Posted in gaya hidup

ASRA NOMANI


Perempuan yang dalam foto selalu nampak dengan rambut hitam sebahu ini memang berani menantang arus berbahaya. Bayangkan, ia seorang wanita yang pada 18 Maret 2005 ia menggelar Salat Jumat di New York edisi spesial  “Women Praying.”

Sementara Imam perempuan yang dipilihnya adalah seorang penulis wanita asal Afrika Selatan Dr. Amina Wadud yang kondang dengan buku Quran dan Perempuan.

Setelah semua persiapan dilakukan masak-masak, maka lokasi sembahyang Jumat bersejarah ini rencananya akan dilakukan di Galeria Sundaram Tagore di NewYork. Namun ancaman bom dan kekerasan lainnya dari pihak yang terbakar emosinya akibat ulahnya tidak kunjung sirna.

Akhirnya Asra menghubungi sebuah gereja Anglikan di Kathedral St John The Devine. Kok ndelalah, pengurus gereja yang biasanya alergi terhadap yang hal berbau Islam malahan membuka pintu lebar-lebat dan mempersilahkan umat islam perempuan melaksanakan salat jumat dibawah atap kubah mereka.

Sebuah pertunjukan empati diperlihatkan, kelompok Mayoritas Amerika  memberikan pengayoman kepada kelompok minoritas, bukan menghancurkannya.

Sebelum acara di mulai, Asra Nomina mantan wartawati the Wallstreet Journal ini maju ke depan mimbar, mengucapkan selamat datang kepada para pengunjung dengan rambut sebahu masih tergerai tanpa penutup.

Hopo tumon.

Ia memang berani mengubah pendapat. Wanita masuk mesjid harus dari depan, katanya. Pendapat ini didasarkan pengalamannya saat naik Haji. Di Mekah ia melihat orang berbondong-bondong memenuhi panggilan salat. Lalu mengapa perempuan tidak boleh, katanya.

Buku yang pernah ditulis Asra adalah Standing Alone in Mecca – mengisahkan seorang perempuan wartawati Wallstreet Journal yang mencoba menapak tilas perjalanan Siti Hajar. Seorang Single Mother yang ditinggalkan di padang pasir yang gersang dan harus berjuang sendiri melahirkan anaknya. Nomani seakan mendapat gagasan bahwa kalau Siti Hajar mampu menentang maut demi sebuah keyakinan, mengapa ia manusia modern tidak berani mempertahankan pendapatnya. 

Bahan diambil dari Majalah Gatra

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s