Posted in gaya hidup

Ketika anak bungsu bertanding KEMPO


Satrio dan pelatih Kemponya
Satrio dan pelatih Kemponya

Siapapun orangtua melihat anaknya minta ijin pergi ke TanahAceh hendak bertanding pada 25 Agustus 2008 di Kampus Syiah Kuala, Aceh – akan tercekat.

Anakku akan bertarung, berdarah, sesak napas demi membela perguruan tingginya.

Maka ketika temannya naik turun bis dan taxi menuju Bandara Sukarno Hatta Terminal 1A, anak saya memilih diantar orang tuanya. Dia tidak perduli sebutan “anak Mami..”

Cuma yang sering membuat mamanya “tidak terima” mengapa setiap urusan organisasi Satrio kebagian departemen perlengkapan. Semua perlengkapan yang beratnya entah mencapai ratusan kilo, enak saja di drop dikamarnya sementara teman-temannya datang berlenggang kangkung. Eh salah ada “ding” yang bawa nasi uduk. Lha ini dia atlit kita, mau bertarung yang dimakan nasi uduk, boro-boro whey protein.

Lalu kepada mamanya tempat ia sering menggoda, ia ber SMS “Mak doain ye, aku bertanding jam 3(sore) ni. Tadi keren lho. Jadi pemegang papan kontingen.” – Pesan singkat ditutup dengan salam Ha sebanyak sembilan kali. Mamanya paling mrengut kalau Satrio mulai membicarakan lawan jenisnya: “dekat dengan kamu Satrio, cuma dua topik yang kamu bicarakan, minta duit atau minta kawin..” – kata mamanya pura-pura marah.

Yang Satrio tidak sadari, manakala pada hari Sabtu atau Minggu ia pulang dari Grogol tempat ia “pura-pura kos di rumah eyangnya,” ke Bekasi, maka muka mamanya nampak sumringah.

Kadang kalau ia menggelar kasur di kamar kami (ia masih tidur dengan kami) mamanya menatap wajahnya dengan penuh rasa sayang. Saya sering menekankan kepada Satrio bahwa jadi anak itu ukuran berhasil atau tidaknya dari mendengar namamu disebut. Sepertinya setiap orang tahu. Namun adakalanya  saya melihat orang tua yang kelimpungan manakala mendengar pertanyaan mengenai keadaan anaknya. Lalu mulailah bual-buali alias jurus membual dikeluarkan.

Waktu kecil (TK-SD kelas 2) oleh seorang saudaranya ia sering dihajar sampai bibirnya berdarah. Padahal saya ada disitu. Tetapi karena keduanya masih bersaudara saya hanya membiarkan saja. Biasanya Satrio kalah. Pertama kalah mental, kalah gertak. Kedua kalah besar.

Dalam acara arisan keluarga ia selalu saja berkelahi, dengan saudara yang lain dan kalah. Lalu saya ingat masa kecilku, karena berbadan kecil, selalu kalah di jegal saudara yang lebih besar. Kalau saya mengadu selalu saja jawaban ibu “jangan melawan dia masih masuk kakakmu.

Lalu saya mulai mengenalkan alat-alat olah raga, sekalipun saya bukan jago bela diri namun sedikit-sedikit kami sering berbicara mengenai ilmu berkelahi. Ketika tubuhnya mulai berkembang, saudara yang mengalahkannya gantian dihajar.

Celakanya kalau dulu anak saya kalah, saya hanya diam saja. Para ibunda anak yang kalah mengecap Satrio anak nakal.

Setelah masuk beladiri Kempo, kenakalannya mulai disalurkan. Bahkan dia mulai dapat lawan yang badannya kecil tetapi sigat. “wah tendangannya kalau ditangkis linu rasanya tangan..

Lalu apakah dia sudah pernah menjajal kemampuan para senpai dan senseinya. “Kalau aku tendang sensei, kakiku pegal ditangkisnya, tetapi giliran dia balas serangan, tahu-tahu saya sudah terbanting.” – tanpa teriakan, hanya gerakan lembut tau-tau mak-gedebruk saya sudah nggeloso di lantai. Nah itu bedanya orang bersabuk hitam dengan ban putih.

Kadang saya sering berdiskusi kepadanya untuk menghargai ilmu beladiri lain sebab pengalaman mengajarkan bahwa perguruan tinggi yang selalu beretorika “membela yang lemah, menghormati orang lain,” kenyataan lapangan menganut mahzab bertolak belakang seperti “bela diri gue paling jempolan, yang lain auk ah..” – yang lebih celaka lagi, tega-teganya makan tahu tiga mengaku satu di warung terdekat sehabis latihan. Kalau sudah begini lantas pihak lemah mana yang akan dibela?. 

Yang kelihatannya bakalan abadi adalah stigma “nakal” – sampai sekarang kerabat selalu menanyakan kabar anakku dengan tambahan “masih nakalkah Satrio?.”

Tidak disangka, sebuah pesan singkat darinya masuk ke HP saya. “Pa, aku sedang dengan Oom Adie, dia mengajak minum kopi Aceh yang kata papa rasanya “mak Theng” – Adie adalah suami adik bungsu saya. Rupanya cerita lain selain minum kopi adalah memperhatikan iklan “tilpun dengan pocong” ternyata sudah di sensor dengan memasang penutupnya pada wajah modelnya. Semoga saja Satrio membawa contoh fotonya.

Dalam gambar, nampak Satrio dengan Dedeh pelatihnya. Sang pelatih wanti-wanti agar Satrio jangan malas berlatih sebab tanpa didasari stamina tinggi, maka selihai teknik yang dimiliki atlit dalam pertarungan akan kedodoran. Lalu Dedeh bercerita saat berlatih dengan Indra Kartasamita (tapi dia menyebut selaliu Ginanjar), “biarpun hatinya baek, tapi tuh Ginanjar (maksudnya Indra) kalau melatih galak banget ngepol. Contohnya saat kita nendang capek-capek dibilang “jurus anjing kencing ya asal angkat kaki doang..”

Pernah sekali ada teman absen latihan, lalu saat dia datang ke dojo, ditanya oleh Ginanjar (maksudnya ya Indra Kartasamita), eh sang teman menjawab “sibuk, banyak kerjaan..” – Mendadak sontak mendengar jawaban itu, latihan dihentikan dan Sensei langsung berteriak: Perhatian ada orang sibuk bekerja sehingga tidak bisa berlatih. Ini artinya yang berlatih adalah orang lontang lantung pengangguran.

Tapi Senpei Dedeh tidak kalah akal, satu saat ia absen latihan dan ketika diajukan pertanyaan yang sama dia langsung menjawab “nggak dikasih bini gua…

Nah kali ini sensei tidak bereaksi…

Jawara Kempo ternyata keok lawan istri…

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Ketika anak bungsu bertanding KEMPO

  1. kata orang, kalo ikutan bela diri diri mustinya bisa nahan diri. 3 tahun saya di sma ikutan tae kwon do, tapi tetep aja kalo emosi bawaannya gebrak2, sampe akhirnya beli sansak.

    kalo besoknya keliatan tangan berbalut perban, temen2 saya pada nyengir sambil celometan “ono wong mari kalap”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s