Posted in gaya hidup

Ketika terpaksa berseteru dengan tetangga


Empat tahun lalu, saat baru pindah kekawasan rumah yang kami tempati sekarang ini, suasana masih lengang. Kiri kanan masih ditumbuhi kebun-kebun singkong atau pisang liar. Kata seorang penggarap tanah, bang Najam yang mengaku “tidak punya Jawa” alias penduduk aseli sini, “dulu rumahnya masih mencil mencil.”

Saya pindah dari Jakarta Barat karena tidak tahan dengan ancaman banjir saban tahun. Bayangkankalau sudah musim penghujan tak jarang kami tidur dengan yang diganjal Batako sebagai jaga-jaga kalau mendadak air masuk. Tak terhitung kerusakan body mobil, TV, Kulkas, Mesin Cuci, Lemari, Furnitur ainnya karena terendam banjir.

Maka amatlah suka cita saya ketika di kawasan baru ini tetangga masih sangat bisa dihitung dengan jari. Salah satunya adalah sebut saja Mr. X.

Maka ketika hari “H” pembangunan rumah dengan ramah mereka menerima kedatangan kami.

Maka sampai sekarangpun saya masih ingat dibelikan sekaleng minuman ringan dan dingin. Menjelang magrib, saya biasanya mengobrol di depan sekedar poltik, atau apa saja.

Pernah suatu siang anaknya pulang menangis lantaran tidak punya seragam, tidak ada salahnya kami talangi uang seragam demi anaknya yang bersekolah. 

Suatu ketika terjadi kecelakaan, keluarga ini sedang menunggang sepeda motor ketika sebuah tabrakan tak terhindari. Istri saya dengan sukarela mengantarkan mereka ke rumah sakit. Kadang saya dimintai tolong mengantarkan anak-anak  ke sekolah lantaran kakinya masih digips.

Lucunya sang ayah malah berpangku tangan sebab menganggap “kecelakaan tadi adalah hukuman yang setimpal bagi anak dan istrinya..yang bandel

Diantara manisnya persahabatan kami ada juga tetangga lain yang usil, salah satunya adalah seorang kakek yang memiliki banyak rumah kontrakan.

Hati-hati lho dengan mr X, dia anak muda tetapi…..,” kata-kata kakek tersebut tidak diteruskan. Namun kakek tim pembisik yang konon purnawirawan ABRI ini seperti menyisakan tanda tanya kepada saya. 

Nanti tahu sendiri..” – katanya penuh arti.

Sebagai warga baru  saya menghadap pak RT dikediamannya untuk urusan pajak PBB, baru saja sandal dilepas memasuki halaman rumahnya yang kecil, sederhana namun penuh dengan anak kecil (dan bau pesing) pak RT kami langsung nyerocos “mau laporan berantem dengan Mr X ..ya” – Dia menyebut nama tokoh yang saya anggap sohib dan sohibah sejati ini.

Seperti memahami wajah kekagetan saya, Pak RT meneruskan “biasanya warga saya ngadu ke saya kalau sudah berantem sama dia(h) – alias Mr. X

Ada apa ini, pikir saya bingung. Orang demikian baik kok dibilang “biang kerok.”

Namun kenyataannya sepuluh tetangga yang kami kenal rata-rata bernada sama  miring pendapatnya tentang Mr X. Malahan ada yang enteng berkomentar : “kok bisa-bisanya anda bertemanan dengan dia…

Entah apa maksudnya dengan membandel versi Mr X ini.

Sejak itu kami makin sohib, gandeng renteng dengan catatan Ny X yang selalu datang ke rumah kami. Sayangnya sang istri suka sekali menggunjingkan keburukan suami sampai kadang tercetus kata ingin minta cerai. Biasanya kalau sudah mendengar kata-kata “bertuah ini” ini buru-buru pembicaraan kami potong dengan mengatakan “ingat anak-anak masih kecil..“. 

Reaksi saya mendengar “gossip” tentunya mengambil langkah “tutup mata, tutup telinga, jauhkan rasa suudzon (curiga) apa lagi kepada tetangga dekatmu, sebab saudara yang sebetulnya adalah tetangga dekatmu…” – begitu kira-kira yang saya sering dengar dalam ceramah-ceramah di mesjid.  Apalagi waktu muda saya gemar mengumpulkan potongan kata mutiara salah satunya “Seribu teman masih kurang, satu musuh terlalu banyak..

Maka hubungan antar tetangga berjalan bak bulan madu. Sayangnya memasuki tahun kedua, hubungan menurun dan kami mulai saling menjauh. 

Puncaknya pada suatu saat, Mr X terlibat cekcok mulut sesama tetangga lantaran urusan sepele. Tentu saja istri yang kebetulan ada ditempat kejadian segera melerai dan memisahkan keduanya agar tidak meneruskan percekcokan tersebut.

Diluar dugaan, Mr X tidak terima mungkin pikirnya kami harus mendukungnya menyerang tetangga baru, mengapa ini malahan berada dititik netral.

Dimulai dengan pemberian kami berupa Penganan, atau masakan langsung ditolak oleh anak-anaknya dengan alasan jelas “dilarang bapak saya.”

Yang tidak disangka-sangka perang dingin ini berjalan memasuki ulang tahun ke tiga.  Sementara permusuhan dengan tetangga baru yang lain mulai dia canangkan. Rupanya tetangga saya berprinsip “Seribu musuh masih kurang… Hilang satu cari gantinya

Di sebuah pagi di bulan Juni 2008, sekitar jam 9 pagi saya mendengar sendiri pembantu dimaki-maki oleh sang istri Mr X hanya karena pembantu membuka pagar rumah kami terlalu keras menurutnya. Padahal kuping saya selalu setia mendengar motor digeber dari jarak 5 meter, anak-anak saling caci maki sambil berteriak memanggil penghuni ragunan. Dan pagar besi yang berkerot-kerot saat dibuka. Toh kami tidak pernah mengeluh.

Salah satu kalimat serangan terhadap mbak pembantu saya adalah “cari kerja lain kenapa, jangan jadi Babu..” – dan di amini oleh anak perempuan (SMP) yang nampaknya sudah mewarisi sifat suka bertengkar.

Saya sempat tercenung. Pasalnya setiap hari hampir 24jam keluarga ini mendengarkan kaset atau radio besirikan  pengajian, ceramah para ustad pendeknya semua yang bersikap religius.  Volume kaset disetel untuk pendengar penderita pendengaran berjarak 20meter. Super keras, apalagi terhubung dengan pengeras suara yang diartahkan ke rumah kami.

Maksudnya baik, namun kalau hampir 24jam orang dijejali materi dari kaset, jangan-jangan yang naik kesurga nanti malahan radio Panasonik miliknya. Lha tuannya sendiri tidak pernah terdengar melantunkan ayat suci. Kadang dakwah dibawakan dalam bahasa sebuah suku yang selalu diejek miskin dan penakut. Sekaligus pertanda bahwa sebetulnya sang pemilik radio sebetulnya tidak menyimak radio yang disetel secara membahana tersebut. 

Pernah ada kejadian lucu. Suatu sabtu siang, kami kedatangan tamu. Biasanya kalau mendengar ada tamu, tetangga saya langsung bereaksi dengan meningkatkan volume radionya. Akibatnya tamu yang sehari-harinya pegawai mulai gelisah mengira masih hari Jumat sebab ada acara pengajian dari corong mesjid. Hampir saja dia pulang karena kuatir bolos pada hari Jumat. Senyumnya mengembang setelah kami beritahukan duduk perkaranya.

Kadang saya ikut menguping saat sang ustad dalam kaset mengajarkan agar menjadi orang rendah hati.  Namun  mengapa si pendengar justru berinterpretasi menjadi pembantu rumah tangga (dan halal) adalah perbuatan hina. Atau bermusuhan dengan hampir seluruh tetangga sekitarnya hanya akibat persoalan remeh temeh.

Belakangan ini kami makin repot lagi dikambing hitamkan. Pasalnya sudah dua kali ibu pemarah ini terpelanting dari kendaraannya manakala ia melewati rumah saya. 

Dugaan saya saat melewati rumah saya ia buru-buru mempercepat laju motornya dan lupa mengontrol kendaraan. Itu saja.  Celakanya manakala ia terjatuh, kami yang disalahkan. Jangan-jangan kalau ada yang ketusuk paku dirumahnya, kami lagi yang disalahkan. Repot kalau suami istri sudah memasuki mode “parno”.

Jangan-jangan dikira aku menggunakan guna-guna lagi. Bisa runyam nih.

Kemarahan hanya membawa kesialan, mungkin itu pesan moral dibalik peristiwa ini.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Ketika terpaksa berseteru dengan tetangga

  1. Bingung ya… Okey saya sederhanakan natinya. Masih terlibat pergulatan emosi sih aku… Mudah-mudahan saat berfikir jernih tulisannnya menjadi jernih

    Like

  2. jangan mas.. jangan di sederhanakan. apa adanya sajalah. malah enak bacanya karena jadi merasa ikut tinggal disana.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s