Posted in gaya hidup

Perumahan Elit Kedoya yang maut.


Geram karena ada dua pembantu dibunuh
Geram karena ada dua pembantu dibunuh

Geram karena ada dua pembantu dibunuh

Mas mbok ditulis itu kasus istri dokter yang sudah membunuh pembantunya sebanyak dua kali, lalu beritanya menghilang begitu saja. Nanti kalau dia membunuh pembantu yang ketiga, keempat apa akan kita biarkan begitu saja,” – yang bicara ini seorang ibu rumah tangga.

Dia geram membaca berita pembunuhan dilakukan didepan pembantunya yang lain dan selalu lolos dengan alasan “tekanan kejiwaan” – lalu bebas.

Yang saya kuatirkan (tapi dia bilang takutkan) sekarang kan media gencar mengekspos soal pembunuhan berantai yang dilakukan  Riyan, jangan-jangan dengan kekuatan uang diam-diam sang pembunuh lolos lagi, lalu membunuh lagi beberapa tahun kemudian..Belum lagi suami sang pembunuh kok enak saja tidak tahu kelakuan istrinya selama ini yang hobi menyiksa pembantu. Mustinya sang dokter spesialis anak juga diperiksa.”

Aduh, ibu membombardir saya seperti sulit disela.

Kalau nggak ada bahannya, saya punya klipping dari Warta Kota dan Kompas, mau” – tanyanya dengan kata “mau” seperti bahasa iklan yang menjual pelayanan berbasis selular yang termurah.

Menurut Salah satu harian Ibu Kota kejadian sadis  pada tanggal 22 Juli 2008 terjadi disebuah perumahan yang dihuni oleh orang Elite dan Terpelajar yaitu KEDOYA GARDEN – Kebon Jeruk. Pelakunya Renata Tan (49) istri Dokter Spesialis Anak, konon seperti kesetanan menjambak dan membenturkan kepala korban Septiana yang sedang mengepel di lantai dua sampai sekarat lalu diseret ke lantai satu dan disiram air panas.

Melihat korban tak bergerak, Renata Tan malahan marah dan menganggap korban berpura-pura pingsan atau tidur.

Tahun 1996 menurut Kapolresto Jakarta Barat, Renata pernah menyiksa pembantunya sampai tewas, tetapi bebas karena dinyatakan memiliki kepribadian Ganda oleh tim pemeriksanya. Publik curiga, kalau posisi Renata adalah orang miskin lalu membunuh temannya, apakah tim pemeriksa akan mengatakan hal yang sama (berkepribadian ganda). Atau kita menunggu jatuhnya korban pembantu lainnya di Kedoya Garden hanya kecolongan para sadiswan dan sadiswati yang pemain watak.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s