Posted in anekdot

Nama Boleh Pikun tapi Lagu Bengawan Solo, tidak


Usia kakek sehat ini 92 tahun. Badannya masih nampak sehat nampak dari kemampuannya berolah raga sepeda diusia lanjut. Hanya ada masalah, ia tersesat bahkan lebih celaka lagi tidak ingat siapa namanya sendiri. Kesulitan lain petugas yang menerima laporan adalah polisi Haryadi orang Indonesia yang sedang “mengangsu kawruh” alias belajar di “koban” alias resort Shinanomachi di Jepang.  Seberapa ahlinya sih orang yang hanya tinggal di Jepang selama untuk dua bulan saja. Petunjuk sedikit terkuak ketika pak Tua Bersepeda ini ingat nama kecil anaknya adalah Miko, dan ia masih bisa ingat bahwa rumahnya terletak di kawasan pantai.

Kepolisian Jepang memiliki database yang disimpan dalam sebuah buku tulis. Ditulis dengan tulisan tangan. Isinya berupa daftar nama penghuni sekitar “koban.”  Jepang sekalipun Negara modern, ada peraturan tertentu bahwa database warga ditulis dalam buku, bukan dengan computer. Maksudnya agar tidak digandakan dan yang lebih penting lagi tidak diperjual belikan untuk tujuan tertentu.

Ini berbeda dengan database bank di Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum sedikit saja kocek di rekening anda nampak gembul, maka tidak lama kemudian akan ada orang menawarkan kartu kredit dan iming-iming lainnya. Entah bagaimana dengan mudah mereka bisa mendapatkan nomor HP kita, alamat rumah, bahkan nomor HP istri. Tak jarang mereka akan menilpun personalia atau keuangan kantor kita meminta daftar gaji segala.

Lokasi rumah kakek yang lupa namanya sendiri akhirnya ditemukan. Keluarga kakek datang lima belas menit dengan taxi untuk menjemput anggota keluarganya.

Saat berterimakasih, kakek yang belakangan tahu bahwa lawan bicaranya adalah Polisi Indonesia ia langsung berdiri tegak dan bernyanyi lagu yang setiap orang Indonesia mengetahuinya “Bengawan Solo..” – tentu terdengar seperti Bengawang SoRRo

Ternyata pada usia 45tahun, kakek ini pernah menjadi pelatih PETA di Indonesia. Kenangan itu demikian membekas sehingga setiap mendengar nama Indonesia otomatis ia akan menyanyikan “Bengawan Solo.”

Pak Gesang ternyata ciptaanmu bisa dinikmati oleh siapa saja.

 

 

Sumber: Belajar Senyum di Negeri Sakura editor Herman Sulistyo

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Nama Boleh Pikun tapi Lagu Bengawan Solo, tidak

  1. Selamat Iedul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin. Pasca lebaran , ngintar listnya pak Mimbar, sambil mengenang saat di Tokyo. “sekolah” 3 bulan tinggal di “rumah” JICA di Tokyo.

    Persiapan utama saya sebelum berangkat, antara lain segala bentuk Bengawan Solo, CD dan kawan-kawan.
    Ampuh! Saya bisa memasuki semua kalangan di Jepang. Profesor sepuh, bekas tentara Jepang, komunitas segala bangsa di “rumah” JICA Sabtu, ruang karaoke selalu dipesankan , untuk mbak Nury dan kawan-kawan, saat itu juga ada serombongan perwira polisi yang
    “ngangsu kawruh”.

    Terima kasih pak Gesang, Bengawan So”r”o mengantar saya mendapat ilmu dan kawan.

    Nury
    nury-nus.blogspot.com

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s