Posted in gaya hidup, politik

Artis Menjadi Politikus


Menjadi politikus adalah hak setiap warga. Lha wong Arnold si manusia otot jadi Gubernur California, Ronald Reagan, “Dirty Harry”- Clean Eastwood, juga sukses.

Hari Sabtu, awal Agustus 2008, dua artis yang saya kagumi ikut bicara di TV mengenai alasan mereka masuk panggung politik.

Ayu Soraya
Ayu Soraya

Pertama penyanyi dangdut Ayu Soraya, alasannya sederhana, banyak ruang dalam politik yang belum diberikan kepada perempuan. Jadi mengapa tidak dicoba.

Bahasa sederhana mengapa tidak dicoba ini sama seperti menegakkan kartu remi sampai bermeter-meter. Sekali dicoba meruntuhkan atau mengambil salah satu kartu, semua akan runtuh. Diperlukan usaha dari awal lagi untuk membangunnya. Kita mencoba-coba reformasi, apa yang terjadi seperti yang kita saksikan sekarang. Masih ada yang berupaya dengan menjual nama petani. Apa tidak melihat bahwa lahan pertanian sudah berubah menjadi bangunan, padang golf dan pabrik.

Lee Kwan Yew tidak pernah ambil pusing akan kata politikus barat soal demokrasi. Mengatur negara bukan untuk coba-coba, emangnya minyak angin.

Dedi Drajat, saya suka humor-humornya, apalagi dia kalau belanja di sebuah minimarket di jalan Kranggan sering mencaplok goreng pisang mas Gemuk yang nangkring diruang parkir. Lalu Dedi berteori bahwa banyak ahli politik kita yang Doktor Politik, ilmunya tinggi, nyatanya kehidupan politik kita amburadul. Lalu seperti ingin menegaskan, Deri menambahkan bahwa pernah tidak mendengar Artis melakukan tindak pidana Korupsi?

Mungkin Dedi (8/8/2008) sedang bersemangat bicara di TV. Bahayanya menyamaratakan bahwa artis tidak korupsi membuat saya menulis blog ini agar supaya ada catatan bahwa ia pernah bicara hal tersebut. Saya hanya berkomentar dalam hati – belum ada kesempatan kita bisa bicara begitu.

Tapi bicara soal narkoba, ini dia.  7/8/08 Bintang Sinetron Sheila Marcia ketangkap menggunakan Shabu di sebuah Kondominium Pluit Jakarta. Maka semakin panjanglah daftar artis-artis kita memang banyak yang belum korupsi, tetapi mengkonsumsi (narkoba). Apakah nantinya dunia politik kita diisi para telerawan dan telerawati.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Artis Menjadi Politikus

  1. Sebenernya kalo artis itu emang kompeten dan bagus sih gak jadi masalah. Tapi saya kok ngeliatnya artis2 tersebut cuma jadi pemikat (magnet) buat para pemilihnya aja yah.

    Like

  2. he..he…he…sudah ada yang nyambangi langsung ke blog jadi lupa ke wikimu ya pak? Atau sengaja bikin penasaran biar mampir terus kesini? pisang goreng virtual enak juga kali ya….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s