Posted in gaya hidup

Repotnya mengurus Speedy – tapi masih okeylah


Setelah empat tahun menunggu. Tilpun kabel (telkom) di rumah kami sudah sudah terpasang. Krang-kring-krang kring bunyinya. Sangat merdu, seperti lagu ciptaan Melly Guslaw ditelinga rasanya. Melihat bodi tilpun yang mengkilat, seperti Riyan van Jombang merindukan Novel kekasih sesama jeruknya.

Gila, merdeka sudah 63 tahun, urusan tilpun kabel sama sulitnya dengan mengharap minyak turun ke 18 dollar per barrel.

Nafsu serakah saya muncul, mengapa tidak sekalian pakai jasa mas PAIDI a.k.a Speedy.

Pasalnya di layar iklan ada seorang Yuppi naik taxi ke Bandara, supir taksi sregal-sregol dengan kecepatan tinggi membawa penumpamng ke tempat tujuan. Lalu dengan gaya tengil ala Mafia Hongkong, kacamata hitamnya dibuka lalu ditiup-tiup. Baru sadar mereka masuk ke stasiun Kereta Api. Iklan lain Adi dirijen kondang hanya pakai layanan mas Paidi.

Saya tanya teman satu negeri Bekasi, dia bilang sudah pakai masPaidi bertahun. Kadang lambat kadang sangat lambat. Maksudnya kalau cepat sih dialaminya pertama dia berlangganan. “Persis macam pancuran air, kalau cuma satu salurannya, airnya ngocor deras, tetapi kalau sampai dibagi berpuluh saluran, masing-masing kebagian kocoran yang kecil…”

Sementara tawaran RT-RW-Net sudah jauh-jauh saya kubur. MENGECEWAKAN.

Hanya bulan pertama saya bisa menikmatinya, sesudah itu kejengkelan demi kejengkelan karena sambungan luar negeri rusak, listrik oglangan (lampu pemadaman), ada pohon besar melintang diantara pemancar dengan rumah saya dan banyak lagi alasan mereka. Bisa dipastikan saya harus ber SMS terlebih dahulu kepada pengelolanya agar “dikasih ruang sedikit.” – iki piye iki. Padahal di blog ini saya pernah menulis gegap gempita RTRW Net – yang saya pikir akan menjadi terobosan mengIT-kan masyarakat desa.

Sulit mencari yang penyedia yang profesional. Kalau ada penyedia RTRW saya datangi lalu saat janjian instalasi mereka tidak datang, saya tidakmentolerir lagi (dulu masih).  Biasanya mereka akan bilang sibuk, banyak instalasi RTRW sehingga saya pikir biarlah mereka selesaikan kesibukannya.

Nama mereka langsung saya coret sebagai tidak serius. Dan saya tidak pernah akan menjawab tilpun dengan pelbagai alasan. Pasalnya kalau perbuatan ini ditolerir, dibelakang hari akan makin tidak menjengkelkan, kecuali kalau menagih bon iuran cepatnya seperti kilat.

Nah saat masPaidi ber promosi kata TV, maka disuatu subuh pagi nan dingin tanggal 31/07/08 saya dial nomor 147, tekan 1 tekan 2 dan hello dengan Gading disini ada yang bisa dibantu. Lalu saya berikan nomor saya, terdengar diujung telpun suara papan ketik ceklak-ceklik.

Nomor sambungan baru ya pak…” – Tanya mas Gading yang bukan anak Roy Martin.

Akhirnya terjadilah transaksi berlangganan Speedy kelas promo.

Telkom rupanya sedang gencar mengejar bola. Pikir saya.

Hari Jumat 2 Agustus 08 saya ditilpun. Ringkasnya layanan yang diminta sudah siap. Pasukan pemasang akan menginstalasi pada hari Selasa 5 Agustus 2008.

Tentu hati saya kaget terkaget. Orang bilang sebulan baru dipasang, maklum promosi. Menyesal saya sering berpendapat bahwa antara PROMOSI(janji)  dengan TEKNISI (realisasi) sering tidak ngeklik. Pihak sales gencar menjual produk sebanyak-banyaknya, sementara pihak teknik nggerundel, “situ (bagian promosi) enak-enak promosi ini dan itu sambil makan-makan, bagi-bagi kaos dan cendera mata,” kami disini pekerjaan tambah berat. Minta tambahan tenaga tidak diberi.

Maka hari Selasa bukan kliwon saya wanti-wanti kalau ada orang Telkom pertama harus hati-hati kalau mereka cuma telkom edisi ManggaDua alias palsuan a.k.a penjahat berbulu Telkom.

Kedua menyiapkan uang dan meterai secukupnya.

Sayang, seribu sayang, impian saya melayang jauh, menukik ke bumi seperti episode Adam Air yang bikin semua orang blingsatan sekaligus menyegarkan kita bahwa soal keamanan penerbangan kita dibawah titik nadir, tapi marah kalau ditegur.

Hari Selasa lalu yang semula seperti Riyan menantikan Novel berubah menjadi hari bagi pembantu (alm) Lina yangbekerja pada keluarga Dokter Tan yang mempunyai istri Renata sudah memiliki  kesukaan menyiksa dan bunuh dua pembantunya sejak 1996-2008 namun selalu lolos dari jerat hukum. Mungkin uang punya kuasa sehingga mengubah pemeriksaan menjadi orang tidak waras sekalipun belakangan suami bilang istrinya sangat waras (Warkot 24Juli 2008) dan celakanya lagi lepas dari hidung wartawan karena keburu ditilep berita Riyan van Jombang.

Tentu saja setiap pagi buta saya menilpun 147 untuk layanan mas Paidi. Jawabannya cukup klasik, jaringan ketempat bapak belum dibuka karena mengalami kendala. Atas jasa seorang teman yang kami gelari ARTHALINA alias (Alin) van Bekasi, ternyata memang betul Speedy yang gencar beriklan sejatinya belum didukung infra struktur. ALias alatnya belum tersedia.

Lalu siapa yang tilpun dan mengatakan bahwa Hari Selasa lalu semua pasti beres? Hantu belaukah?

Tapi tak mengapa, hari Selasa 12 Agustus 2008, saya kedatangan pak Burhan dan Khairil, dua-duanya dari Telkom Speedy. Sebentar saja speedy saya sudah terhubung, hanya dengan biaya aktivasi 63ribu rupiah. Rasanya kepingin menjerit (kenes) masih ada barang murah di Indonesia (kalau mau) Lho.

Dan belakangan saya masih ditanya oleh pihak Telkom, bagaimana speedynya. Saya menjawab tidak ada masalah, aman dan terkendali.

Lalu Speedy saya pasang Router Wireless. Gara-garanya ada SMS dari adik ipar perempuan yang sedang berbelanja di Glodok. “Mas aku ada di Glodok, mau titip apa? aku sedang lihat-lihat wireless modem..”

Singkat kata, sesampainya barang di rumah, wireless saya pasang dan disetup sesuai dengan manual. Ternyata tidak berfungsi. Lalu saya baca tilpun hotlinenya, dan mendapat bantuan teknis sehingga rumah saya bisa dipasangi hotspot kecil-kecilan. 

Lho kok 1 September 2008, lampu pada modem Prolink9200 saya ada yang aneh. Harusnya 4 lampu sehat semua, tetapi satu indikator INTERNET nampak mati. Laporan demi laporan ke 147 saya lancarkan sekalipun untuk diterima operator sangat sukar. Mungkin berjubel yang mengadu. Bantuan teknis demi teknis memang saya terima, namun nampaknya gangguan belum teratasi.

Saya sampai hapal pertanyaan-pertanyaannya seperti apakah saya mengganti kata sandi “hxgoog03po” yang diberikan saat pemasangan awal speedy. Tentu saja saya iyakan sebab memang standar operasi  untuk mengganti password sesegera mungkin. Pertanyaan lain adalah apakah tilpun diparalel, dan saya tolak, sebab saya hanya pakai wireless phone di ruang tamu. Hari Kamis tanggal 4Sep, petugas Telkom datang. Analisa mereka Prolink9200 rusak. “Heran, kan modem ini baru dipasang,” begitu laporan diantara mereka yang sempat saya dengar.

Jumat, tiada kabar dari Telkom sehingga saya menilpun 147, yang kali ini langsung dijawab oleh operator dan menanyakan realisasi penggantian modem.

Baru hari Sabtu 6 Sep, diluar pagar terdengar suara motor bebek menggeram, tidak lama kemudian bel berbunyi.  pak Susilo dari Speedy datang dengan rekannya. Zonder banyak cingcong, modem Prolink9200 dilukir dengan Aztech DSL605EU. Dan langsung speedy berfungsi kembali. Setelah lima hari menunggu dan melapor.

Saya Happy.. Speedyku menyala kembali.

Kampung RawaBogo 73

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Repotnya mengurus Speedy – tapi masih okeylah

  1. pak de, saya sempat kerja di perusahaan jasa internet kaya’ RTRW gitu
    sekitar 6 bulan..

    kalo di bandingkan produk nya PAIDI emang jauh, masalah teknis d lapangan memang bisa d minimalken.. yakak contohnya pohon2 tadi..

    tapi sialny memang klo d daerah panjenengan masih belom terpasang emang susah,
    negative ituh..

    coba pak de liat2 di sini http://www.firstmedia.com/fastnet_product.html
    #bukan promosi ini# tapi kata temen2 yang udah pernah pakek, mereka puas bgt..

    sayang nyo produk ini cuman ada d jkt, jogja sik d golongken daerah utan jati mungkin ya.. hehehe

    smoga bisa membantu (^_^)

    Like

  2. Mas Faisal, saya sudah cek fastnet ternyata masih menganak tirikan daku. Mereka belum lewat di jalan Raya Kodau V – ihik ihik

    Like

  3. Hari Selasa 12 Agustus 2008, pak Burhan dan Khairul dari Speedy datang membawa Prolink ADSL2 Modem Router. Langsung hari itu juga Speedy saya jalan melenggang. Hanya dengan 63 ribu rupiah. Luar biasa vagansa.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s