Posted in batavia, betawi

Buah Atep


Es Buah Atep dan Peuyeum Bandung
Es Buah Atep dan Peuyeum Bandung

Bulan Ramadhan tahun ini (1Sep 2008) suasana kota Jakarta dan Bekasi memang panas luar biasa.  Tenggorokan serasa dijalari cairan empedu.

Tak heran ketika sinetron religi kesayangan saya PPT Jilid 2, alias Para Pencari Tuhan yang ditayangkan salah satu stasiun swasta SCTV mulai mengucapkan Selamat Berbuka Puasa maka saya langsung menyerbu sebuah makanan yang dihari non Ramadhan adalah biasa-biasa saja.

Tetapi inilah berkah Ramadhan. 

Sekarang saya bisa lebih “ngeces” melihat sebuah mangkuk berisikan buah atep yang hijau, peuyeum Bandung bak tembaga. Luar biasa warna hijau dan tembaga keemasan seperti saling isi mengisi.

Ditambah lagi sup santan kelapa berwarna putih diaduk dengan sirup manis kemerahan sehingga ketika bercampur dalam mangkuk warna-warna memberikan suatu hasil campuran baru “merah jambu” – rasanya seakan ingin kutelan sekaligus dengan mangkuknya.

Apalagi ada potongan es batu yang bak berlian terapung bergesekan dengan porselin sambil mengeluarkan nada poliponik menggoda telinga saya seperti kalau baru baru mendengarkan suara HP yang baru dibeli.

Rupanya karena takut saya “kenapa-kenapa” kalau beli makanan di warung maka praktis dari pembuatan sirup, santan bahkan menyiapkan buah atep menjadi satu proses yang njelimet, namun membahagiakan.

Saya ingat buah atep dibeli sekitar 4hari lalu, di sebuah pasar tradisional jam 23:00 – saat yang belanja bisa dihitung dengan jari.

Sebelumnya di bagasi kendaraan sudah ia taruh baskom plastik. Sambil menaruh bungkusan plastik basah berisikan buah atep kedalam baskom “agar tak membasahi lantai mobil

Lalu sesampai dirumah, buah atep direndam semalaman sambil basuhan kerap di buang. Ada semalaman saya mencium bau masam macam saguer (tuak, minahasa) kadaluarsa. Ada dua malam buah atep diproses supaya tiodak masam, tidak berlendir dan mengeluarkan aroma aselinya.

Pada hari-hari biasa buah atep hanya tiarap pada kisaran selembar harga jalan tol dalam kota Jakarta.

Tetapi memasuki ramadhan daging yang menyerupai “lontar mini” langsung bertengger di angka dua kali karcis tol, bahkan kelas super sampai tiga kalinya.

Setiap melihat buah kecil menggemaskan ini saya ingat pernah membuat saya dan mbak Win sepupu saya telanjang bulat di Magelang (masa kecil) lantaran menyentuh buah muda yang bergetah dan gatal luar biasa. Belum lagi sekujur tubuh kami di borehi oleh bubuk “blauw” – sejenis benda berwarna biru biasanya untuk memutihkan pakaian putih.

Selesai satu proses, buah atap didinginkan, air dibuang, lalu direbus lagi, entah ramuan apa yang dimasukkan “orang dapur” yang saya tahu daun suji dan pandan “biar ijoknya keluar.”

Saat lebaran tiba, biasanya manisan buah atap kami selalu laris manis, sekalipun urusan prosesnya njelimet seperti urusan kucuran cek perjalanan di DPR, namun kami puas karya kami (eh orang dapur) dihargai.

Tambahan: Gambar di bawah ini adalah buah atep sumber WIkipedia alias kolang kaling alias buah enau yang masih mentah. Mungkin saja asal kata Kolang Kaling alias berlendir basah sehingga mudah mrucut alias lolos dari genggaman lalu tercipta kata Kong Kalikong. Di sebuah acara Kisi-kist TV Elshinta saya melihat presenter mendatangi sentra buah atep, buah enau, aren atau KolangKaling di desa Ujung Tebu – Kecamatan Ciomas.

Buah atep dari WIkipediaMula-mula buah kolang-kaling yang masih hijau dilepaskan dari tangkainya. Lalu direbus dalam tong-tong besar selama sembilan puluh menit. Masih hangat, biji kolang kaling dikeluarkan dari kulitnya. Kadang satu buah berisi tiga kolang kaling yang berwarna transparan.

Selesai di kupas, biji di pukuli sampai gepeng, lalu direndam di bak khusus selama 15 hari sebelum dilempar ke pasaran. Menurut Rudi, salah satu pengusaha Kolang Kaling, sebulan mereka bisa menjual 1500 kaleng minyak tanah. Harga kolang kaling kualitas baik seharga 85000 per kaleng sedangkan kualitas rendah dilepas dengan harga 30000 per kaleng.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

4 thoughts on “Buah Atep

  1. cara bukinnya gmn pakde ?? dulu sy pernah makan rasanya enak skrg sy dr pasar baru memebelikolangkaling sengaja mampir kewarnet cari resep manisan buah atep tp tdk ada yg memuat….thanks b4

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s