Posted in Jam

Bikin Jam Tujuh Kurang Seperempat


Di layar TV saya lihat sebuah sekte agama di kawasan Sulawesi yang menghitung lebaran 1429H satu hari lebih awal daripada yang ditetapkan oleh pemerintah. Lalu mereka menerangkan bahwa patokan waktu salat dilakukan dengan jam bayang-bayang matahari persis seperti yang dilakukan orang terdahulu kita.

Soal ketepatan waktu, orang jaman sekarang berpatokan kepada jarum jam. Ada yang begitu super telitinya sehingga jam dikomputerpun di samakan dengan jam di server komputer superpresisi. Pokoknya jam adalah waktu yang mutlak. Lihat saja pergantian tahun baru, sampai setiap gerakan jarum jam dipelototi dengan rasa berdebar seakan-akan ketika tahun berganti matahari akan terbit dari Utara.

Atau masih ingat saat pergantian milenium, betapa dahsyat ramalan bahwa dunia akan kiamat, lalu para pseudo-scientist mulai otak atik angka sehingga menjelang perubahan tahun 199 ke 2000 semua bangunan, bank, satelit seperti disiagakan untuk menghadapi kiamat akibat jam komputer kacau.

Kecuali pada sebuah keluarga. Seorang kakek nampak sibuk membuka jam dinding (yang tidak tertawa) karena mulai menunjukkan waktu yang ngaco belo. Dengan usia dan tangannya yang bergeletar, maka memijit sebuah baterei biru berukuran AA, menjadi pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi level tinggi. Saya hanya menyaksikan dari kejauhan dan tidak berusaha menolongnya.

Setelah berkutat beberapa lama tiba-tiba Klothak, baterei berhasil dipretheli diikuti suara klek kali ini tangannya sigap memasukkan baterei pengganti lain.

Sayangnya tidak lama kemudian dia misuh-misuh memaki “kurang asem, baterei lama aku pakai..” sebab jam dinidngnya malahan mogok berat – iapun lalu selarak-slerek membuka laci meja dan menemukan sebuah baterei merah yang mudah-mudahan bukan barang seken.

Voila, baterei yang tepat akan menunjukkan waktu yang tepat. Lalu saya memberikan bacaan pada jam saya, jam tujuh kurang 30 menit.

Baru saja Kakek berusaha memutar jarum ke angka yang saya sebutkan, pasangan hidupnya yang sudah 51tahun hidup bersama mendadak memberi komando, “bikin jam tujuh kurang 15menit saja..

Whelala.. bagaimana ini, ternyata sudah mendekati usia ke 80tahun mereka selalu membohongi “diri” dengan menambahkan jarum jam sebanyak lima belas menit. Kalau lain orang kepingin jamnya sesuai dengan “apa kata dunia,” – lho kakek dan nenek, sesuai dengan “suka-suka.”

Hebatnya, akibat selalu “ditipu jam-blandhang” mereka memang tidak pernah datang dalam suatu perhelatan, meeting atau janji apa saja dalam keadaan telat. Selalu datang lebih awal.

Apa gara-gara jam ya?

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s