Posted in gaya hidup

Mencari TV bersanggul


Bang Jaja minta di album dulu, rupanya minta dipotret dengan latar belakang taman yang baru di "dzat" alias dipupuk olehnya
Bang Jaja minta di album dulu, rupanya minta dipotret dengan latar belakang taman yang baru di-dzat (pupuk) olehnya

Namanya Bang Jaja, begitu kami mengenal salah satu penjual tanaman hias langganan kami. Lokasinya cukup strategis yaitu arteri jalan tol Jatiwarna. Supaya keren dia pasang plang besar terbuat dari balok kayu lebar, mungkin bernada filem koboi. Lalu dia tulis nama usahanya, keahliannya menjual tanaman, pupuk.

Agar lebih “dekat dengan pelanggan” maka bang Jaja tak lupa menyertakan nomor HP-nya, maksudnya agar bisa dihubungi oleh pelanggan sewaktu-waktu.

Nomor HP ini ditulis sebisanya dengan gaya cakar ayam selembar papan berkayu warna keputihan ditindas dengan cat Kuda Terbang warna hitam dof.

Saya simpan nomor bang Jaja sayang setiap saya membutuhkan jasanya nomor HP tersebut tidak bisa dihubungi entah dengan alasan diluar jangkauan atau tidak aktip.

Akhirnya kami datangi “centra tanaman” pria yang lulusan SD ini. Baru ketahuan nomor lamanya sudah hangus. Sebagai gantinya ia sudah beli nomor HP baru. Lalu nomor ini ia tuliskan pada pelang nama dengan warna yang sengkarut lantaran ia pilih cat cap kuda terbang warna coklat emas untuk menindas nomor HP lama dengan gaya tulisan seadanya. Begitu saja sehingga anda seperti melihat satu nomor dengan bayang-bayang nomor lain.

Sumprit jangan sekali-kali percaya nomor ini, pertama yang hitam sudah angus, yang kuning kurang dua digit dibelakangnya
Sumprit jangan sekali-kali percaya nomor ini, pertama yang hitam sudah angus, yang kuning kurang dua digit dibelakangnya

Anda perlu lulus dari “test buta warna” untuk membedakan mana warna papan dengan warna tulisan. Belum lagi beberapa cat karena masih basah saling berlomba melorot turun.

Entoh nomor inipun tidak bisa dihubungi.

Sekali lagi kami mendatangi TKP-nya dan ternyata pria yang demen menyebut “reaksi” antara pupuk dengan media tanaman sebagai “ngedzat” ini kelupaan dua digit paling belakang no HP-nya yaitu “55” – Dia sendiri baru ngakak setelah kami yakinkan bahwa yang ditulisnya itu salah. “Bukan salah cuma lupa nulis dua nomor paling belakang…,” kata pemilik “Taman Indah” ini merenges enteng. Sekarang coba cocokkan nomor HP sesuai yang tertulis di kartu prabayarnya, dan kelak kalau masih tidak bisa dihubungi alasannya segudang “lagi ngedrop..” – bisa berarti low bat sekalugus low pulsa.

Gantian karena hari Kamis saya harus pakai batik demi kelangsungan kekayaan bangsa, eh dia enteng komentar “roman-romannya baoak mo kondangan?.” – bagi Jaja, batik adalah pakaian resmi.

Ayah beranak dua ini kadang mengasongkan diri mengurusi taman kecil kami yang belakangan menjadi posko para ular melepaskan kulit tuanya.

Saya memang memberi perintah untuk tidak membunuh ular, cukup dibiarkan agar jangan sampai masuk rumah. Bukan saya punya ilmu ular, sekedar ikutan gaya pimpinan Rokok Kretek Kediri yang selalu menyiapkan padi untuk makanan burung yang habitatnya terganggu oleh bangunan kepentingan manusia.

“Cakep yah..,” kata Jaja sambil tangannya menyusun potongan batu kali. “Apalagi kalau punan Kupu Papu yang BIRU di petain disini.” – Bicara dengan pria ini anda harus membuka kamus bahasa Gado-gado, pertama ia mengucapkan cakep untuk pengganti kata pantas, kedua kata punan adalah bahasa tergesa dari pepohonan (pepuunan), ketiga kata “peta” adalah susunan. Tetapi yang membingungkan sekalipun warna dedaunan selalu ijo royo-royo, pemilik butik tanaman ini ngotot menyebut Biru-Royo-royo. 

Sekali waktu dia bilang “badan sudah ngegeter (bergetar) nih” – rupanya tadi pagi lupa sarapan sehingga ketika gula darahnya turun membuat tangannya seperti pegang stang bajaj.

Maka kami persilahkan ke dapur untuk mengambil makanan. Saat melewati ruang tamu tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada sebuah benda tipis. Dengan lugu ia berbisik kepada temannya “ini bener Tipi yah..” – temannya Andi yang “rada makan sekolahan,” sebab pernah duduk di STM menyahut “ya iyalah.”

Cuma kenapa kagak ada kondenya (konde=sanggul) kayak yang dirumah kite yah. Lagi-lagi Jaja menowel Andi rekannya seperti minta penjelasan dimana tabung gambar, kumparan yang umumnya berada di bokong tv jaman dulu.

Rupa-rupanya jaman begini maju bang Jaja baru pertama kali ia melihat pesawat layar datar yang kadang memuat pemandangan kelompok yang selalu mengaku tidak ingin tindak kekerasan tetapi bersikeras hendak memukuli polisi dan membodoh-bodohkan aparat.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s