Posted in gaya hidup

Toilet


Kadang saya terkesan bego abizzz apalagi yang berkaitan dengan nomor atau angka.  Misalnya saya tak ingat berapa lama tinggal di rumah sekarang. Biasanya cenderung ngawur dan memberikan angka berlebihan. 

Untung sebuah forto memperlihatkan pembangunan rumah pada Maret 2005. Pada gambar kiri seperti tertera pada gambar adalah Pak tukang menunduk berkaos putih sedang mengerjakan bagian toilet. Ketika ruang toilet sedang dibangun, sebuah kesalahan terjadi, saya wanti-wanti tidak akan ada aliran air panas, dan tidak akan ada bak mandi apalagi batthub.

Alasan tidak ada air panas juga lebih menyerupai hasil pengamatan rumah kerabat yang kamar mandinya dihisi pemanas mulai dari Bahan Bakar Gas sampai Listrik, semuanya hanya terbengelai sebab ujung-ujungnya kalau mau mandi mereka menyeduh air di kompor. Bak mandi saya tiadakan sebab kami pernah digrudugi tetangga lantaran air kamar mandi yang merembes ke rumahnya sekalipun bak terbuat dari plastik yang ditanam pada tumpukan bata. 

Saya juga anti Batthub sebab perkakas ini rata-rata cuma memanjangan rasa “kepingin seperti dihotel” untuk barang sehari dua. Selebihnya selain urusan air ledeng yang boros, banyak bathtube justru nasibnya berakhir sebagai bak biasa.

Toilet rumah setelah selesai, foto Sep 2008

Dan setelah bangunan jadi maka inilah bentuk toilet difoto pada 2008. Untunglah bapak saya menurunkan pelajaran untuk mendokumentasikan apa saja.

Salah satunya memotret tumpukan bata.

Setelah menjadi sebuah bangunan, rasanya letih lelah penderitaan dan keringat yang mengalir dipunggung sampai mengalir ke tulang belakang, terbayar sudah.

Maklum saja pembangunan rumah melulu 100% uang hasil bekerja dan hasil berhutang di bank.

Lha darimana uang cash untuk membuat sebuah rumah ketika baru saja menurunkan batu kali, harga semen dan asesorisnya mulai melompat naik. Apalagi saya bukan anak orang kaya yang mendapat warisan, bukan pedagang sukses karena tiap usaha cuma diakali para sohib. Juga tidak bisa membakingi para cukong judi. 

Ngomong-ngomong soal toilet, jarang-jarang saya mengunjungi toilet seseorang dengan perasaan nyaman. Selalu saja melihat pemandangan pengap, kadang para pengawal toilet seperti kecoa berkeliaran sehingga bau sabun wangi, karbol prakstis kalah dengan bau ketiak kecoa yang keleknya lebih banyak ketimbang kita.

Atau memasuki toilet dengan air di bak yang berlimpah saya malahan seperti masuk sauna karena panas dan pengapnya. Saya tidak tahu salahnya dimana? Padahal bagi saya toilet tempat membaca dan kadang mengeluarkan ide menulis bukan tempat yang dikunjungi “karena terpaksa“.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Toilet

  1. artikelnya bagus juga…………………
    saya lg bingung memikirkan bagaimana model toilet yang baik, aman, dan sayang lingkungan untuk masa depan???

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s