Posted in musium

Ketika Gedung Artja dirampok


Bang Naiman, penduduk Kampung Ambon PuloGadung, seumur-umur tidak akan melupakan pengalaman buruknya. Ia masih ingat benar hari Jumat pagi jam 8 lebih seperempat, 30 Mei 1963, berarti 30 tahun lebih ia mengabdi sebagai pegawai rendahan Gedung Artja.

Jumat pagi itu ia sedang membersihkan benda kuno di ruang emas sementara temannya Miin kebagian benda perunggu. Saat itulah lima garong berpakaian mirip polisi memasuki musium sambil menodongkan senjata kepada Miin. Salah seorang perampok membekap Naiman dari belakang setelah menghantam kepalanya dengan gagang pistol.

Nampaknya melihat sosok kekar Naiman gelagepan diserang dari belakang, penjahat terlatih ini tahu bahwa korbannya “punya permainan” – istilah Betawi untuk kepandaian bela diri. Ia langsung dikeroyok dan salah satu garong menusukkan pisau ke arah perut.

Disinilah naluri yang terasah dari hasil ketrampilan latihan silatnya bereaksi, tangan kirinya menepis mata pisau sehingga serangan sekalipun mengenai tubuh namun tidak tepat sasaran vital.

Hanya jari tangannya terpotong sampai hampir putus sementara perutnya robek 7cm.

Sebagai manusia biasa menghadapi serangan mendadak pada batok kepala belakang, jari yang nyaris putus dan perut yang sudah robek membuat Naiman tersungkur. Dan tanpa belas kasihan kepalanya diinjak oleh garong lalu ditindih di bawah lemari.

Setelah menjarah emas, garongpun berlalu menggunakan kendaran Jip meninggalkan Naiman yang tak sadar diri tertelentang bersimbah darah.

Rekannya Miin sudah sejak lama separuh nyawanya melayang menyaksikan kejadian tersebut. Bahkan pasca kejadian, Miin begitu depresi lantas jatuh sakit sampai akhirnya meninggal dunia.

Naiman dibawa ke rumah sakit pusat. Ia harus menahan sakit sambil mengucurkan darah dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore sebab mana ada para medik atau dokter yang perduli dengan pria sederhana ini. Dua direktur Musium harus bertengkar dengan petugas rumah sakit yang ngotot bahwa luka tusukan sangkur 7cm, kepala bocor dihantam senapan, dan jari tengah nyaris putus tidak ubahnya serupa anak main layangan menginjak belin pecahan botol.

Naiman pun dicabut dari rumah sakit tersebut dan dibawa ketempat praktek dr. Blume di jalan Tanah Abang. Tiap hari ia harus menerima injeksi 20kali. Buah perjuangannya adalah tanda jasa berupa bintang parut di perut, bekas sabetan senjata tajam pada lengan, jari nyaris putus, pitak dikepala dan kedua kakinya sering kejang-kejang.

Sekalipun dalam keadaan sakit, Naiman pantang pulamg ke rumah. Ia ditidurkan di amben musium dan rawat musium oleh teman dan anak lelakinya. Mengherankan nafsu makannya bertambah, apa saja yang dibawakan oleh temannya langsung disantap habis.

Akibatnya perutnya sering kepenuhan bahkan terasa nyeri dan celakanya ia susah buang air besar sementara perutnya makin membengkak.

Satu malam ia mencoba tidur untuk meredakan rasa sakitnya. Antara lelap dan sadar ia mendengan bisikan halus “kalau mau sembuh jangan tidur,” seperti wanita. Seperti suara berasal dari arca ayu di musium yang ia jaga siang dan malam.

Merasa menghadapai halusinasi, maka ia terbangun dan yang dilihat cuma anak lelaki tidur pulas disampingnya. Akhirnya ia pasrah dan pada saat tertentu ada tangan halus “rasa wanita” mengurut perutnya sehingga ia bisa buang air besar.

Sebelumnya diawal pendudukan Jepang, Naiman mempunyai rekan yang terkenal kuat sehingga dijuluki Mat Banteng. Sementara pegawai lain mengungsi lantaran konflik Jepang Belanda, Naiman dan Mat Banteng tetap taruhan nyawa menjaga musium agar tidak dijarah.

Sebagai penangsel perut mereka memetik pepaya yang tumbuh dihalaman. Suatu malam, terdengar pintu musium berderit dan celakanya kaca-kaca dipecahkan oleh “sang pancalongok benda pra sejarah..” – Mat Banteng yang juga jagoan Silat setingkat lebih tinggi dari Naiman langsung menghunus golok dan mendatangi arah suara yang nampaknya dari pintu belakang.

Sesampainya di TKP, mereka hanya memberi isyarat satu sama lain dan tanpa suara kembali ke pintu depan dengan lutut beradu. Mereka memilih tidak menghiraukan suara acara memecahkan kaca dan membuka tutup pintu lantaran memang tidak ada kasat mata disana.

Teman-temannya menertawakan “kebodohan” Naiman lantaran sudi-sudinya menjadi pekerja “republiken” – padahal tidak dibayar sepeserpun. “Orang-orang dapat tanda jasa, kedudukan dan gaji tinggi, nah elu ke kantor aja pakai baju rombeng..” – kali ini ia tersinggung dan menutup gurauan dengan sebuah tinju yang telak diwajah sang nyinyir. Jago silat kita “terpaksa membela harga dirinya..”

Seperti cerita klasik, tekanan ekonomi, tekanan fisik menghalanginya untuk meneruskan kerja di musium. Padahal jarang-jarang seorang lelaki sederhana berani menjawab pertanyaan Presiden Soekarno saat berkunjung ke musium, “kalau saya perampoknya bagaimana?” – dan Naiman tegas menjawab sekalipun kurang ngaruh “cacing saja kalau diinjak melawan Pak!.”

Musium selalu digambarkan sementara orang sebagai tempat yang ganjil. Sebuah buku tertua mengenai Navigasi ditulis dalam Bahasa Itali sebanyak tiga jilid tebal. Judulnya Navigatioi et Viaggi.

Anehnya jilid pertama diterbitkan tahun 1613M, sedangkang adiknya diterbitkan secara aneh yaitu tahun 1556M dan buku paling muda diterbitkan 1500M.

Selain tempat ganjil sejatinya orang-orang sekitar musium memiliki kisah yang kalau kepermukaan kertas, ia bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Sumber Bacaan: Dari buku Cerita Dari Gedung Arca – Wahyono Martowikrido

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s