Posted in gaya hidup, singapura

Habis Damai Kita Berkelahi


Sekitar jam sepuluh pagi saya menumpang bis no 169 SBS Transit – Singapura. Di sepanjang jalan Upper Thomson mula-mula penumpang nampak belum berjubel kendati saya tidak mendapatkan tempat duduk. Untung ditengah perjalanan dapat juga tempat duduk, tetapi tidak untuk berapa lama sebab diujung sana Bis berhenti untuk menaikkan penumpang yang rata-rata berpakaian terbaik, berwajah sumringah dan berwajah damai sebab baru keluar dari sebuah rumah peribadatan yang konon dikenal ampuh untuk memohon sesuatu. Bahkan orang Singapura cenderung menyebut nama bangunan ini berdasarkan nama “sebuah doa” ketimbang nama resminya.

Nampak petugas berseragam sibuk mengatur lalu lintas menggunakan sarung tangan tebal yang mengesankan hendak memegang panggang ayam dari piring.

Beberapa pasang senior nampak tertatih naik bis sehingga mau tidak mau saya memberikan tempat untuk mereka. Sekalipun sudah ikhlas namun rasanya “plong” ketika para kakek dan nenek ini mengucapkan terimakasih.

Baru saja bis berjalan beberapa detik, dari arah belakang seorang ibu berambut pendek dan berkaca hitam main nyerondol ke barisan depan dengan cara yang terbilang kasar. Saya sempat terdorong sehingga harus mengencangkan pegangan di bis.

Dan ibu yang belakangan ini “lupa” melakukan “tap” kartu bisnya alih-alih meminta maaf mendadak ia berteriak garang menuduh seseorang “menendang kakinya”. Ini agak aneh sebab mau berdiri saja sudah goyang kiri goyang kanan, boro-boro iseng menendang kaki. 

Seorang ibu yang dari semula berbahasa Inggris dengan temannya sempat keprucut melontarkan kata “NG*****” – ala Jakarta.

Lelaki disamping saya juga tidak  terima atas tuduhan tersebut. Pendeknya ibu seorang ini menjadi target umpatan penumpang lain bahkan muncul isu rasis dan  akhirnya perang mulutpun terjadi.

Yang menarik, para pelaku baru saja berdoa, memberikan ampun kepada orang yang bersalah, bersalaman sambil mengucapkan “god bless you” – eh begitu diluar pelataran rumah ibadah, semua kembali normal. Yang berangasan kembali berangasan, si rasis kembali menjadi rasis.

Kalaupun perlu di syukuri kejadian ini tidak berlanjut dengan isue, lalu ditambah-tambahi sehingga terjadilah isu rasial.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s