Posted in gaya hidup

Mbah Jingkrak bertemu Setan Tobat, Wewe Jujur


Warung Masakan Jawa
Warung Masakan Jawa

Lantai semen halaman parkir sepertinya masih belum kering benar. Selembar plastik menutupi permukaannya dan ditindihi oleh sebilah kayu agar tidak terbang terbawa angin. Sebuah karangan bunga nampak masih segar bertengger sekaligus menyiratkan bahwa kedai yang belum 100% berfungsi ini baru saja melaunching “soft opening..”

Dari dalam pramusaji bergegas mengusungkan payung. Maklum hujan belum saja reda mengguyur kawasan jalan Setiabudi Tengah Jakarta.

Sebuah restoran “baru” – berjarak 50meter dari hotel Four Season, nampaknya belum sepenuhnya berfungsi tatkala mata kami menatap patung yang menggambarkan sosok wanita berkacamata tangan kirinya teracung keatas, tangan kirinya menekuk sambil dan menunjuk.

Dari kejauhan mirip busana panakawan, namun kalau didekati menggambarkan seorang nenek berjingkrak macam penderita diabetes yang sedang menjalani diet asupan makanan ketat, mendadak cucunya menyelundupkan sepotong coklat kesukaannya.

Inilah restoran humor dengan judul “mbah Jingkrak” – beralamatkan di Setiabudi Tengah no 11.

Kresna dan Baladewa di atas kecap nusantara
Kresna dan Baladewa di atas kecap nusantara

Begitu “jleg” memasuki ruangan, kita disambut dua wayang kulit tokoh  Batara Kresna dan Batara Baladewa (bukan Ahmad Dhani) saling berhadapan memegang sebuah cupu. Entah dengan alasan apa di kaki kedua wayang ada delapan botol kecap dengan isinya yang menurut sang pemilik adalah koleksi dari 27 Propinsi, tentunya yang mempunyai usaha kecap.

Ruang kasir nampak setumpuk buku bernafaskan agama mayoritas, rupanya buku setebal 250 lembar ini gratis, ditukarkan sehelai kartu nama. Judul bukunya 10 Dimensi Alam Yang Di Lalui Manusia. Yang luar biasa adalah gratisnya. Bukunya sendiri menurut saya biasa saja.

Tidak ada bahasan yang aneh sehingga terkesan catatan khutbah sang penulis yang militer dan lulusan IAIN dan Doktor di UIN (aduh kok beraninya saya bilang seorang Doktor tulisannya biasa-biasa saja. Terlalu nekad yah.)

Sepeda Onthel dan Iklan Minuman Ringan, seperti mempertontonkan "tempoh doele" dengan generasi sekarang (2008)
Sepeda Onthel dan Iklan Minuman Ringan, seperti mempertontonkan masa Jadul tapi sehat dan bebas polusi dengan masa kini serba instan, dan ancaman sakit "pola hidup"

Di ruang tengah saya melihat sepeda onthel, ada berko (lampu) yang digerakkan dengan demamo (dinamo) putar yang aktif jika kepala dinamo menempel ban depan sambil penggenjotnya kembang kempis karena mendadak sepeda bak direm sedikit.

Sepeda “omar bakri” tak lupa dengan perlengkapan ahtentas yang menggantung di batang sepeda dan bel yang mirip kendi atau lonceng yang biasa diinjak pak sais dokar di Yogya “Ning Neng Ning Neng”

Anak-anak sekarang mungkin sudah lupa ujud sepeda kakek moyangnya.

Interior dalam memang dibuat suasana Jawa semua serba kayu.

Sebuah gazebo dengan perangkat gamelan, ada alat petik kecapi, dan tak lupa kolam renang yang disulap bak taman. Lalu sebuah pojok dengan aneka koleksi shampo sabun hotel se dunia.

Kami segera memesan makanan yang “njawani” habis mulai dari sayur singkong, ayam wewe, ayam setan, es kelapa thobat, es kelapa jujur.

Menunggu pelayanan sambil membaca nama masakan yang full humor
Menunggu pelayanan sambil membaca nama masakan yang full humor

Mungkin sang pemilik ingin menghadirkan selera humornya. Bahkan satu seloki beras kencur hangat dihidangkan sebagai minuman pembuka. Sruput eh eh.

Oh ya ada kerupuk “kampung” dengan wadah bertuliskan Melati.

Ketika kami “lupa” menambahkan daftar rekening berupa kerupuk pada makanan yang biasa menemani sepiring gado-gado, sang pemilik bilang – kerupuknya gratis.

Informasi yang saya dapat sebetulnya gara-gara adik baru pulang dari Semarang langsung menilpun kami agar main ke rumahnya. Rupanya ia sudah menyediakan lumpia semarang dan serbat sambil mengajak kami menemaninya makan di Mbah Jingkrang. Rupanya ia salah sebut.

Garis paling bawah. Rata-rata makan dan minuman merogoh kocek anda sekitar 35 ribu rupiah. Suasana Jawa, kendati masakannya dominan agak asin (nah yang ini Jawa sebelah mana?).

Kalau anda dari etnik Jawa, lantas hendak mencari “suasana segar” dengan makan di resto ini, mungkin sedikit meleset. Tetapi kalau hendak membayar suasana, tempat ini lumayan.

Hujan sesekali menitik kepala saya yang memang nyaris “full erosi” – kali ini perut saya mulai berjingkrak-jingkrak kepedesan.

KOLAM RENANG

Dan kalau anda membawa anak-anak dianjurkan bawa handuk dan baju ekstra, maklum namanya anak-anak melihat kolam mini maunya masuk kolam dan berenang. Tinggal kita yang harus mengantisipasinya.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

6 thoughts on “Mbah Jingkrak bertemu Setan Tobat, Wewe Jujur

  1. AJENG TIARA

    Minggu, 16-11-2008 19:06:23 oleh: Ajeng Tiara
    Pakde, yang punya resto mbah Jingkrak itu aku lho… Hehehe… maksudnya namanya Ajeng juga. Resto pertamanya ada di Semarang. Setelah itu dia bikin francise di Solo sama Madiun, baru di Jakarta. Aku udah pernah ke resto yang di Madiun. Rasanya sih biasa aja, sesuai tema, makanan jawa rumahan. Masalahnya lidah udah biasa kena Batang Kapencong yang mak nyusss…

    Like

  2. Heru P menulis

    Waktu “mBah Jingkrak” masih di Bulungan – seberang Gelanggang Remaja, saya termasuk cukup sering ngudap disana. Kalau perut lagi “gila”, pengin santapan “pedassss”, pilihannya cuma 2 di Jakarta : mBah Jingkrak atau Beautika (Menadoneese).
    Memang sih ga sampe jingkrak-jingkrak, paling-paling mules dan diarhea.
    Kudapan di mBah Jingkrak memang cukup serem-serem namanya, antara lain “Lele bumbu gendruwo”, “Ayam Rambut Setan” (ayam extra pedas …….. anak saya pernah makan kudapan ini, sampai rumah tangannya masih kepanasan meski sudah berulang-ulang disabun).

    Beberapa waktu yang lalu, saya mampir kewarung yang sama di Bulungan, ternyata sudah berganti joedoel …. bukan mBah Jikrak Resto lagi tapi jadi Waroeng “Anglo”. Saya tanya kepelayannya, tapi katanya cuma ganti nama saja, pemiliknya tetap sama. Interior waroeng masih tetep semula seperti mBah Jingkrak dulu, namun judul makanannya sudah tidak se-nyentrik dulu lagi, lebih beradab gitu.

    Terakhir kali waktu saya diajak makan seorang kawan ke cabang baru “Waroeng Anglo” di Jl.Senopati, baru saya dapat cerita kalau sebenarnya kedua pemilik Resto mBah Jingkrak (saya lupa kakak-adik atau sahabatan) pecah kongsi. Satunya kemudian buka “Anglo”, satunya tetap dengan tjap “mBah Jingkrak”.

    Saya baru tahu kalau mBah Jingkrak buka lagi di daerah Setibudi.

    Thanks Bro Mimbar atas infonya, suatu saat akan tak samperin juga.

    Saya dengar mBah Jingkrak asli yang di Semarang juga sudah turun pamornya saat ini. Mudah-mudahan tetap survive.

    Salam,
    Heru

    Like

  3. Joko Santoso

    Pak Dhe Mimbar,

    Kalau agak asin mungkin Jawa Selatan seperti Cilacap…cenderung lebih asin.
    Masih inget Ikan Tuna Abon yang agak Asin ga pak dhe?hehehe

    salam
    Joko Santoso/TG’98

    Like

  4. Mbah,,,katanya mau buka diSurabaya ya Mbah?Kapan,kulo rantos rawuhipun.Biar orang Surabaya bisa Jingkrak2 sama rambut setan dan makan bareng RondoKlewung.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s