Posted in gaya hidup

Kupat Tahu Magelang


Kupat Tahu Magelang di Arteri Jatiwarna
Kupat Tahu Magelang di Arteri Jatiwarna

Kawasan Jatiwarna – Pondok Gede mendapatkan tambahan bangunan berupa kedai kupat tahu Magelang.

Dengan warna cat kekuningan, pakai embel-embel cabang dari sebuah gerai Bona Indah membuat saya kepingin mencoba rasanya.  Magelang dan Munthilan  selalu menorehkan kenangan bagi saya yang semasa kecil pernah dititipkan kepada Bude.

Kebetulan masih sekitar jam 10:30 pagi. Terlalu pagi untuk disebut makan siang. Namun saya memberanikan diri memasuki warung yang dulunya pernah berdiri pencucian mobil namun tiarap di jalan akibat persaingan dan rendahnya animo. Warungnya bersih, pelayannya juga berpakaian rapi membuat rasa nyaman untuk mendatanginya.  Berbeda dengan warung sate kambing tak jauh dari sana saya melihat sang penjual hanya bercelana panjang telanjang dada. Mengganggu rasa nyaman.

Ternyata ramuannya mirip dengan masakan Ketoprak yang saya kenal, ada k(et)upat, taoge, taofu (tahu), dengan kuah beraroma kacang tanah. Bedanya adalah tambahan bakwan, kubis dan telur bebek dadar.  Dan tak lupa kerupuk sagu yang warnanya merah muda tetapi pucat. Alias merah tidak putih bukan.

Kupat Tahu MagelangSeporsi masakan ini cukup “nendang” – namun tidak menyiksa perut. Kata orang Betawi “kenyang tapi dingin di perut.” – maksudnya tentu ada kesan berbeda dengan misalnya kenyang di resto Padang yang berani bumbu rempah. Dan masakan ini boleh jadi bisa dibilang Vegetarian Tradisional.

Cuma nasihat saya, usai makan masakan ini mending sikat gigi, kumur listerin, minum kopi, atawa merokok sebelum bersanding dengan kekasih. Pasalnya bau bawang putih yang cukup merasuk jalan darah, jangan-jangan anda dikira keturunan pemburu Vampir atau Werewolf.

Selain kupat tahu disediakan brondong jagung bergula yang mirip “bwipang.” Makanan yang mulai jarang ditemui lantaran kalah dengan produk pabrikan seperti coklat wafer, chiki dan penganan lain.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

5 thoughts on “Kupat Tahu Magelang

  1. Masak iya ? saya makan kupat tahu langsung cium pacar malah dia nanya, apa yang habis dimakan, jawab kupat tahu .. sial malah ngajak bikinin sendiri

    Like

  2. aku orang magelang asli, n aku survey ma temen temen ku diluar jawa yg aku ajak makan kupat tahu, mereka malah suka dengan bau bawanag yg merasuk… he..he..

    Like

  3. mas sukses kelapa gading cibubur bona tegalrotan organon karawaci . nyumon ngapunten kulo pon nate nyoreng nami kupat tahuu magelang ahmat rochim

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s