Posted in gaya hidup

MasPion – bermula dari Lampu Teplok – mengundang Keplok


Cintailah ploduk ploduk Indonesia,” demikian iklan sebuah perusahaan perabot rumah tangga pernah muncul dilayar kaca kita. Dengan aksen cadel khas warga Tionghoa, maka siapa nyana Alim Markus, sang bos perusahaan Maspion, membuktikan ucapannya bukan sekedar retorika ala rumah rakyat di Senayan.

Maspion sendiri kepanjangan dari Mengajak Anda Selalu Percaya Industri Olahan Nasional, gaya mirip banyolannya Mas KelikPelipurLara. Tetapi kalau ditanya orang asing, maka Alim Markus menjawab MAsPion is Master Champhion.

Sejarah perusahaan MasPion tak lepas sebuah industri Lampu Teplok. Anda mungkin pernah melihat lampu minyak bersumbu kain yang  menggunakan semprong kaca agar tidak tertiup angin. Di Jakarta penjual Kerak Telor atau Wedang Ronde yang masih kedapatan menggunakannya.  Lampu ini ditempelkan pada dinding rumah. Lalu untuk melindungi bagian dinding yang biasanya dulu adalah gedeg atau papan, lampu teplok diberi pelindung sehelai kaleng.

Kaleng ini kadangkala dihiasi gambar wanita Gurun Gobi yang bintang filem Hongkong tersenyum dibalik lampu kendati kalau keadaan nyata, dipastikan kulitnya melepuh didekatkan pelita dalam jarak 10cm.

Pada tahun 1960-an dengan modal 8 karyawan, Alim Husin merambah usaha lampu teplok berkembang ke pembuatan ember dengan nama UD Logam. Dari situ terpikir untuk membuat nama perseroan dan logo sampai ditemukan MAspion, kata penerusnya “ploduk” Alim Husin yaitu Alim MArkus. Dan sejarah sukses mulai mengisi perjalanan bangsa ini. Apalagi Alim Markus paling getol kalau pada saat upacara 17-an ia selalu menjadi inspektur upacara peringatan Kemerdekaan Indonesia. “Indonesia harus Menolak Penjajahan Produk Asing,” itulah salah satu inti pidatonya didepan warga Maspion, tanpa retorika ala anggota perwakilan rakyat kita.

Mungkin kepingin tahu rahasia Maspion bisa sukses. Alim MArkus selalu main PingPong dan Golf. Pingpong melatih berpikir cepat, menerobos rusuk pertahanan lawan yang lemah, mengantisipasi serangan lawan. Di Golf ia masih bisa mengobrol, kata pria yang hanya lulusan SMP.

Posted in gaya hidup

4848


Seorang kerabat hendak bepergian dari  Jakarta ke Bandung dengan menggunakan alat transportasi mobil. Lalu saya menawarkan taxi 4848 karena sejak kecil saya hanya mengenal satu taxi yang dimiliki H. Irawan Sarpingi yang dibangunnya sejak 1959.

“Taxinya pada tua-tua, mobilnya kurang modis, dan lebih mahal…” begitu alasan mereka. Mudah-mudahan mereka tidak membayangkan mobil sedan Holden jaman “tahun jebot” – yang hanya bisa diisi dua penumpang dibelakang, satu penumpang disampir pak Supir.

Saya yang tidak banyak mengerti masalah transportasi Bandung hanya manggut-manggut. Lantas bagaimana cerita taxi 4848 yang dulu mangkal di jalan Asia Afrika, Bandung dengan nomor tilpun 4848 yang mudah diingat itu. Lalu kerabat menyebut taxi 4848 yang saat itu mematok 75ribu per trip, bila dibandingkan Taxi “menjamur” lainnya yang 60ribu rupiah. Bedanya taxi 4848 ditawarkan mengantar pelanggan “pintu ke pintu” sementara taxi menjamur hanya didrop di pusat pelayanan mereka.

“justru karena melayani penumpang sampai didepan moncong bel rumahnya, maka naik Taxi 4848 jauh lebih lama,” kilah kerabat ini.

Namanya bisnis penuh persaingan, apalagi sejak Tol Cipularang dibuka, maka perlahan ingatan saya akan taxi legendaris bermerek Holden tak terpisahkan dari sebutan kota Bandung, mulai terceraikan, apalagi anak-anak sekarang yang selalu ingin mencoba yang lain.

Lalu menguping teman sekantor yang hari itu akan berangkat ke Bandung menghadiri sebuah acara di Jati Nangor. Mereka menilpun perusahaan taxi, yang bukan saya sebutkan namanya. Namun pilihan sekarang adalah model kendaraan Taxi. Rupanya menurut pelanggan ini “ada taxi yang jenisnya rawan kecelakaan,” kata cewek bergigi besi yang mengambil program lanjutan dijurusan Fisika ini.

“Saya harus cermat menitik jam keberangkatan “model” taxi yang saya anggap aman. ” Kata gadis asal Pakanbaru ini.

Pemilihan barang bagi gadis yang bekerja di Perminyakan ini bukan pada harga, melainkan keselamatan.

Posted in mudlogger, oil rig

Pak .. aku mau kawin


Bulan Juli 2008 yang baru lalu – perusahaan kami melakukan penyaringan pegawai. Ini adalah sejarah kembalinya usaha mudlogging kami ke Indonesia setelah hampir selama lima belas tahun diterlantarkan. 

Dahulu perusahaan kami termasuk yang terkemuka dibidang usaha ini. Namun ada policy perusahaan untuk “memberangus” usaha yang dianggap tidak menguntungkan.  Saya adalah salah satu orang yang “diam-diam mendadak luka bathin menyaksikan beberapa proyek mudlogging termasuk Geothermal diserahkan begitu saja kepada perusahaan lain. Ketika waktu berlalu – lahan yang semula dikira kering, ternyata cukup gemuk dan menggiurkan.  Kali ini saya harus mau menjadi ujung tombak bisnis di Indonesia.

Sekalipun sudah memiliki pegawai asal Australia, dimana sebagian besar orang Indonesia, namun alangkah baiknya pada kesempatan ini kalau kami merekrut tenaga kerja dari Indonesia dan untuk Indonesia. Apalagi sebagai awal kami sudah mendapatkan dua pekerjaan pada pengeboran lepas pantai Sumatera dan Kalimantan.

Hampir dua puluh orang akhirnya yang berhasil kami rekrut. Yang membuat lega adalah ketika pengumuman dikirim melalui email maka keesokan harinya beberapa anak muda dengan wajah riang langsung menerima tawaran kami. Menandatangani kontrak yang dibuat oleh personalia.

Saya bisa merasakan kegembiraan mereka. Tetapi yang membuat bulu roma merinding ketika diantaranya langsung mengirimkan SMS: “Pak Saya Mau Kawin..sekarang saya berani melamar…” Mudah-mudahan Surat Kontrak Kerja yang diperlihatkannya kepada calon isterinya, bukan berarti kawin kontrak juga.

Merekrut Mudlogger – menjadikan mereka tim terbaik, adalah ambisi saya. Maka tak heran, melalui email, verbal saya tak jemu-jemunya memberikan bocoran, arahan agar tiga puluh peserta lulus semua. Sudah cukup rasanya dunia mudlogger didominasi teman teman dari Pilipina dan India. Untuk lebih memberikan “amunisi” saya mengatakan bahwa perusahaan kami memiliki paling tidak sepuluh divisi.

Maksudnya apabila dikemudian hari anggaplah (amit-amit nggak minta)  divisi SLS kami paceklik job, maka seperti yang sudah-sudah dilakukan cross training sehingga banyak para mudlogger pindah jalur menjadi Mud Engineer, MWD Operator, Bit Engineer, Coring Engineer dan masih beberapa cabang ilmu lainnya. Dan “sstt” – setiap lowongan pekerjaan selalu dibuka melalui komunikasi “internal” – dan jarang sampai menerobos keluar.

Iming-iming lain adalah kemungkinan bekerja “overseas” – sehingga mengeruk banyak dollar.

Tentu tidak semua termakan umpan saya. Ada yang langsung ngibrit pindah ke perusahaan lain yang hanya memiliki satu divisi SLS, alias sangat beresiko jika disuatu saat kelak proyek mereka selesai, terhenti. Ada yang ketika saya tilpun tidak mau mengangkat. Lalu tiba-tiba datang SMS menyatakan mengundurkan diri.  Biasanya mereka mendapat himbauan perusahaan, atau iming-iming tambahan bonus dan pelatihan di luar negeri. 

Hanya kalau boleh saya berpendapat, kebanyakan memang manusia Indonesia ini mudah dan amat pelupa. Dulu sekali mereka pernah dijanjikan akan dibelikan rumah ala kadarnya, dijanjikan ini dan dijanjikan itu sekalipun belum secuilpuin direalisasikan. Entoh ketika dibuai dengan iming-iming serupa, mereka lupa diri dan langkah tegap setengah berlalri untuk bergabung “lagi” dengan para penjual iming-iming. Duuh.

Beberapa mulai tarik ulur dengan harapan mencungkil satu dua dollar lebih banyak. Apapun juga alasannya, kesejahteraan para MudLogger mulai diperhatikan seksama oleh induk semangnya.

Mulai sekarang, selain saya dan keluarga ada dua puluh keluarga bergabung bersama kami. Mudah-mudahan berbekal pengalaman saya selama lebih seperempat abad di dunia permudloggeran saya bisa membawa perusahaan berlogo bola dunia dengan garis lintang dan bujur timur menjadi perusahaan disegani.

Semoga

Posted in humor

Mentri Kita ada yang bergelar JAMES BOND


Kendati masuk deretan orang terkaya di Indonesia, seorang menteri kita Sofyan Jalil tidak bosan-bosannya mengatakan bahwa ia berasal dari keluarga tak cukup mampu sehingga sekolahpun mencari yang terdekat dan murah. Sambil sekolah, bapak berkumis tebal ini sering tidur di Mushala, sehingga namanya ditambah menjadi JAMES = Jaga Mesjid.

Nama James (dibaca JAMES) rupanya memang populer. Bahkan di Muara Enim para penyidik kejahatan menjadi terpingkal karena ada copet selalu menulis namanya “JAMES BOND” – jelas tidak ada hubungannya dengan serial tulisan Ian Fleeming yang sang jagoan James Bond berciri khas menyebut nama duakali. Misalnya “my name is James..James Bond”

Setelah didesak-desak,  rupanya James Bond adalah singkatan profesi sebelumnya “JAGA MESJID merangkap JAGA KEBON”

Lalu ada yang selalu memasang jabatan sebagai KABAG /KASI yang didalam pemerintahan adalah singkatan dari Kepala Bagian dan Kepala Seksi. Tetapi melihat penampilannya yang setiap hari duduk diwarung kopi, orang baru sadar bahwa jabatannya adalah “Katik Bagian Katik Kursi” – katik=tidak punya.

Posted in gaya hidup

Bobot – Bibit – Bebet dan Besek


Nasehat bagi para gadis yang masih mencari jodoh. Berhati-hati dalam mendatangi perayaan entah acara keluarga, acara keagamaan yang berkaitan dengan hidangan.  Apalagi yang punya hobi membawa pulang penganan dengan alasan “buat orang dirumah” – Salah-salah jodoh didepan mata bakalan melayang hanya gara-gara soal tas kresek.

Bobot, Bibit, Bebek sudah lama dikenal masyarakat kita terutama Jawa dalam memilih menantu.  Pengejawantahannya banyak artis melakukan pdkt dengan anak pejabat. Paling tidak kalau terkena perkara pidana, sang koneksi bisa diminta bantuan agar mendapatkan fasilitas agar meringankan perkara.

Namun apa urusannya dengan Besek. Sebuah kotak terbuat dari anyaman bambu yang biasanya digunakan untuk membawa nasi beserta lauk pauknya. Jauh sebelum dikenal kotak kardus seperti sekarang.

Soal besek ini pula yang bisa mengakibatkan niat untuk mengangkat menantu dikubur jauh-jauh dan dalam.

Alkisah sebuah keluarga memiliki salah satu anak lelaki yang cukup dewasa. Dalam komunitas keagamaan yang sering dilakukan dirumah keluarga ini, tampaklah seorang gadis cantik yang rajin mengikuti acara keagamaan dan nyaris tidak pernah absen, apalagi sigadis sudah bekerja pada pada sebuah perusahaan swasta. Klop sudah pendeknya keluarga jatuh hati untuk menjadikannya menantu.

Tapi eiiit nanti dulu…

Diam-diam ada tim relawan yang mengadakan “Fit and Proper Test,” Ada bisik-bisik tak sedap bahwa gadis berkulit cerah dengan kacamata minus ini punya kebiasaan kurang “sedap.”

Saat acara hidangan dikeluarkan pihak tuan rumah, tanpa sepengetahuan orang lain diam-diam ia mengheluarkan tas plastik yang dibawa dari rumahnya. Dalam hitungan menit, sayur, kuah, perkedel, ayam goreng bakalan pindah kedalam keranjangnya untuk dibawa pulang.  Datang tampak tas, pulang tampak bak bandar ikan Lohan lepas belanja bayi ikan mas.

Entah malu akan bisik-bisik tetangga, saya dengar pilihan yang semula “kenceng bertiup” ini perlahan melemah dan tali jodoh terputus. Untungnya si gadis “pembawa bongsang” tidak menyadari hal tersebut.

Kalau gadis ini kelak berumur panjang, lalu pikun, bisa jadi kelakuannya seperti seorang nenek di Palembang. Nenek ini juga memiliki kebiasaan membawa tas plastik dalam acara pengajian. Saat memulai aksinya ia akan berkata seakan-akan kepada salah satu hadirin maya “Kau Galak?” – maksudnya adalah kamu mau (saya ambilkan). Galak dalam bahasa Palembang =ingin,mau

Lalu ia berpura menengadahkan kepalanya seakan melihat seseorang dibelakang sana sambil menawarkan jasa “Aiii…Kau Galak Jugo..” artinya “kamu mau juga (saya ambilkan makanan). Padahal tak seorangpun yang merasa diajak bicara olehnya.

Maka dalam tas plastiknya akan didapat berkaleng minuman ringan, makanan, kuwe  dengan alasan “membawakan titipan teman virtual.”

Posted in gaya hidup

Tilpun Pocong


Dalam perjalanan dari Perth ke Jakarta saya harus singgah di Denpasar. Biasanya sambil transit di bandara saya manfaatkan untuk menilpun keluarga.  Seperti sudah di atur nomor HP lama eight one one _ selalu mengeluarkan pesan Nine One One alias gawat darurat agar saya menyelesaikan “pembayaran” – padahal bertahun-tahun menggunakan jasa “one bill” dari sebuah perusahaan kartu kredit.

Tertarik akan iklan operator celular yang kocak saya memilih kartu perdana yang belakangan dikabarkan bisa menilpun pocong. Ternyata iklannya betul, dalam hitungan detik, sambungan tilpun wafat atau menjadi pocong. Atau kadang muncul pesan error. Menjengkelkan memang dua pesawat HP saya praktis tidak dapat digunakan.

Lalu saat nomor tadi dibawa ke Yogyakarta, sekalipun tidak mendapatkan pesan error namun kami kesulitan mengisi pulsa karena menurut penjualnya ada gangguan pada jaringan. Herannya kerabat di Jakarta selalu mengacungkan dua jempol manakala saya tanyakan pengalaman menggunakan jasa operator.

Namun acungan jempol sempat menggantung lunglay ketika kerabat saya Dodi mengeluh bahwa saat bertugas di Lampung khusus operator yang sama praktis tidak bisa dipakai. Gangguannya berupa salah sambung nomor yang dituju.

Terakhir pengalaman saat anak saya berada di Banda Aceh juga mengaku tidak bisa menggunakan operator tilpun pocong.

Ini memang hukum ekonomi. Manakala ada barang dibuat murah atau gratis, resikonya kualitas bakalan kedodoran seperti yang kami alami.

Akhirnya kami kembali menggunakan operator selular yang sedikit mahal namun kwalitasnya tidak kedodoran.

Posted in gaya hidup

Rejeki Lebaran


Kapal diperbaiki menjelang Lebaran
Kapal diperbaiki menjelang Lebaran

Saat menunggu kapal roll ro datang, Saya memang sengaja memotret kapal yang sedang diperbaiki di pelabuhan Merak ini. Pekerja yang asyik memukuli pelat besi sampai tabung-tabung gas berserakan disekitar kapal penyeberangan ini.

Ternyata mengejar target agar saat ekskalasi mudik tiba sepertinya menjadi mode kita belakangan ini.

Menarik perhatian bagaimana mengamati mulai dari jalur Pantura,  jalan Tol antara Merak – Jakarta, jalan di kawasan bekasi seperti Jatikramat, jalan Ratna, Jalan Kodau semua diadul-adul secara bersamaan. Jalanan menjadi semakin sempit dan macet tentunya.

Kalau sudah begini anak-anak tanggung mulai akal-akalan, sekalipun jalanan sudah bisa dipakai, mereka masih membuat barikade agar supaya pengguna jalan melambatkan jalannya dan eng ing eng sebuah ember diangsongkan.

Lalu di saat menempuh perjalanan di Lampung keadaan tidak jauh berbeda. Jalanan bypasspun di odal adul secara seksama dan terencana sehingga lagi-lagi kemacetan menjadi-jadi.

Semua dengan satu slogan, lebaran pasti siap. Sekalipun selama menghirup kemerdekaan selama 63tahun, kata-kata sakti itu selalu menjadi retorika belaka.

Tapi ngomong-ngomong – ada yang membisiki saya, sudah diperbaiki saja seharusnya bersyukur.