bule.

Dapat beberapa merek, saya mencoba menghubungi bagian penjualan. Drama mulai digelar sebab kalau ditegesin para sales terbatuk-batuk “tunggu pak” sambil tak lupa meminta nomor HP saya. Realitanya – ewes-ewes, hilang beritanya.

Setelah menunggu dua jam saya tilpun kembali dan celakanya selalu menanyakan “PIC” alias nama personal in charge yang melayani saya pertama kali. Celaka tambahan sekalipun kuping saya “antene pendek” ketika CSO menyebut namanya. Paling jelas adalah “ada yang bisa saya bantu..”

Sambil menunggu “barang dicek digudang” – saya tidak lelah mencari informasi lain. Dan masukan dari teman-teman sangat berharga sekali.

Tiba-tiba SMS mendenging, “tipe yang bapak cari tidak ada, bagaimana tipe yang lain dan sedikit lebih mahal.”

Saya sudah tidak main berhitung, pokoknya saya jawab via SMS “boleh, saya beli satu…:”

Namun pesan singkat saya “bagaimana cara saya memperoleh GPS?,” berbuah jawaban diluar dugaan “GPS sudah built in dalam alat tersebut.”

Herannya saya oknum penjual tidak pernah menjawab panggilan suara, tetapi sigap kalau ber SMS. Taktik saya ubah dengan mengatakan bahw saya ada di Cilandak, Jakarta Selatan. Lalu panggilan berikutnya kami saling tele wicara.

Salah satu pertanyaannya adalah “kapan GPS dibutuhkan,” ketika saya menjawab hari ini juga. Maka jawaban berikut sudah diduga, GPS harus diambil di gudang (mungkin gudang dealer), dan membutuhkan waktu sekian hari dst..dst.

Tembok batu sudah saya temui sekarang. Kami batalkan transaksi dan saya mulai memutar nomor satu persatu sampai akhirnya dapat disatu tempat di lantai dasar Taman Anggrek sekalipun bukan tipe yang direkomendasikan teman-teman.

Satrio yang sedang cari “pinjeman” saya atur agar ke Taman Anggrek dan melupakan ojokan temannya “cuma dipakai sekali ngapain beli, pinjem saja,” sebab mau beli saja susah apalagi pinjem (pakai e).

Melalui ujung tilpun Satrio bilang dengan suara cedal, “teknisinya bodok, GPS dibawa keluar tetapi power tidak di aktipkan” – dengan kata lain, sulit mendapatkan bantuan teknis bagaimana mengoperasikan alat ini. Tapi tak mengapa, dari dulupun kita memang disuruh memilih tanpa pilihan. Untung sang teknisi jago “jual” – katanya “GPS tidak pakai map sih sama aja boong, dan peta harus dimasukkan dengan membayar sejumlah uang. Namun problem muncul, jenis yang dipilih satrio tidak memiliki feature memory card, dan saya harus menambah sejumlah uang untuk pembelian memory card dan jenis GPS yang memiliki fasilitas slot memori tambahan.

Sehubungan sang pemilik memiliki Internet Banking, dari kejauhan saya transfer pakai HP, dan setelah uangnya masuk (dengan menambahkan satu rupiah dibelakang angka yang harus dibayarkan, sebagai kode uang tersebut dari saya..”

Selesai sudah tugas seorang bapak. Saya pikir selesai. Tahu-tahu ada sms tambahan, dari kantor langsung ke Mal, Satrio perlu pensil warna, obat, charger, batterei untuk keperluan pemetaannya. Yang tersirat dibalik surat singkat adalah “makan malam di Rice Bowl” usai shopping. Apalagi setelah selesai beklanja dia bilang “aku lapar sekali pa, dari pagi belum makan sebab tegang mencari GPS.”

Episode diatas sebetulnya cara lain mengajari Satrio secara praktikum, layaknya seorang ayah kalau anaknya mendapat kesukaran (eng ing eng), dan semua fasilitas yang ia dapatkan adalah hasil sebuah usaha ayahnya belajar dan bekerja. Mudah mudahan dibelakang hari manakala ia sudah berkeluarga, apa yang pernah dicontohkan ayahnya dapat dijadikan pegangan.

Posted in gaya hidup

Setelah Durian Sultan (D24) lantas apa lagi?


Ingat ini bulan Juli, hujan sudah mulai jarang datang di kawasan Malaysia tempat tanah tumpah darah durian. Di Indonesia, para petani padi sudah mulai menjerit lantaran air mulai menyurut. Namun di negara tetangga macam Malaysia petani durian bertepuk tangan.  Akibat sepi hujan bunga-bunga durian yang mengembang tidak perlu kuatir gugur disapu angin dan hujan. Tak heran panen durian menghujani negeri ini dan merembet ke Singapura.

Tabik alias angkat topi setinggi-tinginya kepada Departemen Pertanian Malaysia yang tak jemu-jemunya menyilangkan durian bagi dunia.

Paling tidak sejak tahun 1934 sudah lebih dari 190 varitas duren dilemparkan ke pasaran. Varitas yang didaftarkan ini biasanya diberi nama imbuhan “D” – durian. Tetapi para penjual durian di Singapura lebih lihay dengan memberi nama durian mereka nama lokal agar lebih membuat “ngeces“.

Setelah kehebatan durian Sultan varitas D(durian) D24, menyusul varitas D197 alias durian Cat Mountain King alias “Durian Butter“, maka pedagang durian di Singapur me-launching jenis yang pernah dibudidayakan pada tahun 1970 yaitu D100. Padahal dulu jenis D100 jarang dilirik.

Tahun 2005, penggemar durian keedanan dengan D24. Hanya sedikit yang mengenal duren Mao Shan Wang. Akibatnya saya hanya menjual Mao Shan Wang cuma delapan dollar per kilogramnya. Tahun 2006, durian Mao Shan Wang mendesak posisi D24, mangkanya sekarang harga di Rajah Kunyit alias Mao Shan Wang menjadi  naik daun,” kata Goh penjual durian dari kedai 717 Singapura.

Dari Negeri Johor – petani durian tidak kalah gencar menawarkan durian SEGAMAT, ini nama sebuah kampung penghasil durian organik. Durian disini dipupuk dan dibesarkan tanpa pestisida. Strukturnya lembek sehingga untuk memakannya ada yang menggunakan sendok. Keistimewaannya, bijinya keriput kecil sehingga dagingnya tebal.

Lantas bagaimana memilih durian yang baik.  Pertanyaan yang membuat saya tersipu sebab 1001 teknik dalam satu malam sudah saya terapkan kalau membeli durian di Jakarta dan sekitarnya, tetap saja saya kedodoran. Padahal baru sekedar mengejar “durian yang tidak masam, tidak hambar” – sulitnya setara dengan mencari KTP tanpa bayaran extra.

Padahal kita belum bicara durian yang manis tetapi berserat, manis sedikit pahit beralkohol, atau durian dengan tekstur selembut alpukat.

Semua ilmu sudah dikeluarkan dari mengendus-endus tubuhnya dari bawah sampai ke atas, memutar spiral, melihat bentuk yang sedikit lonjong, ujung duri yang besar, menengok batas kamar pada pantat durian yang harus nyata, mengocok durian semua terpaksa tekuk lutut dihadapan pedagang mirip pemain bulu tangkis kita berhadapan dengan pemain China.

Akibatnya jujur saja saya “hampir-hampir” hanya makan durian selama di Singapura, itupun perburuan dipersempit dengan mengunjungi Fair Price di kawasan Ang Mokio Hub. Disana cukup lengkap koleksi duriannya disertai harganya. Dijamin tidak bakalan diakali pedagang, apalagi dengan cara lunak memaksa nada membeli lebih dari yang dibutuhkan.

Saya menunggu kapan menikmati dan terutama memiliki foto durian D100.

Posted in gaya hidup, singapura

Habis Damai Kita Berkelahi


Sekitar jam sepuluh pagi saya menumpang bis no 169 SBS Transit – Singapura. Di sepanjang jalan Upper Thomson mula-mula penumpang nampak belum berjubel kendati saya tidak mendapatkan tempat duduk. Untung ditengah perjalanan dapat juga tempat duduk, tetapi tidak untuk berapa lama sebab diujung sana Bis berhenti untuk menaikkan penumpang yang rata-rata berpakaian terbaik, berwajah sumringah dan berwajah damai sebab baru keluar dari sebuah rumah peribadatan yang konon dikenal ampuh untuk memohon sesuatu. Bahkan orang Singapura cenderung menyebut nama bangunan ini berdasarkan nama “sebuah doa” ketimbang nama resminya.

Nampak petugas berseragam sibuk mengatur lalu lintas menggunakan sarung tangan tebal yang mengesankan hendak memegang panggang ayam dari piring.

Beberapa pasang senior nampak tertatih naik bis sehingga mau tidak mau saya memberikan tempat untuk mereka. Sekalipun sudah ikhlas namun rasanya “plong” ketika para kakek dan nenek ini mengucapkan terimakasih.

Baru saja bis berjalan beberapa detik, dari arah belakang seorang ibu berambut pendek dan berkaca hitam main nyerondol ke barisan depan dengan cara yang terbilang kasar. Saya sempat terdorong sehingga harus mengencangkan pegangan di bis.

Dan ibu yang belakangan ini “lupa” melakukan “tap” kartu bisnya alih-alih meminta maaf mendadak ia berteriak garang menuduh seseorang “menendang kakinya”. Ini agak aneh sebab mau berdiri saja sudah goyang kiri goyang kanan, boro-boro iseng menendang kaki. 

Seorang ibu yang dari semula berbahasa Inggris dengan temannya sempat keprucut melontarkan kata “NG*****” – ala Jakarta.

Lelaki disamping saya juga tidak  terima atas tuduhan tersebut. Pendeknya ibu seorang ini menjadi target umpatan penumpang lain bahkan muncul isu rasis dan  akhirnya perang mulutpun terjadi.

Yang menarik, para pelaku baru saja berdoa, memberikan ampun kepada orang yang bersalah, bersalaman sambil mengucapkan “god bless you” – eh begitu diluar pelataran rumah ibadah, semua kembali normal. Yang berangasan kembali berangasan, si rasis kembali menjadi rasis.

Kalaupun perlu di syukuri kejadian ini tidak berlanjut dengan isue, lalu ditambah-tambahi sehingga terjadilah isu rasial.

Posted in gaya hidup

Rayuan SPG


Sembilan tahun lebih menggunakan sebuah kartu dari penyedia layanan seluler Singapura yang berusia paling senior, mirip Telkomnya Singapura.  lama-lama Lia anak saya bisa berhitung bahwa sejak kedatangan penyedia jasa komunikasi selular lain dengan iming-iming jauh lebih murah hatta sempat juga ia tererosi kesetiaannya dan berpaling ke yang baru. Saat memutuskan kontrak berlangganan reaksi Customer Service sungguh diluar dugaan.

Dengan gigih mereka merayu agar Lia tetap dengan nomor lamanya, alasan mereka sembilan tahun memiliki nomor panggilan yang sama, adalah kekayaan tak ternilai. Pelanggan, teman, saudara, sebagian sudah hapal dengan nomor HP lama sehingga mudah dihubungi.

Intinya ganti nomor tilpun bak ganti pasangan hidup sebuah keputusan yang sulit yang sebaiknya tak dilakukan.

Namun Lia sudah bulat apalagi beberapa bulan berselang nomornya sempat hilang dan ternyata digunakan seseorang untuk menilpun langsung ke Indonesia dan Lia terkena getahnya.

****

Lalu saya ingat di tanah air pernah menggunakan kartu prabayar sebuah penyedia tilpun yang mengesankan pabrik kaos oblong gendut. Sebenarnya sih kantor sudah memberikan keleluasan bagi saya untuk menggunakan HP gratis. Namun kerabat berkeberatan dengan tarip antar operator yang katanya mahal. Lalu mereka tidak ingin urusan kantor bercampur aduk dengan urusan rumah sehingga saya mengakomodasi kemauan mereka walaupun jadi “wagu” alias konyol menggembol dua HP kesana kemari. Apalagi ada promosi lewat tengah malam – bayarannya malahan Nol Puthul alias kosong-kosong.

Karena ingin mengaktipkan beberapa fitur  pada nomor perdana,  saya hubungi nomor tilpun Customer Services yang selalu tertera dalam voucher isi ulang. Namun berkali-kali ditilpun selalu saja pelanggan diminta menunggu yang pada akhirnya pulsa habis dan sambungan terputus.

Iseng saya coba khusus pelanggan berbahasa Inggris. Jreng, dengan sebat dalam dering ke tiga terdengar suara lembut wanita menyebut nama dan yang terdengar jelas “May I Help You.”

Serentak saya minta maaf pakai dalam bahasa Indonesia, langsung suara seramah Satpam BCA pindah channel menjadi Senior IPDN.

Tidak dibenarkan menggunakan sarana tilpun ini dengan alasan yang berbahasa Indonesia tidak menjawab“, dengus mbak berbahasa Inggris diujung tilpun.

Sekalipun akhirnya saya dilayani dengan sapaan “apa yang bisa dibantu,” – saya keburu copot tulang, tangan saya tremor pertanda emosi tersentuh. Hilang “krenteg” untuk meneruskan transaksi dengan mbak tersebut.

Lantas saya bilang “ya tutup saja tilpun kalau anda menyesal berbahasa Indonesia dengan saya.”

Sonder delay “klekeg” – hubungan tilpun diputus.

Tapi sampai sekarang saya tetap pro dengan Kawin sama Monyet dan Potong Kumis dan Alis Sebelah sebab lantaran perlakuannya saya punya ide menulis.