Posted in mudik

Jadi juga mak KwekKwek mudik 1429H-2008SM


Mak Kwek Kwek dalam keseharian
Mak Kwek Kwek dalam keseharian

Tadi pagi selepas meletakkan koran Warta Kota, mak Kwek-kwek langsung masuk ke ruangan pantry, membereskan cucian tanpa banyak bicara. Ini hari Sabtu 27 September 08. Mendadak ia pamitan kepada kami “mudik lebaran..” – padahal sebelumnya perempuan muda dengan empat anak ini tidak pernah memberikan sandi untuk berhajat nasional tahunan tersebut.

Mak Kwek-kwek bekerja di rumah sebagai paruh waktu. Ia datang mencuci piring, pakaian untuk pasangan suami istri over-sex(ketan), ambil koran di halaman depan, lalu kalau ada nasi atau lauk berlebih (umumnya ya), akan dibawa pulang untuk keempat anaknya yang masih kecil.

Ada beberapa pembantu “full time” yang melamar namun saya kadung jatuh hati melihat perjuangan hidupnya, apalagi ia jujur kendati kalau bicara selalu melengking bak lenong Betawi. Di luar itu jarak rumah kontrakan hanya selemparan batu.

Tidak lama kemudian di luar pagar terdengar suara pintu mobil dibuka, bluk.

Sebuah kendaraan mirip kijang berwarna abu-abu tua sudah menjemputnya. Rupanya salah satu kerabatnya “mendadak” menjadi baik setelah puluhan tahun tidak pernah menyambangi mereka. Semoga masih ada kaitannya dengan hikmah Ramadhan.

Tidak lama kemudian atap Kijang sudah bertengger “barang-barang” berbungkus plastik dan terpal.

Saya membayangkan saat diperjalanan nanti ujung terpal melambai-lambai sambil mengeluarkan suara mencicit karena bergesekan dengan angin. 

Pak Kwek-kwek sendiri tidak nampak dalam rombongan mudik. Ia memilih di rumah, sebab pengalaman mengatakan bahwa sekalipun sudah punya anak empat,sang mertua bak sinetron kita – berusaha menjauhkan ia dari istrinya.

Yang saya kuatirkan adalah anak-anaknya tidak pernah diajak bepergian jauh. Dulu saya pernah, maksudnya menyenangkan mereka naik mobil pakai AC, akan saya traktir es.

Hanya 15menit bertahan mereka pada bertumbangan muntah dan menangis. Mudah-mudahan keberangkatan bak ikan sardin justru menggembirakan anaknya apalagi kali ini beserta keluarganya

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s