Posted in gaya hidup, keluarga

Teman bergelut


Si Gendut teman masa kecil

Namanya Muhartio tetapi masa kanak-kanakku aku memanggilnya Ndut karena badannya gendut. Gendut adalah tipikal anak tangsi polisi Salatiga. Saya ingat kami paling suka berak bersama saling beradu punggung lalu menyaksikan jatuhnya kotoran kedalam parit irigasi ditepi sawah di Salatiga. Plung, lalu mengalir bersama air yang jernih dan dingin.

Ibunya, bulik Rosidah juga anak Tangsi Pathok. Ia adalah adik perempuan Ayahku. Ada satu kenangan dengan bulik Rosidah ini. Waktu itu bapak sedang operasi pemberantasan pemberontak PRRI, DI TII, NII di Sumatera. Saya disekolahkan di Magelang, kadang masa liburan kami bermain ke Salatiga. Sekali waktu oleh bulik Rosidah saya disuguhi empal Sapi, Abon pokonya serba glek-glek-nyem. Lantas saya makan dengan “krakus rakus.”

Bulik mengamati saya makan lalu bertanya, “enak nggak Mim masakan bulik?,” lha terang saja dendeng sapi salatiga, empal salatiga, makan nasi hangat, dibawah cuaca dingin. Saya menjawab blakasuta alias jujur “enak sekali bulik..

Bulik Ros masih kurang puas dengan jawaban saya lalu tanya ndedes alias ngulik alias investigasi. Sebuah pertanyaan jebakan dilancarkan “dengan masakan Bude yang di Magelang, enakan mana…

Lha ini bocah cilik bernama Mimbar baru usia kurang dari 8 tahun harus menjawab pertanyaan menjebak, tanpa sadar mengambil umpan dengan menjawab “enakan Bulik Salatiga“.  

Sebuah jawaban strategis sebab apa untungnya saya bilang masakan Bulik Salatiga tidak enak. Cari musuh namanya. Alasan kedua adalah jujur-terbujur, sebab keluarga yang saya tumpangi di Magelang teramat jarang memasak. Kalau lapar mereka main cara mudah yaitu beli penganan atau sayur di warung. Jelas kuantitasnya terbatas dan masakannya tidak bervariasi.

Dan eng..ing..eng…sesampai di Magelang baru saja menaruh tas dan menyuap makan siang. Mendadak saya sudah dikelilingi putri-putri Bude Magelang.  Mbakyu ku mengelilingi dengan pancaran mata seperti hendak membakar wajahku.

Aku masih ingat, di ruang depan dikelilingi oleh Mbak Liz, Mbak Cuni, Mbak Tatik dan Mbak Win. Singkatnya saya di mahmilubkan oleh mereka lantaran beraninya berkata jujur makan di Salatiga lebih enak ketimbang di Magelang.

Mbak Liz (Soemarsono), bertindak sebagai penuntut. Suaranya lembut tetapi gemreneng menyerang terus. Saya terpojok tanpa sempat membela diri. Mbakyu yang lain menjadi Saksi memberatkan dosaku. Aduh biyuuung.

Sebuah pelajaran bahwa, sekalipun dengan anak kecil, kalau kita sudah sepakat pembicaraan hanya empat mata, jangan sekali-kali dibocorkan. Kecuali anda ingin kehilangan kepercayaan dari seorang anak kecil. Apalagi anak kecilnya suka menulis dikemudian hari.

Bulik Rosidah sedikit pangling melihat saya, namun ketika saya memburunya sambil memeluknya dan menyebut nama Mimbar, langsung terlontar kekagetannya dan masih gesit bertanya “kamu kok sudah tua, rambutmu putih semua..

Lho bulik, saya hampir enam puluh, sudah bersukur masih bisa melihat tayangan teknologi HP yang dipertontonkan Maria Eva, dan guling bergigi platina yang disodorkan Al Amin..

Orang tua kadang tidak berpretensi negatif. Mereka sekedar basa-basi, namun anakku Satrio menjadi sedikit kikuk manakala bertemu keluarga semua bertanya “Satrio masih nakal?” – sebetulnya bahasa lain dari “kurang ajar..

Sejak itu kepada anak kecil saya hanya menanyakan kelucuannya dan kelucuannya.

Lalu perhatian saya beralih keteman sebaya, ya anak pertama bulik Salatiga tadi.  Si Gendut.

Istriku ada” , katanya sambil kedua jarinya membentuk tanda V. Sebagai tambahan, bocah ini dibesarkan secara Katolik di Salatiga. Tapi soal dia bisa punya bini dua, itu ajaibnya. 

dan aku masih merokok seperti Truk batu di tanjakan Alas Roban.” katanya. Dalam pertemuan begini saya tidak akan menaseihatinya, kecuali bilang aku sudah 20tahun berhenti merokok, pasalnya batuk-batuk, badanku tidak kuat. Kalau sampeyan badannya kuat why not..

Kalau begitu sudah dua jam duduk diruang AC, asem dong tenggorokan,” kataku sambil mengunyah permen karet.

Bener nih, coba minta permen karetmu, siapa tahu bisa menekan keinginan merokok,” katanya.

Sayang upacara pernikahan Indah dan Muhammad Syafri di gedung Marina Kelapa Gading segera dimulai. Saya menyiapkan kamera saku sebab jarang-jarang kami bisa bertemu.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s