Posted in gaya hidup, oil rig

Manajemen Warung Tegal


Bagaimana tidak, awal Juli harusnya saya ngepak-ngepak alias menimbun barang kebutuhan untuk berangkat ke Rig Lepas Pantai Australia, mendadak dipanggil harus mengurus dua proyek pengeboran sekaligus di Jakarta. Sudah hampir sebulan ini saya menjadi manajer warung tegal.

Seorang manajer di filem-filem kerjanya hanya duduk, bertengkar dengan saingannya kadang dengan ayahnya, namun sukses berat. Sementara saya masih seperti kucing beranak, hari ini dipojok utara, besok dipojok selatan, lusa di pusat.

Orang Palembang menamakan “KABAG merangkap KASI” – bukan singkatan Kepala Bagian atau Kepala Seksi yang moncer itu melainkan (katik bagian merangkap katik kursi). Katik=tidak punya.
Bahkan Laptop yang layarnya sudah seperti kapal kertas kelebu di air masih juga saya pakai. Sebab penggantinya belum kunjung datang juga.

Lalu mulai kesibukan membuat rencana impor barang (RIB), yang lucunya kontrak belum selesai dibuat saya sudah ditodong “mana draft Master List” – alias Packing List. Harus selesai “sekarang juga” – padahal seyogyanya, master list importasi barang baru dibuat setelah kontrak yang disepakati ditandatangani.

Lalu seperti biasa keluarlah kata-kata mutiara bahwa mengurus selembar surat ini akan melewati beberapa pintu – alias birokrasi alias – prosedurnya lama.  Dan kalau mau serba cepat tentu ada resepnya yang ehem-ehem. kalau seorang pegawai sudah melihat dirinya “bukan” bagian dari perusahaan itu sendiri, atau kasarnya sudah membelah jiwanya menjadi dua. Satu belahan jiwa “makan gaji” diperusahaan tempat ia bekerja, belahan kedua sebagai “calo” yang mencoba menghalangi kinerja kerja perusahaan sendiri agar menjadi lambat dan saat itulah ia “masuk sebagai oli” mempercepat jalannya operasi yang seret.

Layaknya orang baru, saya selalu berkonsultasi dengan para senior kantor. Dan pandangan heran selalu saya jumpai yaitu “anda dari divisi mana?” – yang membutuhkan penjelasan panjang kali lebar kali tinggi.

Tugas lain adalah melakukan recruitment pekerja baru.

Mulailah pekerjaan saya mencari para MatLoger berpengalaman yang kepingin mengembangkan karirnya di perusahaan saya. Bahasa kasar dari “mencari para matloger berpengalaman” lebih baik diterjemahkan sebagai “pembajakan..”

Sisi terangnya – Inilah saatnya mereka menaikkan tariff bonus dan gaji bulanannya.

Bayangkan, seandainya perusahaan saya mengiming-imingi seperempat gaji dan bonus lebih besar dari yang ia dapatkan sekarang, lalu “data” ini ditawarkan ke perusahaan mereka dengan gaya “menodong” – “bos aku ditawari segini nih, berani menaikkan gaji saya, saya tetap loyal.”

Secara teori, para matlogger berpengalaman bisa menangguk hampir separuh gajih mereka.

Selalu ada rasa “exiting” – kata selebritis Anang yang seharusnya adalah “Exited” manakala melihat biodata para pelamar. Puluhan tahun saya melakukan yang sama, selalu saja indera saya tidak bisa selalu tepat. Anak yang nampaknya “cegukan” kalau berbicara didepan tim penguji, ternyata dibelakang hari menjadi personel birokrasi yang hebat.

Yang nampaknya pintar dan trengginas, dikemudian hari sekedar menjadi pegawai biasa-biasa saja.

Kadang biodata mereka saya minta diperbaiki, agar nampak lebih “jozz” – beberapa mengikuti nasehat saya, namun ada juga yang bergeming alot.

Lalu saya tak lupa menanyakan bagaimana bahasa Inggris mereka. Selalu jawabnya “cukupanlah” – padahal saya tahu bahwa bahasa Inggris selalu saja merupakan sandungan bagi pelamar, sekalipun mereka sudah bekerja di lingkungan perminyakan cukup lama.

Ada yang kelewat percaya diri “pak kalau soal bahasa Inggris -saya tidak akan mengecawakan, saya lalap habis..” – ada yang menggunakan email address terkesan ndagel atau mencerminkan putra daerah serambi Warnet. Biasanya mereka saya berikan teguran, namun tetap saja lamarannnya saya proses. Indonesia membutuhkan anak-anak yang “sedikit bengal ini..”

Tapi masih ada sisi gelap, “yang mau cari kerja banyak, yang mau bayar sedikit!” – alias saya tidak bisa main cap-cip-cup ambil pekerja lalu menawari gajih sekian. Ada birokrasi kantor yang tidak boleh saya lampaui.

Sebagai contoh, untuk menerima karyawan saya harus membuka Intranet kami, minta ijin membuka saluran (loggin dan password) – sampai tulisan ini naik, permintaan saya ditolak lantaran pangkat saya masih belum cukup tinggi untuk melakukan recruitment.

Hari yang dinantikan datang. Para pelamar terpaksa dibagi karena keterbatasan tempat dan dengan menyesal, para sarjana baru terpaksa ditunda penerimaannya sambil menunggu prosedur birokrasi selesai. Rasanya saya sendiri yang mengalami kekecewaan akibat pemberitahuan “last minutes.” .

Betul saja, sekalipun saya sudah melucu, memberikan pengertian kepada mereka, tetap saja banyak peserta ‘”demam panggung wawancara” – Cirinya adalah kalau sang interviewer mulai mengambil alih percakapan dan yang ditanya berjuang untuk menjawab “yas,yes,” mengangguk-angguk. Beberapa pertanyaan dasar seperti “ho do you know we have a recruitment” – Barangkali kalau dipindahkan dalam bahasa tertulis, pelamar akan mudah menjawabnya. Tapi karena diucapkan secara cepat, maka tak jarang jawaban dengan menganggukkan kepala atau “yes”. Dalam hati saya berdoa semoga mereka bernasib sesukses KD muda – yang saat di Asia Bagus hanya bisa menjawab Yes dan Insya Allah sambil mengangguk namun akhirnya menjadi orang popular Indonesia.

Palamar satu persatu dibaca CV-nya dan ada yang membuat CV seperti mengajak “jethungan” alias petak umpet.

Di alenia pertama menyebut lulusan SD dan SMA (yang sebetulnya tidak perlu), ditengah-tengah mereka baru memasukkan pekerjaan terakhir. Yang dibutuhkan adalah pendidikan saya Geoscience atau Petroleum Engineer. Lalu kalau pernah bekerja di Offshore atau Onshore semua dituliskan dengan mengikuti aturan paling muda berada diurutan teratas.

Mudah-mudahan dengan tulisan ini para pelamar lebih mengasah bahasa Inggrisnya dan mengelus -elus Biodatanya. Sebab itulah modal utama mereka.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Manajemen Warung Tegal

  1. waduh, moga-moga nanti kalau jadi (interview) penyakit “demam interview”-nya bisa cepet diatasi. Paling ngga jawabannya bukan cuma yes or no… (^_^)’

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s