Posted in gaya hidup

Hanya kepadamu saya memohon


Kriiing, hp saya berbunyi nyaring. Saya berada ditengah perjamuan sebuah ulang tahun seorang kerabat.

Jujur saja secara pribadi saya banyak berseberangan cara pandang dengannya. Saya adalah kelompok takut salah yang selalu memegang azas sebisanya jangan melanggar peraturan sekecil apapun.

Sementara kerabat yang berulang tahun punya “hobby” menerabas daerah abu-abu atau merah sekalipun sebagai cara membangun “adrenalin” dan membuktikan bahwa “ia bukan orang biasa-biasa saja.”

Gampangnya sebuah contoh, kesukaannya menerobos jalur busway atau three in one menurut saya sudah final dan tidak boleh dicoba-coba. Namun kerabat (yang memang sangat berhasil dalam materi), mendapatkan kegembiraan menyuruh supirnya menerobos jalur larangan. Nanti kalau ditindak petugas dia seperti kesetanan kalau dari mulutnya keluar sederetan nama orang gede atau penguasa.  Pemilu ini dia akan terlibat dalam kancah politik, masuk kapal sebuah bendera yang pernah besar di Indonesia berpuluh-puluh tahun.

Celakanya lagi dimata keluarganya  ia adalah manusia paling hebat dan terhormat sehingga tidak ada secuil perbuatannnya yang kurang sreg. Semua serba betul dan bagus. Keluarga menjadikannya ia anak emas yang tidak tersentuh oleh kesalahan sama sekali.

Aha jadi menyimpang…. Tapi memang buku harian isinya harus pertentangan bathin buka.

Sumpit tulang yang saya pegang  di sebuah restoran lantai 8 di kawasan Sudirman segera saya letakkan. Padahal kailan sapi yang empuk sudah hampir saya jepit. Kalau bukan kerabat saya yang kaya ini, entah kapan saya menikmati hidangan super mewah.

Kepada pihak yang berulang tahun saya beri isyarat bahwa ada tilpun masuk pada malam hari, biasanya urusan keluarga.  Kerabat yang mengelilingi meja bundar pada mengecilkan suaranya.

Nomor saya lihat yang kurang familiar, nampaknya dari salah satu kota di Jawa Tengah. Ternyata dari Yogyakarta. Di ujung saja, seorang ibu yang biasa saya panggil bude, termasuk yang membesarkan saya mulai dari tangsi polisi perintis Pingit – Yogya,  memang saya hormati dari ujung kaki sampai ujung kepala menilpun dengan suara lembutnya. “Tolong, anak saya disisipkan sebagai pekerja – apa saja asal dia bekerja..

Hati saya terasa ditusuk, suara diujung tilpun adalah orang yang kerap menolong saya, namun belum pernah saya membalas kebaikannya. Sekarang ketika ia minta pertolongan hanya demi anaknya yang seharusnya pintar karena lulusan universitas terkenal dengan angka kelulusan terbaik, malahan seperti orang patah sayap. Sepupu saya adalah korban ambisi seorang ahli matematika, jenius, yang kurang membumi sehingga meninggalkan luka ribuan orang menjadi pengangguran.

Sehari sebelumnya, kejadiannnya di rumah. Pagi-pagi seorang ibu sudah mendatangi saya dirumah sambil membawa putranya. Ketika saya mengajari sang anak cara menulis biodata dalam bahasa Inggris, dipojok sana ia meneteskan air mata, katanya trenyuh kok saya mau membantu anaknya.

Belum lagi ada himbauan dan email dari teman-teman dari teman senasib agar putra kesayangannya bisa bergabung dengan perusahaan kami. Saya bisa merasakannya sebab Satrio pun bisa jadi akan memposisikan saya seperti kerabat-kerabat tadi.

Rasanya sih sebuah kebanggaan bahwa orang lain kok bisa memandang hidup saya itu wah..wah, padahal hakekatnya aku kan seorang kuli pengeboran.

Sedihnya…

Saya sendiri tidak mungkin membantu mereka sebab rata-rata mereka memiliki keahlian yang diluar yang kami perlukan. Paling saya hanya bisa menampung biodata yang sudah saya revisi, untuk diberikan kepada bagian kepegawaian sebab mereka sendiri sedang mencari pekerja baru.

Saya memang takjub kepada pada pelamar, mereka rata-rata sudah siap lahir bathin untuk “fight” dalam arena mencari kerja. Agak kecut juga saya ketika melihat sarjana kita yang mencari kerja serba “ragu” kurang “PD” – sehingga dengan sedikit malu lalu meminta bantuan melalui orang tuanya. Saya yakin mungkin kulit wajah para lulusan tersebut sudah menebal beberama mm, tetapi keadaan memaksa.

Kadang untuk mencairkan suasana bagi para bapak dan ibu yang sedikit menekan, saya bergurau garing “kalau lowongan kerja banyak, tetapi lowongan yang membayar tenaga kerja yang tidak banyak…

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Hanya kepadamu saya memohon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s