Posted in gaya hidup

Kok Sekarang Kurang Produktip?


Pertanyaan yang menghentak ini disampaikan saat kami turun jeda dalam sebuah talk show radio. Saya pikir betul juga. Dulu waktu berada di lapangan (minyak dan gas), paling tidak satu hari, ada saja cerita ringan saya tulis.

Namun sejak berada di managerial, ibarat orang naik tangga, saya mulai awang-awangan alias “ser-seran” ternyata saya ini kecil dan diluar sana dunia maha luas.

Kalau sudah begini saya mencari pembenaran atas sikap saya. Seperti pembenaran para orang kaya pengidap pedofilia yang mengatakan ketimbang anak dikirim menjadi TKW, atau buruk lagi di perjual belikan sebagai penjaja apem bantat melayani para hidung belang.

Para politikus atau pejabat kita sebelum naik tahta pandai berteori selangit ke tujuh masih kurang. Namun saat dia memegang jabatan, semua celotehannya sepi. Menyadari bahwa persoalan yang dihadapi tidak sesederhana penampakannya. Demikian dengan saya. Saat dilapangan – saya sering mengomel pergantian crew kacau, training tidak berjalan sesuai dengan janjinya, dan segudang kritikan kepada para manager.

Rupanya saya kena “tulah” karma, semua yang saya kritik sekarang menimpa saya dan saya harus menyelesaikannya sendiri. 

Godaan pertama pegawai yang saya rekrut mulai berceceran, belakangan saya ketahui bahwa mereka menjalankan fungsi ganda. Pertama kepada perusahaan lama mereka tidak pamit mengundurkan diri sehingga gaji jalan terus. Kedua kepada perusahaan saya mereka menggunakan topeng manis-manis menyembunyikan taring vampirnya. Apalagi saya langsung mengirimkan sebagian mereka ke Singapura untuk belajar disana.

Namun, saat tenaganya dibutuhkan – keluarlah ilmu “tangisan Bombay” seperti – ecek-ecek merasa tidak enak hati, merasa pahlawan karena menerjang rambu “gentlemen agreement”.

Kembali ini masalah moral, menukar persahabatan dengan daluwang (uang). Apalagi dunia minyak ini cukup kecil, sekali jalan berbelok, maka cerita akan beredar sampai kemana-mana.

Langsung saya babak belur saya menghubungi Australia, Malaysia, Philipina mohon bantuan SDM. Banyak uluran pertolongan namun adalah mengurus perijinan paling tidak satu sampai dua bulan belum beres-beres juga. Ada Stay Permit ada Travelling Permit.  Mula-mula saya harus mendaftarkan ke nama tenaga asing agar mendapatkan “slot” untuk minta ijin. Lalu mulahlah segepok dokumentasi seperti Passport, Ijazah, Asuransi, Foto diserahkan kepada pihak yang berwewenang. Untung saya dibantu mbak Rina, perempuan Imoet yang cekatan dalam bekerja.

Dari sini saya tahu bahwa pekerja asing ditariki iuran pendidikan sebesar US$ 100/bulan.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s