Posted in gaya hidup

Arthalina alias Alin van Bekasi


Tak terasa saya sudah empat tahun tinggal di kawasan Bekasi, banyak teman didapat satu seteru juga tak terhindari (cerita berseteru ada diblog saya).  Tapi selama itu juga usaha saya pasang telkom kabel belum pernah berhasil.

Selalu ditawarkan pakai saja Nirkabel yang kalau ternyata sekalipun “Kalauw Dewi Persik Yang Nilpun Aku, Oiii suaranya tetap Dewi peresak..perosok. Tapi keinginan memiliki tilpun kabel belum pernah tutup buku.

Kok sepertinya kesabaran saya membuahkan hasil, di luar dugaan.

Kebetulan seorang teman senam istri berkunjung ke rumah. Lalu “Lina” bukan nama sebenarnya, perempuan berkerudung, bertubuh mungil dengan parfum mirip kesukaannya BungKarno tahu kami cuma pakai tilpun CDMA yang kemrosok rosok, lantas mengulurkan tangan dan mengangkat tilpun (ke Telkom), selesai haha hihihi dia bilang dalam dua hari lagi petugas akan datang.

Mana saya percaya. Untung saya tidak sesumbar mau cukur kumis separuh. Sama alisnya sekalian.

Lia di Singapura ikutan sinis bapaknya langsung ber SMS “paling sebentar ganti nomor lagi, seperti yang sudah-sudah..”

“Apalagi … disini tidak ada tiang tilpun terpasang…” kata saya dalam hati. Pasalnya – empat tahun lalu waktu saya menancapkan tiang bamboo tanda pembangunan rumah dimulai (maksudnya sebagai memento pesangon dipecat dari Geoservices) – maka bersamaan petugas telkom mencabuti tiang tilpun, lantaran daerah ini masih dianggap lahan tidur.

Tapi.. sekali lagi tapi, seperti kata iklan Rizal di TV yang awalnya menjual sentimental Bung Karno – “If there is a will there is a way”

Maka, tak lama kemudian, bat-bet kabel tilpun mulai diulur keutara, diseret ke selatan. Soal tiang tilpun tidak tersedia selama masih ada tiang listrik maka “if there is a will there is a way..”

Tilpun rumah kini kring terpasang.

Kepada ibu muda “lencir” dengan gelang emas dikaki kirinya, berparfum ala Shalimar (ini parfum Bung Karno, ikutan sentiment Rizal M). Kami mulai menyebutnya dengan nama tambahan “arthaLina” – dan panggilan sehari-hari menjadi “ALIN” – lha saya empat tahun rajin tanya sana sini di Telkom, gagal maning son. Si ibu sonder banyak bicara dua hari langsung kring.

Kalaupun ada yang mengganggu ke bhineka tunggalan saya adalah sang petugas wanti-wanti bahwa dia phobia pada ethnic tertentu. “Soalnya, sudah dibantu tapi pelit (kasih persen) , tahu-tahu bikin surat kaleng ke pimpinan.” kata pak Telkom yang tidak mau disebut namanya. Oalah pak cuma pernah kecentok (kesandung) satu dua orang kok satu suku disama ratakan.

Gara-gara itu kami jadi sedikit obral persenan. Kuatir daftar kebencian atas suku bertambah lagi.

Tapi dibandingkan dengan nyaris satu repelita menunggu. Caputauw lah.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s