Posted in aceh

Suhu Tan dan Mie Aceh – Pejompongan dan WikiKuliner


suhu_tan1Saya terlambat setengah jam sebab harus menjemput kekasih saya. Inilah sakit saya yang ke 67, kata penulis Andrea Hirata. Selalu saja ingin mengajak pasangan hidup.  Rasanya kalau bepergian tanpa kehadirannya – hambar sekalipun terkadang bertengkar manakala mencari jalan yang kami berdua masih asing.

Memasuki suasana resto memang terasa suasana Aceh nya.   Nampaknya saya ketinggalan kereta sebab meja makan menyiratkan gelas yang separuh tandas dan piring sayur dan lauk yang tersisa. Kali ini saya pilih Mie Aceh rebus dan tehtarik. Sementara untuk makanan kita bicarakan lain kali sebab memang bertemu dengan teman-teman lama terkadang sering melupakan tujuan wisata kuliner. Tapi mienya kata orang Jawa “miroso” alias lidzat zidaan. Saya mencoba ikan pilis goring, udang dan rasanya memang nyem-nyem.

Saya menimbrung menimbrung pembicaraan antara mas Phil dengan Suhu Tan. Mula-mula mereka berbincang soal komik terjemahan karya OKT.  Sekalipun bahasanya terjemahan kaku namun malahan memikat. Sang penerjemah rupanya ahli melukis kalimat seperti saat bercerita seorang pendeta gundul mencelat, ketua partai Kaypang bergulung-gulung dengan tongkatnya. Semua tokoh, background cerita seperti muncul tervisualisasikan.

Lalu Suhu mengatakan masa sekolahnya kalau matematik selalu diatas ponten sembilan, padahal malam sebelum ujian dia sangat “lek-lekan” alias “dur-duran” – bin bergadang semalaman “baca komik OKT” – Nah kalau urusan hapalan terpaksa pria yang pekerjaannya banyak jalan-jalan menelisik jalur sutra ini harus belajar menghapal secara “ngepol”

Pembicaraanpun semakin gayeng. Kami bergeser membahas ramalan paranormal kuno kita soal “wong Jowo kari separo, wong Cino kari sejodo.” – Suhu menerjemahkan sebagai lunturnya kebiasaan orang Tionghoa menggunakan nama aselinya (SHE). Alasan lain kalau pakai nama aseli seringkali memgalami kesulitan dalam menghadapi pelayanan publik. Akibatnya tinggal nenek dan kakek yang tersisa secara teguh menggunakan nama aslinya. Mungkin ini maksud ramalan tersebut.

Saya sendiri menerjemahkan bahwa kecenderungan untuk lebih suka menggunakan nama yang di tarik dari konon nama aseli “orang suci” dari Eropah, ketimbang aseli dari orang tuanya.

Ingatan saya kembali pada sebuah artikel yang saya baca mengenai survei  Universitas Syarif Hidayatullah terhadap 500 guru dan 200 siswa, sekali lagi ini yang mengatakan responden merasa 67,4% sebagai Muslim dan 30,4% sebagai warga negara kesatuan republik Indonesia.  Mungkin hasil survey ini bisa dikatakan bahwa kita lebih suka menjadi bangsa lain ketimbang bangsa aseli.

Saya membuka pembicaraan bahwa seorang keponakan yang mengikuti acara berkunjung ke Istana Merdeka, mata ketiganya sempat melihat sosok mirip Bung Karno yang sudah tidak muda lagi mengikuti rombongan yang berkunjung ke Istana Merdeka.

Maka pembicaraan berbau “dunia alam”   sanapun bergoyang dengan meriah. Ada yang setengah percaya, ada yang tidak mau percaya, dan ada yang terlalu percaya.

Itulah salah satu hasil cakap-cakap kami sewaktu pada Kamis 4 Desember kami para warga Wikimuliner berkumpul di sebuah rumah makan Aceh di kawasan Pejompongan. 

Nah ini dia wajah Suhu Tan, ahli fengshui yang selalu membedek (menebak) peruntungan orang mirip orang berzikir kehilangan tasbih, alias menggunakan ruas-ruas jarinya.  Pria yang kini kerap mengisi harian Kontan ini selalu saja tidak bosan-bosannya mengatakan belajar meramal Feng Shui itu mudah, ilmukasat mata, tidak pakai mistik, semua serba matematis.  Ah Suhu, pak Tino Sidin alm juga selalu bilang menggambar itu mudah, garis lurus, garis lengkung, lengkung sedikit, jadi kartun.  Pak Arswendo juga bilang menulis itu “keciiil” pokoknya didepan mesin ketik, ceklak-ceklek selesai. Giliran kita yang coba kok lukisannya mengkal mengkol.  

eryawan1Tokoh lain tentunya mas Eryawan yang rajin sekali meng SMS- saya. Pria berkacamata ini sangat populer dikalangan wikimuer sebab hari-harinya diisi dengan kegiatan seperti mengisi acara TalkShow di Radio, menelisik restoran-restoran enak dan murah untuk dijadikan ajang kumpul-kumpul. Biasanya ketika semua teman datang, pria yang tinggal di Bukit Kencana, dengan halaman luas di kawasan Pondok Gede ini  ini malahan menyendiri, mencari inspirasi acara untuk bulan berikutnya.

Sayang Melani sang pemkrakarsa harus pamitan berhubung ada acara lain yang tidak bisa tidak harus dihadirinya. Waktu Mel pergi sambil memberikan saweran, baru saya sadar di pinggang masih mengantungi tustel. Namun saya tidak lupa memberi masukan bahwa kalau menulis online di Wikimu lantas kita preview, maka jangan harap tulisan bisa utuh kembali. Solusi sementara adalah “tulis dulu di Word” – baru di copy paste ke Wikimu. Jalan pintas yang memang dilakukan orang sementara ini.

Hanya, dengan menambah gambar dan melihat penampilan, kadang ide tambahan muncul ketimbang menulis di Word yang bagi sementara orang seperti saya tidak menimbulkan gairah menulis. 

wulan_firsa_phil1Dan paling kiri adalah Novi, anak bawang yang selalu diledek oleh mas Phil (kanan) sebagai “nggak boleh lihat kamera..” – sebetulnya gelar ledekan boleh ditambah satu lagi – nggak boleh ketemu peramal, sebab habis-habisan Suhu Tan ditanya soal peruntungan gadis ini.

Yang saya ingat, perempuan yang tinggal di perumahan Tambang Timah ini malahan memiliki emas di dalam laut dalam. Perlu seseorang membantunya agar bisa diselami dan didaya gunakan. Memang sukar namun itulah Mozaik hidupnya yang harus dirangkai.

Disebelah kanan Firsa Hanita yang diimpor dari Surabaya dan sekarang bermukim di Jakarta. Sementara disisi ujung mas Phil penjaga gawang kuliner. Mas Teguh (tidak nampak) lebih banyak berdiam diri sesekali menimpali pembicaraan.

Jam 21 malam ditengah pergumulan lalu lintas di jalan Pejompongan, kami berpisah di teras Masakan Aceh Meutia. Hujan nampak baru saja melakukan gencatan. Seperti biasa hujan berhenti kemacetan lalu lintas bertambah. Apalagi arteri Pondok Indah dan jalan Fatmawati.

Maka salah satu penumpang setengah gelap menuntun saya kerumahnya dengan cara jalur pintas yang kalau saya disuruh mengulang lagi, paling akan menempelkan koyo cabe di kening lantaran pusing tujuh keliling. Namun dengan demikian terciptalah keakraban dan pulang kerumah dengan rasa bahagia. Dengar-dengar acara bulan Januari adalah Mbah Jingkrak, tetapi litsus ketat akan dilakukan oleh mas Phil tentunya.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s