Posted in gaya hidup

Mbah Roso-Roso


Pengagum Mbah Marijan
Pengagum Mbah Marijan

Hati-hati mengumbar janji terhadap anak-anak. Setidak-tidaknya seperti dialami pasangan kakek dan nenek Sudi di desa Tegalrejo, Yogyakarta.

Dimana-mana kakek dan nenek pasti sangat menyayangi cucunya (tapi aku belum punya). Tidak terkecuali seorang Dokter asal Yogya. Maunya cucu dibawa ke seminar di Bali sampai Thailand padahal kalau dengan anak kandung sendiri belum tentu dilakukannya.

Sekali waktu mereka harus “jagong manten” alias mendatangi undangan hajat perkawinan di kawasan Kaliurang – Yogyakarta.

Maka untuk memikat hati cucu perempuannya Ollie (4tahun), Nenek enteng berkata, “mau ikut ndak, nanti kita ketemu mbah Marijan – Rosa-Rosa..

Ternyata resep iming-iming ini cespleng. Sang cucu mau ikut, duduk manis-manis sampai acara mantenan berakhir dan mereka bersiap-siap pulang dan lupa janjinya akan bertemu dengan mbah Rosa-Rosa.  Saat inilah Ollie mulai bertingkah ingin bertemu sang pujaannya. “Kojur Aku-Mbah Marijan sing tenan ki kaya apa? ” kata sang nenek apa daya, selama ini ketemu mbah Marijanpun hanya di TV, majalah atau koran Kedaulatan Rakyat.

Untung diantara kondangan ada seorang kakek berkopiah dan mengenakan baju batik mirip mbah Marijan. Sang cucu dikenalkan kepada “mbah Marijan edisi Mangga Dua.” – diluar dugaan cucu malahan ngambek dan bilang – “itu bukan mbah Marijan…

Mau tidak mau, dengan masih kebaya melilit ditubuhnya sang nenek yang cantik mulai cari tahu dimana gerangan rumah mbah Marijan yang sudah barang tentu bukan dikelurahan atau dipinggir jalan besar.  Diceritakan memasuki jalan kecil yang menanjak akhirnya ketemu juga rumah mbah yang dicari.  Tepatnya di kawasan Dusun Kinahrejo, desa UmbulHarjo, Cangkringan, Sleman

Sayangnya mbah kita sekarang juga sudah menjadi selebritis. Waktunya sangat terbatas. Untung walaupun sebentar sang cucu sempat bersalaman dengan mbahnya. Cara bersalamannyapun mirip Ariel personel Peter Pan bersalaman dengan penggemarnya diatas panggung saat musik memainkan melodi. Salam asal tempel tipis dan segera ditarik setelah satu detik kurang sedikit.

Apalagi dikabarkan juru kunci Merapi ini harus menghadiri undangan perkawinan kerabatnya.

Rupanya kedatangan mereka dianggap “usaha ngalap berkah” – maklum menjelang pemilu sehingga sang Asisten buru-buru mendekati sambil berbisik:”wonten keperluan menapa..” – ada keperluan apa? – sampai blusukan ke desa dan kaget terkaget bahwasanya ada anak kecil bertandang hanya untuk bersalaman.

Anak manja yang selalu menyebut saya “pakde paling lucu,” akhirnya pulang dengan senyum lesung pipit terukir dipipinya.

Aku takdi (tadi) salaman dengan mbah Marijan…” – Ollie pasti belum bisa membaca sebuah foto mbah Marijan bertajuk “Mbah Marijan Semelekete.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Mbah Roso-Roso

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s