Posted in gaya hidup, keluarga

Suzana, Changcuter dan Sepatu Hak


Ketika mendengar artis Suzana menghembuskan napas akhir di Magelang, Jawa Tengah pada Oktober 2008 saya hanya terbayang wajahnya yang indo, rambut ikal dikepang dua menampilkan gadis lugu dari desa dalam sebuah filemnya Bernafas Dalam Lumpur.  

Sekalipun bukan pemain lama, namun tahun 1960-an sentimen anti yang berbau Belanda masih kuat sehingga “bau Arab atau Pakistan” menguasai wajah perfileman kita. Akibatnya  pemunculan Suzana yang lain dari yang lain dalam kancah perfileman Indonesia, menyiratkan ia adalah artis luar biasa tahan banting dan ejekan tentunya.

Tahun 1966-an saat masih duduk di bangku SMP di Bioskop Enggal (alm) Tanjung Karang, Lampung saat berangkat sekolah mata kami terbelalak melihat baliho filem berjudul “Bernafas Dalam Lumpur” yang dibintangi Suzana dan Rahmat Kartolo. Padahal waktu itu usia saya belum cukup umur untuk tontonan kategori 17tahun keatas. Namun melihat penonton yang membludak sebisanya kami mengumpulkan uang, bahkan melakukan lobby kepada penjaga tiket agar bisa diijinkan membeli karcis dan menonton filem dewasa yang katanya penuh desahan. 

Begitu merasuknya filem sampai kami bisa hapal scriptnya seperti saat Farok Afero sang germo ingin merasai tubuh hangat perempuan desa “dengan tukang becak kau mau, dengan aku kau menolak..

Lalu layaknya anak-anak SMP penampilan kami sedikit banyak dimiripkan seperti bintang filem. Kadang kami saling mengolok teman yang korban mode “sudah jadi orang Indonesia saja syusah pakai “y”, ini kepingin jadi orang Arab.

Saat itu perkembangan filem belum lama berpindah dari hitam putih ke berwarna yang “diproses secara Technicolor di studio Hongkong” – sehingga ketika ada adegan betis dan paha mulus, kuning Suzana tersingkap dari kain batiknya dalam adegan perkosaan maka badan yang mengalami panas dingin global seperti Ken Arok mendesah melihat kain penutup betis Ken Dedes tersingkap.

Di sekolah, pak dan bu guru, para ahli tafsir, media masa mengecam baliho filem dan dimana-mana saya dengar inflasi kalimat “dekadensi moral generasi muda,” – Hendak dibawa kemana negeri ini ? Indonesia sebentar lagi akan hancur dari permukaan bumi bak Sodom and Gomorah karena “kemerosotan moral anak muda…” –

Bahkan guru Bahasa Indonesia saya bisa menghabiskan waktu pelajaran selama satu jam untuk membahas lagu “Patah Hati” Rahmat Kartolo yang populer saat itu. Mereka cemas generasi muda menjadi cengeng dan ujungnya – akan mudah disubversi dan lagi-lagi “dekadensi moral.”

Saya dan kawan-kawan kebingungan mencerna fatwa para guru saya lalu kami berolok-olok mereka (maaf pak guru) dengan menirukan gaya mereka berjalan dan mengajar. Lalu sambil terbahak terjun mandi disebuah sungai kecil di Tanjung Karang.

Padahal diatas kami bertengger Kapal Uap jaman Belanda yang terlontar dari Selat Sunda masuk ke sungai puluhan kilometer jauhnya, dan ratusan meter tingginya menanjak sampai tersangkut disana.

Tak ada penjelasan sejarah dari guru kami bahwa benda berkarat tersebut adalah “monument Tsunami Karakatau yang tanpa campur tangan pihak terkait akan hancur dan lenyap dari muka bumi di azab kemarahan tangan dewa Karat.”

Beberapa tahun sebelumnya – ketika masih sekolahdi SMP I Talang Semut Lama kawasan ulu maupun ilir di Palembang, saya kerap melihat aparat militer dan kepolisian rajin sekali mengguntingi celana ketat ala “cangcuter” – menggunting rambut lelaki dengan poni didepan , lalu menyita sepatu setinggi mata kaki dengan ujung tajam. Alasannyapun klise, “mencegah dekadensi  moral..” – Padahal nyaris limapuluh tahun kemudian model sepatu yang sama hitam dan kulit sama berkilat menjadi pakaian “pesiar” para lulusan akademi militer kita.

Lalu kemana kata-kata “dekadensi moral karena pakai celana ketat, sepatu bitel (beatles), berponi mirip perempuan (bias gender)” yang didengungkan hampir lima puluh tahun lalu.

Negara memang nyaris hancur – tetapi oleh ulah manusia yang nama, pakaian, penampilan dan gelarnya menyiratkan orang “berakhlak luar biasa lurus,” dengan kelakuan luar biasa “mengkal -mengkol..

Tapi setidaknya filem Suzana menginspirasi hidup saya seakan “bernafas dari lumpur” alias Mudlogging.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Suzana, Changcuter dan Sepatu Hak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s