Posted in dbd, gaya hidup, keluarga

Gara-gara DBD, Obat Sakit Kepala harus melalui dubur


Bermula pada awal Juni 2008, ketika anak sulung keluarga, sebut saja pak Dodo didakwa menderita penyakit DBD sehingga harus dirawat dirumah sakit akibat angka trombositnya menurun tajam. Merasa rumah sudah di asapi, maka keluarga dengan dua anak ini nampak anteng-anteng saja. Apalagi melihat sang korban DBD nan gemuk dan kesukaan akan makan nan luar biasa. Hanya tiga hari kakak dari seorang adik ini boleh keluar dari rumah sakit dengan catatan bobotnya naik satu kilo gram.”PakDe ongkos rumah sakit aku tiga hari 2 juta lebih lho,” kata keponakan. Saya menjawab: “Obat-obatan paling setengah juta tetapi biaya kateringmu tiga hari yang satu setengah juta.”

Akhir Juni 2008, mereka berempat berlibur ke Yogya dan tak lupa pakdenya dibawa serta karena mendapat tugas tukang dongeng dan tukang ngompori keponakannya. Misalnya kami membeli brondong jagung. Biasanya sang ibu sudah berkotek: “Jangan kebanyakan, ntar batuk..”

Lama-lama sanga “ngab” juga mendengar teriakan jangan ini dan jangan itu. “Urusan saya adalah membelikan keponakan brondong jagung, soal batuk dan rumah sakit itu urusan orang tuanya.”

Begitu tiba di Yogya, hari pertama semua berjalan lancer. Sang kakak ndut tidak menampakkan gejala kumat atau serangan mirip “DBD” bahkan mulutnya lancar menyebut Soto Soleh, Soto Slamet, Soto Kadipiro, Tongseng Suharto, Bakmi Pele dsb.

Drama mulai dimainkan saat hampir malam di Yogya. Mendadak adik bungsu Bagus seperti ayam menelan karet kolor. Kepalanya ditekuk dan suhu tubuhnya mampu menetaskan telor angsa sekalipun. Segera kami bawa ke laboratorium di kawasan Pingit Yogya gampangnya ada penganan berupa tahu Gimbal dipelataran lab. Klasemen sementara mengarah ke typhoid.

Keesokan harinya, sang ibu mengeluh yang sama, hanya kali ini disertai keluhan pusingnya pindah-pindah, dari kiri kembali ke kanan sekalipun rasanya sama yaitu tidak enak.

Tidak lama kemudian sang ayah mengeluh yang sama. Maka liburan Yogya kali ini hanya diisi dari satu laboratorium ke laboratorium, dari konsultasi dokter satu ke dokter satunya. sempat ada ide menggunakan pesawat terbang (kalau tidak penuh), tetapi adik ipar perempuan tergolong manusia “ringkih” – dalam keadaan sakit, sedikit perubahan tekanan kabin pesawat membuatnya seperti dikeluarkan isi kepalanya.

Dalam perjalanan pulang, saya menyertai kendaraan keponakan sebab sudah ada feeling sang ayah bakalan ambruk diperjalanan tetapi keukeuh mau menyupir sendiri.

Memasuki Bekasi, mobil sudah semakin lambat jalannnya. Ia lebih memilih dinbelakang truk yang ngeong ketimbang mendahuluinya. Lalu AC mobil mulai dimatikan.

Saya hanya mengamati saja dari samping sampai akhirnya ia mengeluh kepalanya sakit dan malam itu juga, anak, ibu dan ayah masuk UGD, dan seperti diduga bahwa nyamuk demam berdarah sudah membuat posko di rumah mereka di kawasan Grogol. Dan ternyata masa inkubasipun bervariasi, dalam hal ini 3 minggu sebelum menunjukkan aktivitas yang nggegirisi.

Di sebuah rumah sakit yang tergolong baru di Jakarta Barat saya mengunjunginya. Mereka menghuni lantai 4 tetapi, setiap lantai dberi nomor “3″ bukan “4″ sesuai lantai. Ada kesulitan menempatkan satu keluarga dalam satu kamar kecuali memborong seluruh biaya kamar itu sendiri.

Tidak mungkin satu kamar ada dua mahluk berbeda muhrim,sementara sal anak-anak diletakkan berbeda. Jalan keluarnya satu sal disewa semua (ada satu ranjang kosong), dan anak, istri, suami bisa berjejer dan diinfus bersama. Saya sampai mengabadikan peristiwa langka ini.

Ditengah acara bezoek sebuah pesan singkat berteriak nyaring: “Jadi nggak ke Yogya ya?,” pengirimnya mas Yusuf . Baru ingat bahwa saya pernah janji akan mengunjungi Madurejo.

Sayangnya dalam perjalanan menuju Bayat – Klaten Jawa Tengah, karena satu hal terpaksa dibatalkan termasuk usaha mampir ke markas Swalayan Madurejo dan gebleknya saya tidak memberitahu sama sekali sekalipun sekedar ber sms.

Saya memang memberikan penjelasan garing, bahwa keluarga terkena demam berdarah (sebelumnya dikira tipus) sehingga judul liburan adalah “dari piknik terbitlah paknik.”

Selesai ber hela-helo dengan mas Yusuf tidak ketinggalan isu terakhir milis yang kami asuh pandangan saya mengitari ruang sal.

Pertama kepada adik ipar. Beberapa helai uban nampak di keningnya. Ibu yang memasuki usia 46 tahun ini selalu mengeluh kepalanya pusing, namun keluhannya selalu berpindah tempat.  Pada akhirnya suster dipanggil dan kepada ibu tadi diberikan obat sakit kepala dengan cara pengobatan luar biasa, harus diselipkan ke (maaf) knalpot engkel. Tapi yang tidak saya sangka, adik ipar enteng menyahut “kalau soal selip menyelip ke knalpot- aku biasa lakukan sendiri.”

Sebelum menutup tirai dan meninggalkannya saya sempat bergurau, jangan-jangan sebetulnya sakit kepala tersebut akibat ambeien nyetrum ke otak. Atau memang kalau terserang demam berdarah dan mengeluh sakit kepala harus diobati lewat knalpot?

Demam berdarah tidak saja dampaknya maut, namun pengobatannya pun unik. Waspadalah.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s