Posted in gaya hidup

Panas Segan Dingin Tak Mau


Heater yang panas segan dingin tak mau
Heater yang panas segan dingin tak mau

Isi rumah kami praktis cuma terdiri seorang aki-aki nini pasangannya, alias pakde dan bude yaitu saya dan teman hidup saya.

Tapi kok seperempat abad kawin lebih dikit, kami mengambil sikap balik kanan untuk sepakat pisah kamar (mandi).

Pasalnya sSaya lebih suka kamar mandi utama yang pakai pancuran tanpa bak. Inipun karena kebiasaan di Rig mandi selalu pakai shower air hangat. Karena sudah beberapa lama tidak mencium bau laut, ada kangen luar biasa sehingga muncul kelakuan yang kalau dipikir-pikir aneh.

Saya kepingin mandi dengan air pancuran kendati untuk urusan satu ini kadang saya yang sudah “kena kasus UU pornografi kalau dilakukan didepan umum,” mendadak lupa menghidupkan mesin pompa tekan sehingga harus keluar kamar mandi berselimut handuk tua lantas berlari “gidhal-gidhul” menghidupkan pompa tekan yang harus dicolokkan secara manual nun jauh di bawah peralatan dapur. Maklum mengandalkan ketinggian toren terkadang airnya “kurang nonjok”.

Soal ketinggian air ini banyak orang berpendapat bahwa setinggi-tinggi toren diangkasa, maka makin kuat pancurannya. Yang kita lupa, saat memasang pipa pralon, entah berapa tikungan tajam, sambungan, sambungan yang membuat kecepatan pancaran air harus “mengerem di tanjakan dan tikungan” dan pada akhirnya air tak muncrat sampai jauh.

Belum lagi kami butuh “air stem” untuk menyiram tanaman, dan ban yang terkena lumpur merah jalan masuk rumah yang masih sekedar jalan setapak raksasa yang belum mengenal peradaban aspal.

Saya pakai bahasa “stem” yang sebetulnya cuma air bertekanan tinggi ala tukang cuci mobil van Rawabogo yang mematok harga cuci mobil untuk kalau roda empat sebesar sepuluh ribu rupiah, akan tetapi angkot dan taksi dikenai lima ribu (sekalipun rodanya empat). Sebuah diskriminasi “nama”.

Sementara pasangan saya lebih suka menggunakan kamar mandi lain yang dibelakang dengan kakus kaki jongkok. Air tinggal cur, ditampung di bak plastik lalu gebyur-gebyur mandi.

Berhubung kamar mandi ini sharing dengan para PRT, maka jelas kegiatan MCK ditampung disini. Puluhan jenis tapal gigi, sampo, sikat gigi ditinggal sang pemakai yang mungkin sudah lama pergi. Dan kamar mandi itulah “domain” – istri yang tak bisa diganggu gugat.

Sejalan dengan usia, apalagi musim hujan begini, air toren mulai terasa begitu bengis menghantam jangat. Saya mulai seperti orang “kuriman” – sakitan setiap mandi pagi minta direbuskan air kepada bibi lalu melihat perempuan muda yang berjuang demi rumah tangga ini tergopoh membawa sepanci air panas berjarak 10 meter, menepis lemari makan bermanuver diantara lemari perabotan dan dispenser air, menanjak 20cm ubin kalau ibu beranak empat selamat tidak terpeleset sampai tujuan, maka saya mandi air panas.

Tapi lama kelamaan melihat ada ancaman bahaya tersiram air panas sehingga saya mulai beranjak mengajukan PO (Purchase Order) agar beli sebuah pemanas air.

Soal PO ini saya melupakan kenyataan bahwa matahari di luar sana panasnya luar biasa menyengat. Bahkan air torenpun tanpa dikomando sudah sering menyulut kulit.

Tender pertama adalah memilih pemanas bertenaga gas. Tetapi mengingat gemuknya sang botol kalau dipasang dikamar mandi seperti meledek pinggang saya yang sudah “ngeban” – maka alternatif lain adalah mencoba pemanas listrik. Ini juga tidak gampang, seantero Singapore, Australia kalau pemanas listrik membutuhkan daya empat sampai lima kali rumah BTN, dan selalu pilihan ini ditepiskan mengingat rakusnya mesin akan listrik.

Dan “eng ing eng” di sebuah Mal di kawasan Pondok Indah – Jakarta yang konon para artis berkumpul, sebuah demo heater irit listrik digelar.

Zonder pikir panjang langsung konter tersebut saya datangi untuk disambut senyum sang SPG sambil tak lupa mengatakan kehebatan alat yang hemat listrik. Lalu saya minta SPG kasih unjuk adegan sera hangat dan panas didepan hidung saya.

Mula-mula sih air memang panas, lalu sehangat kuku Bima, dan sampai pegal tangan tertengadah hangat-hangat cirik (tahi) ayampun tidak saya dapatkan.

Sang mbak menjawab kalau mau panas, suhunya ditambah yang berarti kalau semula janjinya cuma “dibawah 500watt” – akan dinaikkan jatahnya menjadi dua kali lipat dan seterusnya.

Melihat kening saya berkerut, sebentar lagi pakai plaster koyo karena bingung, mbak SPG beringsut meninggalkan konter sementara saya tetap keukeuh mencari kehangatan.

Tapi dasar sudah kesurupan setan belanja, saya masih mengharap mukjizat bahwa dengan 350watt kita bisa mendapatkan air mendidih, seperti halnya pejabat kita mengharap mukjizat teknologi ala beras Super Toy, Energy Biru sejatinya adalah angan-angan ingin “jalan pintas.”

Hari berikutnya tanpa banyak cing cong manuk cingklong, saya order sebuah mesin “hemat energy” dari kawasan Glodok yang hanya melalui pesawat tilpun ber SMS tanda transfer sejumlah harga yang telah disetujui mereka berjanji akan kirim “barang” setelah diambil dari gudang (tetangga).

– Ahli khusus panas-panas kelahiran Rangkas(bitung) yang cadel didatangkan. Tak lama mesin dipasang, 20liter air panas mengalir. Kesempatan saya mengorek sedikit isi perutnya zonder multilasi. Eman, sebut saja begitu mengaku uang makan perhari adalah 25 ribu rupiah, dan menyadari nasib mereka sudah digariskan bahwa kendati piawai dalam bidang teknik tetapi tidak bakalan bisa menyaingi bekas bos yang yang memang dari daratan sana sudah kondang lihay dalam perdagangan.

Sayang begitu spesialist pergi dan saya mencoba sendiri denagn membuka keran air hangat, persis bak di Konter mal, air yang semula panas perlahan menjadi hangat dan akhirnya tak ada kehangatan sama sekali.

Montir yang sudah sampai di Pulogadung terpaksa memutar kembali ke Bekasi. Ia mencoba sebisanya dan akhirnya menyerah dan akan mengganti mesin setelah bosnya yang “kalau sudah main bilyard bakalan sampai pagi.. jadi susah dihubungi.”

hari berikutnya mesin susulanpun didampingi montir senior. Nampaknya mereka tidak berdaya mempertahankan panas setelah 20 liter air panas mengalir. Duh. Tapi ada teori beredar bahwa karena rancangan semula kamar mandi tidak untuk air panas, maka cuma ada pipa tunggal – padahal umumnya perlu pipa ganda untuk air panas dan dingin.

Jalan keluarnya, mandi pakai air hangat yang ditampung dari pemanas “sampai dingin” sehingga menghasilkan air suam-suam.

Malu akan keputusan tak putus dirundung masalah saya berkelit didepan istri bahwa “kepingin buktikan bahwa tidak ada yang gampang dalam hidup ini. Semua kenikmatan ada biayanya” – sebetulnya jawaban asalan.

Ya sudah pisah kamar (mandi) Yes. Paling tidak satu potensial keselamatan kerja saya hindari. Dan kelak kalau anda merancang rumah sebaiknya dipertimbangkan saluran untuk air panas supaya tidak mengalami nasib macam saya.

Advertisements
Posted in indian

Pesan Kepala Suku Indian White Cloud


Gambar Chief White Cloud
Gambar Chief White Cloud

Your religious calling was written on plates of stone by the flaming finger of an angry god.

Our religion was established by the tradition of our ancesstor, the dream of our elder that are given to them in the silent hours of night by the great spirit, and the premonitions of the learned beings.

It is written in the hearts of our people, thus we do not require churches which would lead us to argue about god.

We do not wish this.

Earthly things may be argued about with men, but we never argue over god.

And the thought that white men should rule over nature and change its ways following his liking was never understood by the red man.

Our belief is that the great spirit has created allthings, not just mankind, but all animals, all plants,all rocks.

All on earth and amongst the stars, with true soul for us all, life is holy.

But you donot understand our prayer whenwe address the sun, moon and winds.

You have judged us without understanding. Only because our prayers are different. But we are able to live in harmony with all of nature. All of nature is within us and we are part of all nature. Chief White Cloud

Saya menemukan tulisan dan gambar ini dalam sebuah poster tergeletak di rumah kerabat saya. Yang unik, kerabat ini kalau dalam “islam” tergolong Ulama. Namun ia cukup buka hati mengenai kepercayaan orang lain.

Saya minta ijin mengabadikan dalam handphone saya. Apalagi setelah membaca ptotes para Bhiksu dan Bhiksuni di Korea Selatan berhubung Perdana Menterinya sudah merasa modern, lalu melecehkan kepercayaan para pemeluk Budha.

Untung saja, para Bhiksu dan Bhiksuni masih sejalan ucapan dan perbuatan. Kalau dibilang anti kekerasan, ya marah boleh marah tetapi bukan merusak, menjambak, memukuli pihak yang dianggap tidak sejalan dengan kita. Atau peristiwa di Iraq, saat bom bunuh diri banyak menyerang komunitas kaum Kristen, ulama Muslim garis keras malahan duluan bahu membantu mereka, pasang badan melindungi saudaranya yang sekalipun tidak seagama namun kemanusiannya tersentuh.

Kita masih harus meniru adat istiadat yang begini.

Posted in Uncategorized

Anggrek


Betapa senangnya hati Madi,50tahun, melihat halaman belakang rumahnya yang tak seberapa luas di bilangan Jakarta Timur sudah mulai nampak hijau dan aneka rupa warna bunga.  Lalu ada penghuni baru berupa anggrek yang bergelantungan. Salah satu kesayangannya yang dijadikan ikon  Singapura adalah anggrek Bulan.

Sebagai pemula dalam tanaman hias, apalagi anggrek, rasanya belum berani nyali untuk menginvestasikan modalnya secara “tancap gas” ke tanaman anggrek maksudnya kalaupun gagal, kerugian tidak terlalu besar.

Tapi dasar manusia hatinya tetap saja tak sabar ingin agar halaman belakang rumahnya segera dipenuhi anggrek. Caranya, ia membeli anggrek plastik yang disamarkan diantara anggrek aseli. Kecuali dirinya tak ada yang bisa membedakan antara aseli dan aspal.

Suatu pagi ia melihat anggrek plastiknya yang dipasang di sayap timur nampak melengkung sehingga tangan cekatannya menekuk dan menarik daun dan bunga anggrek yang nampak lesu darah.

Perbuatan ini diam-diam diikuti oleh pembantu lelakinya yang baru, Pardi. Sayangnya daun yang dipotes-potes oleh Pardi adalah anggrek aseli (sayap barat) yang baru dibeli tuannya. Saat bunga anggrek aseli mulai memenuhi lantai, baru sang pemilik terkaget.

Ah dimana-mana barang palsu selalu membawa masalah. Tapi tidak selalu yang aseli bebas masalah. 

Pardi pernah membatu menjadi tukang di rumah kami. Karena pekerjaan tukang batu sudah selesai, saya memintanya menyambung kabel antene TV karena sedang dijangkungkan. Tidak disangka 3 kabel antene lain dia putuskan, lalu disambung menjadi satu. Akhirnya saya harus turun tangan menguruti jalur antena yang sudah dimultilasi kang Pardi.

Posted in hobby

mendadak nara sumber Berkebun di tanah sempit


Saat acara "berkebun itu menyenangkan" di udarakan.
Saat acara

Jam setengah tujuh pagi Senin 27 Oktober 2008 saya sudah beranjak dari rumah di Bekasi mengantisipasi kemacetan lalu lintas. Tol Jatiwarna – masih nampak sunyi senyap, hanya papan pengumuman di pintu masuk bikin “ngeper” – Tol Cawang Padat dan tersendat. Ah saya coba keluar di pintu Cilandak lalu ambil jurusan Warung Buncit yang mudah-mudahan “sepi ing mobil” – dan intuisi indera keenam yang diasah selama ini, masih salah lagi.

Ditengah pergumulan kendaraan, sebuah pesan singkat dari mas Eryawan sang pemrakarsa dari Wikimu bertanya “Sudah ada dimana?” – yang terpaksa belum saya jawab sebab hidung Kopaja seperti kepala pengamen bocah muncul begitu saja dikaca pintu kala menunggu lampu hijau di prapatan jalan.

Antrean mobil membuat saya termehek-mehek tiba di wisma Granadi di bilangan Kuningan Jakarta. Sebetulnya saya merasa “jiper, seharusnya sewaktu mas Eryawan ber SMS “ajakan wikimu mengisi acara TalkShow ” – saya jangan main langkah tegap. Tetapi mau bagaimana lagi, Wikimu selalu membawa daya tarik sendiri bagi saya.

Bersama Awak Radio
Bersama Awak Radio

Saat pintu lift lantai empat terbuka jam menunjukkan seperampat lebih jam sembilan.

Ternyata mas Eryawan, mbak Riri sang penyiar dan petugas pengatur lagu sudah berada di dalam. Wulan Jameela  nampak mendendangkan lagu populer yang katanya bukan terbuat dari besi baja yang tidak bisa menahan rasa sakit asmara..

Sebat ia mengorder kopi susu untuk saya. Lalu disodorkannya lidah kucing yang katanya sisa lebaran. Sementara mas Eryawan “berAqua.”

Tidak lama kemudian, pak Apung datang seorang wikimuer nara sumber.

Kami berkenalan dan ketika waktu menunjukkan pukul sepuluh, langsung kami masuk dengan acara bertopik “berkebun itu menyenangkan..” – Apung dan saya mempunyai kesamaan, yaitu “sebetulnya yang berkebun seperti pegang tanah dan pupuk itu pembantu di rumah..” – sementara kami adalah “instruktur berkebun,” pasalnya modalnya cuma jari telunjuk.

Pak Apung nampaknya sudah siap sekali dengan script yang akan dibacakan sementara saya lebih banyak “gimana nanti..” – pasalnya pembicaraan kebun kalau dibebani teknis detail cara menyiapkan pupuk, kebun, sebaiknya baca Trubus lebih afdol.

Pertanyaan kepada saya adalah mengapa senang berkebun? – jelas aja sehari-hari saya orang perminyakan, melihat laut, besi baja yang  bernama mesin bor. Maka berkebun adalah cara lain dari keluar dari rutinitas sehari-hari. Lalu berhubung ada penanya yang menanyakan apakah berkebun bisa menjadi tambahan “dapur mengepul” – sementara Apung mengatakan “kami belum pernah jual tanaman” – saya langsung menyabet dengan tanaman pot yang dikenal sebagai Keladi Tikus dan dipercaya untuk mengobati semacam kanker. Tak banyak saya bicara tanaman satu ini. Rahasia perusahaan.  

Tidak terasa enam puluh menit berlalu, setelah merangkum hasil pembicaraan maka kami masih meneruskan berbincang selama hampir setengah jam lebih. Sebuah buku tulisan seorang wikimuer remaja berkacamata,  nampak terpajang di meja studio.

Pasalnya pintu studio macet sehingga perlu di “bandrek” untuk membukanya. Maka hari itu saya melihat juru warta dan juru musik pegang obeng, palu membongkar engsel pintu masuk Gedung Granadhi Lantai 4 – Whoaaa

Mudah-mudahan bukan kualat gara-gara bilang tanam cabai  di rumah no problem, pelihara kamboja, puring kuburan boleh-boleh saja.

Posted in batavia

Serdadu Bayaran Kompeni


Konon buku catatan perjalanan “Jan” seorang anak Amsterdam yang pernah bertugas di Resimen Tujuh yang terdiri para sedadu bayaran ini dikirmkan secaran “anonim” – lantaran sebagai militer ia tidak mau ditengarai mengeritik kerajaan Belanda.

Begitu kapal mendarat di Tanjung Priok, ternyata hanya tentara berpangkat tinggi dan orang kaya yang boleh merapat sementara mereka ditinggal semalaman di kapal sambil berperang melawan bau busuk rawa dan nyamuk Jakarta yang seperti gila menyedoti darah impor segar mereka.

Kritikan pertama dalam catatan perjalanannya sesampai di Batavia adalah kecenderungan orang Belanda menyebut dirinya sebagai “Orang Eropa” – sementara penduduk Hindia Belanda menyebut semua orang Eropa sebagai “Belanda” – mungkin pikir si Jan sudah jadi Belanda saja susah (ia dari keluarga Pemabuk), boro-boro kepingin jadi orang Eropa.

Mungkin 200tahun kemudian Jan kalau masih hidup akan ikutan berkata “Jadi orang Indonesia saja syusah” – kok ada yang ada yang kepingin jadi orang Arab atau Israel.

Kritikan kedua, diantara pelangi antar bangsa yang menjadi tentara “Nijmegen” – nyata-nyata orang Jerman , kendati bengis – namun soal kerja mereka rajin dan profesional. Sementara tentara Belanda dilihatnya selalu menjadi “ayam belehan” – ayam sembelihan. Lalu dia melihat para soldadu yang asal-usulnya tak lebih dari melarat, tatkala tiba di Hindia Belanda menjadi lupa diri seakan mereka berasal dari anak Tuan Tanah Kaya Raya di negaranya sana.

Umumnya tentara bayaran kerajaan Belanda terdiri dari orang Austria, Jerman, Swiss yang anteng-anteng saja. Salah satunya adalah saat mereka memuji makanan mewah yang selalu tersedia di Hindia Belanda maka biasanya ada suara minir dari anak Amsterdam (miskin) “tentu saja kalian diberi makanan enak biar betah tinggal disini, kalau tidak mendingan pulang ke Nijmegen..

Lalu kesannya ketika melewati perkampungan Cina di Glodok adalah, “dua cina berbicara” – cukup beralasan untuk mendatangkan pemadam kebakaran, opas dan tentara satu detasemen. Tapi ia juga memuji tidak ada bangsa lain di dunia kecuali Cina yang begitu lihay mengelola dagang dan keuangan.

Sekalipun tentara Kolonial dia juga mengolok sistem diskriminasi bahwa orang Cina digolongkan warga Asing di Batavia. “Kalau Singkeh (totok), bolehlah dibilang orang asing, tetapi kaum peranakan yang sudah lebih tahu Batavia puluhan bahkan ratusan tahun lalu ketimbang Belanda, geli rasanya kalau mereka disebut warga asing.” 

Olokan lainnya dalah dinegeri yang panas mereka diberi seragam wool yang tebal, penutup kaki yang sampai lutut sehingga dipastikan sebentar saja sudah mandi keringat. “Kerajaan Belanda tidak punya selera dalam merancang pakaian perang..”

Tapi dia juga senyum geli melihat tentara pribumi berpangkat tinggi, dengan baju warna coklat, menyelempang pedangdengan rumbai-rumbai. Tapi nyeker. “geli sih melihatnya, tapi karena pangkat mereka lebih tinggi, saya juga harus memberi hormat. Kadang saya kepingin tahu bagaimana mereka menumpas kerusuhan…”

Soal murah meriah, namppaknya berlaku juga. Ia mengatakan bahwa tarif menginap di Hotel Terbaik di Tanah Jawa yaitu Des Indes berkisar antara 6-10 gulden. Padahal di Singapura, hotel kaliber Melati sudah mematok 15 gulden.

Posted in hukum

Menyelesaikan urusan lalulintas di pengadilan


Pas lampu merah menyala di kawasan Cilandak, terdengar bunyi “gedubrak” – sebuah motor mencium pantat mobil mirip kijang. Pagi begini tatkala semua orang bergegas hendak kekantor, maka kecelakaan lalu lintas seperti pemandangan hari-hari. Maka saling lontar umpatan terjadi. Kedua pihak yang bertengkar tiba-tiba naik pangkat – mereka merasa lebih cerdas daripada lawan bicara, merasa lebih manusia ketimbang lawannya, dan merasa lebih tahu aturan daripada yang lain.

Ujung-ujungnya keduanya saling tukar menukar kepalan tangan. Sementara pengendara lain segera menepis membiarkan pihak yang bertikai. Lalu ada yang nyeletuk “selesaikan saja di pengadilan…” – mungkin ia barusan membaca iklan di pinggir jalan tol “kebenaran itu tidak memihak..”:

Tapi coba kalau anda sendiri duduk sebagai pengemudi Kijang, langsung kita akan berubah menjadi manusia “pemaki” segala kendaraan roda dua. Mulai dari “Yang tidak tahu aturan, main nyerobot, salib kanan salib kiri tanpa memberikan tanda sehingga membuat adrenalin berdenyut lebih deras.”

Apalagi ada aturan baku tak tertulis- kalau nabrak maka mobil yang salah.

Tapi coba juga anda duduk disadel roda dua, sepagian tangan “nyekengkeng” tegang memutar kopling, rem, menghisap CO2, disauna kering knalpot panas mesin mobil, diasapi mirip rawa nyamuk malaria. Maka pengendara motorpun berkilah “situ enak duduk diruang AC, dengerin CD, menjawab HP, sambil kadang mulut disuapi oleh istri atau siapa saja.” – Salah-salah selangkangan kram mirip orang belajar naik kuda tanpa pelana.

Lalu saya ingat teman saya pernah mengalami kejadian mirip. Bemper mobilnya rusak dihajar mobil dari belakang sehingga ia minta ganti rugi. Harga dipasaran gelap sekitar setengah jutaan. Tapi sang penabrak lebih ngotot cuma mau ganti 25 ribu. Atas tantangan sang penabrak mereka setuju menggunakan jasa pengadilan.

Maka hari yang ditentukan, diantara deretan PSK, gelandangan ia menunggu giliran dipanggil pak Hakim. Lepas makan siang gilirannya tiba. Pak hakim setuju bahwa pria penabrak membayar ganti rugi sebesar 250 ribu rupiah alias sepuluh kali lipat daripada kesanggupan pertamanya. Bahkan sitergugat enteng meninggalkan sidang lalu nyantai makan bakso lalu menandatangani berita acara dan membayar denda. Giliran teman saya berada didepan loket dengan harapan dapat sekedar ganti rugi ia dengan menunjukkan formulir serah terima.

Tapi mana uang yang disebut oleh Hakim?”

Anda mungkin tak percaya, teman saya tadi tidak menerima sesenpun ganti rugi yang ia perjuangkan sebab uang tadi dipaksa disumbangkan untuk negara.

Nanti kalau anda masih ngotot mencari yang 250 ribu tadi, sebaiknya anda naik banding perdata, dan itu bisa berjalan setahun lamanya. Mau dapat untung malahan buntung.

Tak heran orang suka sekali menyelesaikan sebuah masalah dengan kekerasan alias OKOL. Dari soal kecelakaan lalu lintas sepertinya lebih afdol diselesaikan seperti ilustrasi mobil dan sepeda motor yang memilih gebug-gebukan dijalan sebab kalau dibawa ke “jalan yang benar” malahan kesasar yang didapat.

Posted in musium

Ketika Gedung Artja dirampok


Bang Naiman, penduduk Kampung Ambon PuloGadung, seumur-umur tidak akan melupakan pengalaman buruknya. Ia masih ingat benar hari Jumat pagi jam 8 lebih seperempat, 30 Mei 1963, berarti 30 tahun lebih ia mengabdi sebagai pegawai rendahan Gedung Artja.

Jumat pagi itu ia sedang membersihkan benda kuno di ruang emas sementara temannya Miin kebagian benda perunggu. Saat itulah lima garong berpakaian mirip polisi memasuki musium sambil menodongkan senjata kepada Miin. Salah seorang perampok membekap Naiman dari belakang setelah menghantam kepalanya dengan gagang pistol.

Nampaknya melihat sosok kekar Naiman gelagepan diserang dari belakang, penjahat terlatih ini tahu bahwa korbannya “punya permainan” – istilah Betawi untuk kepandaian bela diri. Ia langsung dikeroyok dan salah satu garong menusukkan pisau ke arah perut.

Disinilah naluri yang terasah dari hasil ketrampilan latihan silatnya bereaksi, tangan kirinya menepis mata pisau sehingga serangan sekalipun mengenai tubuh namun tidak tepat sasaran vital.

Hanya jari tangannya terpotong sampai hampir putus sementara perutnya robek 7cm.

Sebagai manusia biasa menghadapi serangan mendadak pada batok kepala belakang, jari yang nyaris putus dan perut yang sudah robek membuat Naiman tersungkur. Dan tanpa belas kasihan kepalanya diinjak oleh garong lalu ditindih di bawah lemari.

Setelah menjarah emas, garongpun berlalu menggunakan kendaran Jip meninggalkan Naiman yang tak sadar diri tertelentang bersimbah darah.

Rekannya Miin sudah sejak lama separuh nyawanya melayang menyaksikan kejadian tersebut. Bahkan pasca kejadian, Miin begitu depresi lantas jatuh sakit sampai akhirnya meninggal dunia.

Naiman dibawa ke rumah sakit pusat. Ia harus menahan sakit sambil mengucurkan darah dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore sebab mana ada para medik atau dokter yang perduli dengan pria sederhana ini. Dua direktur Musium harus bertengkar dengan petugas rumah sakit yang ngotot bahwa luka tusukan sangkur 7cm, kepala bocor dihantam senapan, dan jari tengah nyaris putus tidak ubahnya serupa anak main layangan menginjak belin pecahan botol.

Naiman pun dicabut dari rumah sakit tersebut dan dibawa ketempat praktek dr. Blume di jalan Tanah Abang. Tiap hari ia harus menerima injeksi 20kali. Buah perjuangannya adalah tanda jasa berupa bintang parut di perut, bekas sabetan senjata tajam pada lengan, jari nyaris putus, pitak dikepala dan kedua kakinya sering kejang-kejang.

Sekalipun dalam keadaan sakit, Naiman pantang pulamg ke rumah. Ia ditidurkan di amben musium dan rawat musium oleh teman dan anak lelakinya. Mengherankan nafsu makannya bertambah, apa saja yang dibawakan oleh temannya langsung disantap habis.

Akibatnya perutnya sering kepenuhan bahkan terasa nyeri dan celakanya ia susah buang air besar sementara perutnya makin membengkak.

Satu malam ia mencoba tidur untuk meredakan rasa sakitnya. Antara lelap dan sadar ia mendengan bisikan halus “kalau mau sembuh jangan tidur,” seperti wanita. Seperti suara berasal dari arca ayu di musium yang ia jaga siang dan malam.

Merasa menghadapai halusinasi, maka ia terbangun dan yang dilihat cuma anak lelaki tidur pulas disampingnya. Akhirnya ia pasrah dan pada saat tertentu ada tangan halus “rasa wanita” mengurut perutnya sehingga ia bisa buang air besar.

Sebelumnya diawal pendudukan Jepang, Naiman mempunyai rekan yang terkenal kuat sehingga dijuluki Mat Banteng. Sementara pegawai lain mengungsi lantaran konflik Jepang Belanda, Naiman dan Mat Banteng tetap taruhan nyawa menjaga musium agar tidak dijarah.

Sebagai penangsel perut mereka memetik pepaya yang tumbuh dihalaman. Suatu malam, terdengar pintu musium berderit dan celakanya kaca-kaca dipecahkan oleh “sang pancalongok benda pra sejarah..” – Mat Banteng yang juga jagoan Silat setingkat lebih tinggi dari Naiman langsung menghunus golok dan mendatangi arah suara yang nampaknya dari pintu belakang.

Sesampainya di TKP, mereka hanya memberi isyarat satu sama lain dan tanpa suara kembali ke pintu depan dengan lutut beradu. Mereka memilih tidak menghiraukan suara acara memecahkan kaca dan membuka tutup pintu lantaran memang tidak ada kasat mata disana.

Teman-temannya menertawakan “kebodohan” Naiman lantaran sudi-sudinya menjadi pekerja “republiken” – padahal tidak dibayar sepeserpun. “Orang-orang dapat tanda jasa, kedudukan dan gaji tinggi, nah elu ke kantor aja pakai baju rombeng..” – kali ini ia tersinggung dan menutup gurauan dengan sebuah tinju yang telak diwajah sang nyinyir. Jago silat kita “terpaksa membela harga dirinya..”

Seperti cerita klasik, tekanan ekonomi, tekanan fisik menghalanginya untuk meneruskan kerja di musium. Padahal jarang-jarang seorang lelaki sederhana berani menjawab pertanyaan Presiden Soekarno saat berkunjung ke musium, “kalau saya perampoknya bagaimana?” – dan Naiman tegas menjawab sekalipun kurang ngaruh “cacing saja kalau diinjak melawan Pak!.”

Musium selalu digambarkan sementara orang sebagai tempat yang ganjil. Sebuah buku tertua mengenai Navigasi ditulis dalam Bahasa Itali sebanyak tiga jilid tebal. Judulnya Navigatioi et Viaggi.

Anehnya jilid pertama diterbitkan tahun 1613M, sedangkang adiknya diterbitkan secara aneh yaitu tahun 1556M dan buku paling muda diterbitkan 1500M.

Selain tempat ganjil sejatinya orang-orang sekitar musium memiliki kisah yang kalau kepermukaan kertas, ia bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Sumber Bacaan: Dari buku Cerita Dari Gedung Arca – Wahyono Martowikrido