Posted in gaya hidup

Rayuan SPG


Sembilan tahun lebih menggunakan sebuah kartu dari penyedia layanan seluler Singapura yang berusia paling senior, mirip Telkomnya Singapura.  lama-lama Lia anak saya bisa berhitung bahwa sejak kedatangan penyedia jasa komunikasi selular lain dengan iming-iming jauh lebih murah hatta sempat juga ia tererosi kesetiaannya dan berpaling ke yang baru. Saat memutuskan kontrak berlangganan reaksi Customer Service sungguh diluar dugaan.

Dengan gigih mereka merayu agar Lia tetap dengan nomor lamanya, alasan mereka sembilan tahun memiliki nomor panggilan yang sama, adalah kekayaan tak ternilai. Pelanggan, teman, saudara, sebagian sudah hapal dengan nomor HP lama sehingga mudah dihubungi.

Intinya ganti nomor tilpun bak ganti pasangan hidup sebuah keputusan yang sulit yang sebaiknya tak dilakukan.

Namun Lia sudah bulat apalagi beberapa bulan berselang nomornya sempat hilang dan ternyata digunakan seseorang untuk menilpun langsung ke Indonesia dan Lia terkena getahnya.

****

Lalu saya ingat di tanah air pernah menggunakan kartu prabayar sebuah penyedia tilpun yang mengesankan pabrik kaos oblong gendut. Sebenarnya sih kantor sudah memberikan keleluasan bagi saya untuk menggunakan HP gratis. Namun kerabat berkeberatan dengan tarip antar operator yang katanya mahal. Lalu mereka tidak ingin urusan kantor bercampur aduk dengan urusan rumah sehingga saya mengakomodasi kemauan mereka walaupun jadi “wagu” alias konyol menggembol dua HP kesana kemari. Apalagi ada promosi lewat tengah malam – bayarannya malahan Nol Puthul alias kosong-kosong.

Karena ingin mengaktipkan beberapa fitur  pada nomor perdana,  saya hubungi nomor tilpun Customer Services yang selalu tertera dalam voucher isi ulang. Namun berkali-kali ditilpun selalu saja pelanggan diminta menunggu yang pada akhirnya pulsa habis dan sambungan terputus.

Iseng saya coba khusus pelanggan berbahasa Inggris. Jreng, dengan sebat dalam dering ke tiga terdengar suara lembut wanita menyebut nama dan yang terdengar jelas “May I Help You.”

Serentak saya minta maaf pakai dalam bahasa Indonesia, langsung suara seramah Satpam BCA pindah channel menjadi Senior IPDN.

Tidak dibenarkan menggunakan sarana tilpun ini dengan alasan yang berbahasa Indonesia tidak menjawab“, dengus mbak berbahasa Inggris diujung tilpun.

Sekalipun akhirnya saya dilayani dengan sapaan “apa yang bisa dibantu,” – saya keburu copot tulang, tangan saya tremor pertanda emosi tersentuh. Hilang “krenteg” untuk meneruskan transaksi dengan mbak tersebut.

Lantas saya bilang “ya tutup saja tilpun kalau anda menyesal berbahasa Indonesia dengan saya.”

Sonder delay “klekeg” – hubungan tilpun diputus.

Tapi sampai sekarang saya tetap pro dengan Kawin sama Monyet dan Potong Kumis dan Alis Sebelah sebab lantaran perlakuannya saya punya ide menulis.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s