Posted in gaya hidup, singapura

Wibawa Pendekar Rambut Perak


Jam menunjukkan dua jam ke tengah malam di jalan Kitchener – Singapura.  Nama hotelnya ParkRoyal, bukan hotel baru muncul. Waktu Lia diwisuda, saya seperti baru lepas dari himpitan gajah bengkak bernama “krismon” – melihat anakku mencoba toga, diam-diam saya menangis. Ya di hotel ini juga. Lha kok pak supir taxi menjadi “keder” alias bingung kalau diberitahu alamat hotel. Biasanya saya punya kata kunci bertuah. Begitu melihat dia mulai “error” -langsung saya tonjok dengan kata-kata Mustafa Supermarket. Wajahnya langsung mengalami orgasme – lha itu dia.

Kehidupan malam mulai semarak, banci, para gay mulai pamer “urat” disekitar halaman Mustafa Supermall. Seorang pakai celana pendek mendekati “changchuter”  menyandang tas kecil dan duduk manis-manis kemayu di pot bunga halaman parkir. Mulutnya “ngelamoti” es krim sambil matanya melihat kekanan kemari. Mungkin simbol atawa isyarat. Kalau eskrim yang dingin-dingin empuk saja mampu diperlakukan dengan lembut, apalagi yang hangat tapi empuk.

Serombongan para ibu dari Indonesia berdiri didepan loket pertukaran wang (ikutan bahasa sana), waktu dia tukar ringgit amerika ke ringgit singapura, transaksi berjalan lancar bak jalan tol dimasa liburan anak sekolah.

Namun saat uang rupiah segepok ingin ditukar ringgit lokal. Mendadak Pak loket mengibaskan tangannya seperti menyapu lalat hijau pada bubur sumsum. Intinya ia  langsung menolak dan bilang “untuk uang Indonesia ada di gedung khusus.ya sama-sama Mustafa..” – padahal kalau saja rombongan tadi mengambil uang dari ATM akan lebih mudah dan tidak perlu di pingpong.

Pada kesempatan lain saya sedang menunggu bis, di halte bis tentunya.

Tiba-tiba sebuah mobil mirip jeep GBA 154 XXX dikemudikan seorang tua nampak dari rambutnya yang memutih, kacamata yang tebal. Perlahan tapi pasti parkir kendaraan yang dilengkapi dengan alat mirip argo ini nangkring di jalur khusus naik turunkan penumpang.

Apa-apan ini..

Sepintas mirip perawakan Bagawan Ekonomi kita Sumitro Joyohadikusumo. Dari cat mobil yang putih, merah, tanpa ada tanda-tanda dari aparat militer atau pura-pura militer kecuali tulisan SBSTransit.

Saya sempat ngedumel sebab jelas-jelas ia parkir ditanda kuning tempat bis umum berhenti.

Namun, nanti dulu, melalui kaca spion pak tua ini nampak melihat kendaraan yang parkir dibelakangnya. Ajaib, dalam hitungan menit, para valet parkir yang memang banyak dijumpai dijalanan ini langsung bertemperasan menjalankan kendaraannya. Persis taxi “pendatang” baru akan mengangkut penumpang secara ilegal mendadak satpam bandara mendekatinya, alamat KLB – kalau limaribu  bablas.

Ada barang lima menit pak tua berbaju putih mirip dokter bedah ini seperti memberi kesempatan kepada para pelanggar parkir membenahi dirinya.

Namun masih ada tiga kendaraan yang mbegegeg tidak berusaha pindah, paling depan sedan Mercedes, lalu dua dibelakangnya sejenis Kijang tapi bukan. Boleh jadi pemiliknya sedang merem melek menikmati urutan para tukang pijat, sementara para valetawan dan valetawati karena tangannya cuma dua hanya mampu memindahkan satu kendaraan saja.

Perlahan dari dashboardnya pendekar berambut perak ini menarik kamera digital. Lalu ia turun dari kendaraannya sambil mobil tetap dihidupkan.

Satu persatu para mobil pelanggar parkir dipotret nomor plat depan dan belakang. Gaya memotretnyapun amatiran dan dilakukan secara perlahan-lahan sambil meyakinkan bahwa hasil foto memadai.

Tidak ada yang protes, tidak ada “preman” security hotel, rumah pijat, karaoke yang belagak jagoan. Padahal jelas-jelas mobil yang dipotret nanti kan akena denda tidak sedikit. Padahal kalau ditempat kita akan terjadi perdebatan “hanya parkir sedikit menutupi area halte bis”

Yang mengesankan, tidak nampak aktivitas berbau militer, berpakaian militer, berlagak lebih militer. Semua berjalan wajar.

Setelah memotret dengan seksama, pendekar baju putih lengan pendek dan berambut perakpun beringsut memasuki jeep lalu meninggalkan arena.

Walau bumi berguncang, hukum tetap ditegakkan.

Pertama memberi kesempatan berbenah, kalau membandel baru ditindak. Kita cenderung memberi kesempitan pengguna jalan terjebak agar selalu bisa ditindak.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

6 thoughts on “Wibawa Pendekar Rambut Perak

  1. Hi Ade: thanks for the comment. Its Bahasa Indonesia with “picture description” – guess hard to keep up hiyyaaa.

    I must say, I thought my bahasa indonesia was not rusty, but it actually awfully forgotten or did I not have the education in this language. Not to worry, I can read in between the lines. I am not keeping a low profile, I just say what it is is what you get. Like the Spanish- American would say: Jo se nada, jo se todo.

    RSVP
    718.760.2704

    Like

  2. Sekalian salah nerka. Bukan saya tidak bisa “keep-up with you guys…” tetapi on the contrary. I make history and you write about it, and they get to read it. Keep up the good work, but don’t get me wrong I’m not taking sides!

    Like

  3. I guess you don’t understand the western way of saying: you only record what happened not what will happen. What happens in the present is already history to me. Figure this out, I see the future in a vision gifted from the Lords “I must say”. Even the future is already history to me, because I’ve already seen it, therefore not being able to keep-up is the absolute mistake. Do you know where I am coming from?

    Besides your story does not effect me either way. It already happened since civilization begun, perhaps it’s less spicy than it used to be. In another words it’s not bad at all, in addition if you would like me to create a story, I am more than willing to share my vision which happens to be involuntary. I am not a mind reader neither am I a fortune teller. You can say that it’s more of a philosophical and sociological point of view.

    Finally, I never compete with anybody. I try to make a constructive criticism and take it from a full humanistic point of view.

    I will in fact write the story/article in Bahasa Indonesia. Just let me know how it is able to be serf in the engine. I am not particularly computer savy.

    Humbly,
    Ade (Silvine)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s