Posted in famili

Makan Bisul


Senyum lebar saat makan bisul
Senyum lebar saat makan bisul dan kancing baju yang lepas

Ashrof keponakan saya ini sudah ditasbihkan oleh orang tuanya “mengikuti jejak pakde Mimbarnya” – pertama ia mengeluh tidak bisa membaca sehingga harus ke dokter mata.

Ternyata  kedua mata anak yang baru beberapa bulan pindah dari Amerika ke Indonesia ini harus dibantu oleh kacamata minus. Ketika kacamata kir ini dicobakan “apakah kepala Ashrof terasa berat?” tanya tukang kacamata.

Eh anak ini tidak menjawab tetapi malahan berdiri dari tempat duduknya dan berjalan sempoyongan sambil tangannya terjulur lurus kedepan seperti filem vampir hongkong. Keruan ibunya mbatin “kok Mas Miem banget..

Gaya diplomasinyapun mulai dipertontonkan. “Kata mama baju ini dibeli dengan mahal, tetapi mengapa kancing atasnya sudah lepas?” – langsung mamanya menjawab “ah alasan kamu mencopot kancing baju..”

Ketika anak ini datang ke rumah bersama dengan kedua kaka perempuannya, pada lebaran harian pertama 1429H, saya memperkenalkan cara Indonesia berlebaran yaitu memberikan salam tempel.

Ashrof, Tabina dan kakak tertuanya Arwa langsung melihat saya dengan wajah menolak. Mereka di Amerika tidak pernah ada istilah “diberi uang oleh orang lain…” – Bahkan Asrof sama sekali tidak mengerti nilai uang. Buktinya ketika menerima uang pemberian saya langsung teriak “Ma saya punya wang Limaratus rupiah…” – padahal mana ada pecahan kertas limaratus rupiah.

Sekali waktu Ashrof menderita bisul di tubuhnya.  Dan daripada repot ke dokter (kakeknya seorang dokter) orang tua mereka memilih pengobatan tradisional. Anak ini nyengir kuda ketika dijejeli makanan hasil fermentasi yang menurutnya aneh.

Dan lebaran kemarin ia mendapatkan sepotong cake-tape. Begitu dirasakan ada bahan pembuat kue yang amat dikenalinya langsung ia berteriak  “Ma, rasanya aku makan bisul…..” – bahkan ketika segelas es buah atep (kolang kaling) dengan santan putih sedikit kemerahan, dia berteriak “esnya dikasi(tanpa h) pupur.

Anak ini pula ketika minggu pertama datang dari Missouri, lantas oleh ibunya diajak “menengok” pak De Mimbar – ia langsung nampak terkejut “Is He Allright?” – lantaran menengok seseorang di Amerika biasanya bukan kabar baik keluarga.

Papanya mencoba mengarahkan anak ini ke “jalan yang benar,” – saat mengunjungi salah seorang pakde yang lain (adik saya) , sang ayah sadar bahwa pakde yang satu ini selalu ketus kalau bicara. Maka Asrof diwanti-wanti bahwa anak lelaki harus tidak banyak bicara tidak banyak gojek (canda).  Salah satu anaknya nyeletuk “maksud papa, lelaki itu seperti papa. Diam, menghadap laptop sepanjang hari?.”

Tetapi ada kesatuan pendapat dari ketiga keponakan saya yang membuat harus disikapi dengan berhari-hati. Mereka pernah menyatakan pendapatnya kepada sang ayah. “Sorry Pa, kelihatannya keluarga mama lebih asyik..

Tapi namanya anak-anak mau bilang apa.

1 Oktober 2008

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

4 thoughts on “Makan Bisul

  1. Anak yang besar di Indonesiapun ada yang tak mengenal salam tempel. Hari ke dua lebaran, pak Eryawan Wikimu berkunjung ke rumah saya bersama nyonya dan 2 yunior.
    He , he, hampir saja kucing anak saya ketiban rejeki, uang (hadiah lebaran) Jeihan nya mas Ery, di sodorkan ke kucingnya anak saya!

    Selamat Iedul Fitri 1429 H pak Mimbar.
    Mohon maaf lahir dan batin.

    Like

  2. Selamat Iedul Fitri 1429 H pak Mim,mohon maaf lahir dan batin dari saya penggemar(diam-diam)tulisan anda(karena nggak pernah ngasih koment),membaca tulisan anda saya teringat tulisan2 kolomnya pak Umar kayam (sy penggemar berat beliau)dengan tulisannya yang ringan menggelitik tetapi punya kedalaman.Matur suwun pak Mim.

    Like

  3. Mas Yudil Arif, saya juga sering mengunjungi blog orang lain, ternyata membuat komentar juga harus berbakat, sialnya saya tidak dalam golongan tersebut

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s