Posted in gaya hidup, Yogya, yogyakarta

Soto Slamet alias Soto Sawah


Soto SAWAH, Mejing Gamping
Soto SAWAH, Mejing Gamping

Rasanya belum afdol ke Yogyakarta tanpa mampir ke Soto SAWAH, yang kondang sebagai Soto Slamet.

Apalagi waktu sudah menunjukkan jam 14 lebih. Maka kendaraan kami belokkan disebuah persimpangan pintu kereta sehingga soto ayam lezat ini kadang diberi nama lain Soto Teteg (pintu kereta api) Sepur.

Tidak perlu lama menunggu hidangan tersedia, pertama waktu makan siang sudah “laat” – dan karena lokasi kedai berada ditengah sawah maka tiupan angin semilir dari sawah menguning sambil membawa aroma (terapi) bau padi masak, manisnya bau daun padi, lalu nasi putih yang hangat dan pulen sungguh luar biasa.

Gara-gara soto pantang sambal diabaikan
Gara-gara soto pantang sambal diabaikan

Tanpa terasa semangkuk soto sudah ludes ketika saya baru ingat untuk mengabadikannya.

Kebiasaan berpuasa sambal terpaksa saya “badar”kan. Pasalnya kuah kaldu ayam yang hangat, ditambah suwiran daging ayam dan cincangan ati-ampela, sedikit kecrotan kecap manis masih kurang klop kalau belum diberi sambal yang mengubah warna kuah dan aroma cabai sambil diberi kucuran jeruk nipis.

Saya punya kebiasaan setelah memeras jeruk nipis, biasanya kulit jeruknya saya cemplungkan kedalam kaldu ayam.

Kalau perut terasa kenyang, maka cincangan kasar paha ayam dan ampela yang telah diborehi bawang goreng harus saya kunyah perlahan-lahan sambil mata menatap tarian padi diluar kedai.

Parkir Space yang luas
Parkir Space yang luas

Keunikan lain, warung soto ini berdiri sendiri tanpa ada warung lain sekitarnya. ia bagaikan Primadona sebuah teater.

Andai anda amati maka disekitarnya hanya ada penjual bakul bambu, sapu lidi.

Sebetulnya ada memori lain dari kawasan ini. Ketika saya masih “narayana” sementara disekitar jalan masih ditumbuhi Tebu Rakyat Intensif maka seorang gadis Stella Duce yang mempunyai kakek di kawasan pasar Mbibis sering saya boncengkan dengan ikhlas dan berbunga-bunga. Sekalipun soto Slamet belum ada tanda akan berdomisili disawah ini.

Begitu semangat 45 (kalau lahirnya tahun 1925, tidak perduli serangga macam samber mata menyerang mata motor saya dan kadang nyasar kemata pokoknya honda Oranye Z90cc dikebut terus.

DI sebuah sore – rok gadis yang saya boncengkan ini masuk ke rantai motor saya yang memang dengan alasan “mbois dan nggaya” oleh adik saya dilepas tutp rantainya. Karena ia menjerit, motor saya hentikan dan astaga, rok panjangnya sudah tercabik-cabik tetapi celakanya  sebagian menyangkut diantara rantai dan gir motor.

Panik, saya berhenti didepan sebuah rumah pinjam pisau. (Biasanya dulu saya menyelipkan pisau maklum masih perlu jati diri anak Sumatra). Namun yang tidak saya sadari penduduk desa ini memiliki tahayul bahwa lepas magrib dilarang meminjamkan benda tajam.

Untunglah tidak semua berfikiran demikian.  Setelah mengetuk pintu kesekian, ada penghuni rumah yang bersedia meminjamkan guntingnya. Maka cres cress rok yang katanya oleh-oleh ayahnya dari luar negeri terpaksa saya potong.

Mudah-mudahan anak Stella Duce yang ketua Osis ini masih dapat mengingat peristiwa ini dengan jelas.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Soto Slamet alias Soto Sawah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s