Posted in menulis

Menulis Untuk Lingkungan Hidup


 Mendadak seorang tokoh senior LSM yang biasa mengurusi kawasan “margin” membisikkan kepada saya untuk mengisi sebuah acara yang diselenggarakan atas prakarsa para RT dan RK wan disini. Anak-anak disini kalau disuruh membuat meja, kursi, bangku langsung bisa. Tapi kalau diminta menulis banyak yang termangu-mangu. Tolong dong isi acara tips menulis dan dihubungkan dengan wawasan lingkungan.

Sekalipun senang menulis terutama di blog atau jenis citizen jurnalisme – atau jurnalistik yang ditulis oleh warga alias tidak punya wartawan, maka permintaan ini lumayan berat. Menyesal juga terkadang sering keterlepasan omong besar mengaku-aku saya bisa menulis. Sekali lagi panitia membisikkan kepada saya bahwa menulis laporan, atau apa saja ternyata masih merupakan hambatan besar bagi kita terutama anak asuhan mereka. Kita memang masih terikat tradisi menyampaikan sesuatu melalui kata-kata – jarang dalam ujut tulisan. Nenek moyang kitapun membuat candi besar tanpa meninggalkan cetak biru atau tulisan. Mengapa saya gemar menulis, bermula dari beberapa bacaan, salah satunya adalah dari Seorang penulis senior dari Australia pernah berkata : menulis adalah memberikan WARISAN hidup kepada generasi kita. Lebih lanjut ia mengatakan setiap orang mengalami jalan hidup yang unik. Satu sama lain berbeda. Cerita kehidupan Badu tidak pernah akan sama dengan cerita Amat.

Kalau kisah hidup seseorang ibarat musik yang indah, sudah ditulis dalam hurup balok, sudah direkam dalam Cakram Disk (CD) kehidupan, tetapi karena tidak pernah dipublikasikan ia seperti lagu yang tidak pernah diputar dalam CD player.  Kisah hidup kita, pengalaman, strategi, kepedihan, bahkan tuntunan kepada generasi berikutnya akan lenyap alias mubadzir begitu saja begitu buku amal kita ditutup alias putus kontrak di jagat ini. Kalau tulisan kita bisa berguna bagi orang lain, kan hidup ini menjadi semakin berarti.

Pertanyaan lain, “Ya kalau yang ditulis itu kisah sukses menjadi Jendral, menjadi, Menteri, Pengusaha Besar. Tetapi kalau sekedar kawula cilik – orang kecil macam kami ini, apa yang perlu ditulis? agar bisa di contoh.

 

Kita tidak perlu harus menjadi Jendral Bintang Lima atau Menteri untuk menulis kisah hidup. Tidak perlu seperti filem action, pahlawan dalam filem selalu menang. Proses perjuangan mengatasi hidup adalah “sudah merupakan kemenangan itu sendiri.” –  Pernah mendengar cerita anak Dewa yang bernama Sicifus. Dia diberi tugas oleh ayahnya dengan membawa batu sebesar kerbau bule Tanah Toraja, yang begitu besar, licin. Masalahnya dia harus membawa batu ini ke puncak gunung. Jelas saja setiap melangkah batu menggelinding sehingga ia harus mengulang pekerjaannya. Sebagai anak dewa – bisa saja ia menggunakan kekuatannya menggelindingkan bahkan melemparkan batu sampai ke puncak. Apa susahnya. Masalahnya sang ayah adalah bukan hasil akhir yang dibutuhkan melainkan “proses berdarah-darahlah yang harus dijalani..“- Kalau anak Dewa saja masih harus berjuang dari bawah, apalagi anak-anak biasa-jelata macam kita-kita ini. Begitulah kira-kira pesannya.

Beberapa tahun lalu saya pernah hidup jatuh sampai ke dasar. Pelbagai usaha untuk mengangkat diri dari keterperosokan bahkan menambah parah keadaan. Satu persatu teman, bahkan saudara yang selama ini bertahun-tahun berlindung di bawah ketiak saya  seperti lenyap. Dan seperti sudah menjadi kebiasaan kita, barang siapa sedang jatuh, terlengserkan, maka saat itulah teman-teman sendiri ikut merencahnya, ikut andil menghujat habis-habisan. Orang bilang kalau sedang susah, datangnya biasanya satu batalion. Satu peleton diatasi, peleton lain menyusul. Bahkan kepada kalau ada kerabat lain yang menanyakan keadaan saya, mereka seperti hendak menganggap saya tidak pernah ada di muka bumi ini. Dan saya harus bersyukur ketika ada seseorang yang tidak saya kenal sebelumnya tergerak membantu kami. 

Proses mengatasi hidup, lalu saya tulis dalam blog, dengan harapan “sharing” alias sambung rasa kepada teman-teman yang mungkin sekali pernah mengalami mengalami keadaan serupa.

Tidak perlu harus “jreng” menjadi orang super kaya, super sukses. Singkatnya sekecil apapun kisah hidup kita, pasti menarik untuk di jelentreh-jlentrehkan – bahasa jawa di bahas panjang lebar dalam bentuk tulisan. 

Tadi kita bicara pentingnya menulis.

Sekarang masuk kepersoalan yang klasik– kepingin menulis tetapi bagaimana memulainya.. Padahal kalau ditelusuri, orang kita amat berbakat menulis. Masih kecil baru bisa pegang pensil dan kapur sudah mulai mencoreti dinding rumah.

Besar sedikit dan bersekolah mencoreti pagar, dinding toko dengan cat pylox.  “Budi “gambar jantung terpanah Ani.” – saya dulu mencoreti dinding dengan arang kayu. Beberapa kali penulis bertemu dengan ibu-ibu guru yang  amat mahir bercerita didepan murid-muridnya. Namun manakala harus mengubah bahasa ucapan, bahasa ngobrol ke bentuk tulisan, ia menjadi tersipu-sipu alias kurang PD.

Padahal pindahkan saja bahasa ngobrol ke bahasa tulisan. Mula-mula akan nampak kaku, namun lama-lama bisa mengkal mengkol juga dengan luwesnya kok. Lalu coba baca keras-keras. Begitu rasanya kuping kurang sreg, segera edit tulisan kita.

Masih merasa kurang waktu, kurang kesempatan?

Berapa banyak waktu anak-anak bermain di Warnet bermain “Ragnarok” ini cerita Jadul – permainan berbasis Internet, berselancar didunia maya. Padahal kalau kesempatan ini di alokasikan – dibagikan sedikit saja waktunya untuk mengetik satu dua kalimat per hari. Wah hasilnya luar biasa.

 

Banyak blog-blog didunia maya yang bisa didapat dengan gratis.

Manfaatkan menjadi buku harian. Buku harian merupakan sarana terbaik untuk mengasah kemampuan menulis kita.

Atau kunjungi blog-blok dan mulai dari memberikan komentar komentar ringan. Biasanya kalau kita rajin membaca tulisan orang, perlahan akan muncul daya kritis, lalu mengevaluasi “tulisan begini kok dimuat” – itu adalah signal dalam diri anda waktunya injak gas untuk mulai menulis.

Tentu tidak sekaligus bisa, menulis kan mirip belajar naik sepeda. Harus jatuh bangun, berbaret-baret (luka kecil), tulang kering bengkak, namun sekali “proses” ini dilewati, semua menjadi nyaman dilakukan.

 

Masih bilang menulis itu susah.

Mbak-mbak kita para pahlawan devisa di Hongkong, tetap menggebu menulis. Padahal adat orang Hongkong yang tua-tua, hidup adalah bekerja, menyulam, atau mengelus perhiasan. Maka tidak heran kalau mereka “sebel banget” melihat orang menghabiskan waktu menulis. Kadang-kadang kalau ketahuan, para mbak pekerja kita di kemplang, plang.

 

“Kepala rasanya mau pecah” – kata seorang mbak. Bukan karena kemplangannya tetapi keinginannya untuk menulis. Lantas diam-diam ia pemisi ke toilet, dengan kertas toilet, dengan kertas belanja, entah apa dari dompetnya mereka menumpahkan apa yang berkecamuk dikepalanya. Saat liburan mereka ke warnet, lalu memindahkan tulisannya menjadi artikel yang runut. Suatu ketika tulisan mbak ini mendapat hadiah cerpen terbaik.

 

JK Rowling penulis Harry Potter bahkan menulis artikel tebalnya dimulai dari kertas tissue.

 

MASA KECIL

Saya pernah menjadi Pengasong Majalah di Kertapati Palembang, pemulung rontokan kopi, lada di tongkang-tongkang kayu, penarik gerobak ibu-ibu/bapak-bapak yang berbelanja di pasar.  Anak saya kalau diceritakan masa kecil ayahnya selalu tidak mau dengar, sedih katanya. Namun yang tidak saya duga putra putri saya kalau melihat penjual majalah, selalu disempatkan membeli koran alasannya “mereka melihat miniatur ayahnya..” – Coba kalau saya tidak pernah bercerita masa kecil saya. Mungkin rasa sosialnya tidak muncul.

MENJADI PENGAMAT LINGKUNGAN

Menulis perlu menjadi pengamat. Mengamati lingkungan amat mudah sebab obyeknya, sasarannya ada dimana-mana. Orang bilang cakrawalanya lebar dan luas.

Bedanya kita terbiasa “toleran” terbiasa memaafkan bilamana sesuatu yang aneh terjadi didepan kita. Akibatnya kepekaan akan masalah sosial, masalah lingkungan seringkali kurang terasah.

 

Menulis apa saja hendaknya dihindarkan dari kesan menggurui.

Orang tidak bijak ketika ia digurui. Saya cenderung bercerita ngalor ngidul, lantas perlahan bergeser memasukkan buah pikiran yang ingin saya sampaikan.

Kata yang menghipnotis

Dalam menulis usahakan menciptakan kata-kata yang menghipnotis. Lihat iklan di TV, HP untuk monyet, kawin dengan monyet sampai goyang cakar elang. Setiap kalimat yang sederhanapun karena dihasilkan dari pemikiran yang dalam menjadi sangat menghipnotis. Contoh – “primbon saya cocok untuk anda. Kamu tidak cocok bekerja di air, lebih baik jadi pedagang..” – Jelas lebih menguntungkan jadi pengusaha ketimbang jadi tukang serok kolam. Tetapi cara aktor membawakannya luar biasa.

Pernah saksikan bagaimana Dedi Cobuzier atau Rafael berkata didepan publik? Kata-kata mereka sanggup membawa pendengarnya berilusi.

Bahasa “verbal” – bahasa ngomong Dedi Cobuzier dan Rafael bisa diterapkan dalam bahasa menulis menjadi kalimat yang mampu mempengaruhi pembacanya. Kita bisa belajar dari bahasa iklan mengapa bisa menjadi kalimat yang memukau dan nyantel dalam ingatan kita. 

Untuk uji coba, pernahkan anda membeli atau memiliki sesuatu barang, lalu saat teman anda bertanya darimana barang tersebut, mendadak dia kepingin memiliki barang yang sama, hanya gara-gara ucapan anda. Maka itu berarti anda sudah mampu mempengaruhi orang lain. Anda sudah memiliki kemampuan “sales- atau dagang” – sekaligus kemampuan menghipnotis orang lain.

—-

Buku anak-anak SD kelas 3 mengatakan Lingkungan yang baik adalah bersih dari pencemaran, sampah tidak tercecer dimana-mana, air bersih, udara bersih, tanah bersih. Tentu tidak sama ukuran bersih anak yang tinggal di Pondok Indah dengan kita disini. Dari sini kita bisa mengadu-mengkonfrontasikan – masalah lingkungan bersih cara kita dan bersih ala orang atas.

Misalnya saja orang-orang dari Australia, Amerika manakala datang ke Indonesia banyak mengalami sakit perut. Sementara kita aman-aman saja. Pasalnya mereka terbiasa hidup serba higines sehingga sedikit perubahan kebersihan dinegeri kita sudah menimbulkan masalah dalam perut seperti diare. Sementara kita akan sakit perut di luar negeri, manakala membayar harga makan yang mahal sekalipun di pinggir jalan. 

Saya ingin berbagi cerita lagi. Di Australia sebuah lahan ingin didirikan menara pengeboran atau Rig. Setelah tanah dikapling, ganti rugi diberikan. Jumlah kompensasi yang diberikan kepada pemilik tanah setempat diberi bingkai dan dipasang dikantor tempat kami bekerja. Semua serba transparan. Tidak perlu ada demo “pesangon kami disunat lebih dari satu kali…”

Sebelum tanah dibongkar, lantas lapisan atasnya di kuliti. Seorang ahli berstetoskop  berdiri ditengah lapangan “rumput”  – sambil memegang sekop. Sekop dipukulkan ke tanah, lalu ia tiarap dan stetoskop diletakkan ditanah seperti dokter memeriksa denyut nadi pasien.

Apa yang dikerjakan dokter hewan ini tak lain adalah mencoba mencari suara “blurp” ketika seekor mahluk lemah, kadang menjijikkan bagi setiap orang, yaitu cacing tanah, begitu dijaga kehidupannya. Bilamana kedapatan cacing tanah dilokasi tersebut, ada kemungkinan lokasi pengeboran dipindahkan.

Untunglah lampu hijau dinyalakan, cacing tanah sudah lama pindah dari lokasi tersebut, dan ketika tanah dikuliti lapis perlapis kami memang tidak melihat banyak “terowongan”: mini sarang sang cacing – yang memang ukurannya cukup besar alias Megascollides.

Lho kok berbicara soal cacing?

Cacing, membuat lubang ditanah, meninggalkan terowongan-terowongan kecil,  sudah cukup untuk menjadikan biopori alamiah. Menghancurkan sampah dijadikan pupuk organik.

Namun kita memiliki kebiasaan memfloor (menyemen) halaman rumah dengan ubin dan semen yang bukan ramah cacing. Akibatnya perlahan kawasan tinggal kita menjadi panas dan gersang.

KATAK PREDATOR MENJADI ALIEN

Di Australia ada beberapa contoh misalnya Departemen Pertanian puluhan tahun lalu mengalami gangguan panen tebu lantaran dikerat oleh kumbang tebu. Lalu mereka memasukkan sejenis katak dari Amerika Selatan. Hasilnya populasi kumbang tetap utuh sebab kumbang juga cerdik, dia bersarang di ujung trebu yang tinggi sehingga tidak bisa digapai katak. Sementara katak sendiri melihat banyak makanan lain yang tidak perlu bersusah payah dilompati maka populasi katak malahan bertambah. Lama-lama katak ini menyerbu pertanian, merusak apa yang bisa dimakan dan celakanya kulitnya beracun.

IKAN LOHAN

Sekali waktu saya membaca berita di harian Australia bahwa kalau melihat ikan terapung di sungai, jangan diambil atau dikonsumsi sebab ikan ini hasil peracunan dan pemboman.  Coba to ya, seharian sungai di kocori racun, lalu diledakkan bom yang mampu membuat ikan kelenger. Ini gara-gara mereka menemukan ikan Lohan sudah indukan dalam sungai mereka. Mengingat ikan ini “preman” – agresif, teritorial, maka tak heran orang takut anak cucunya kelak cuma melihat ikan Lohan sementara ikan eksotis aseli lainnya sudah punah terdesak ikan asing.

Dengan sedikit pengamatan maka bahan tulisan sudah jadi dan siap tulis.

RANGKUMAN

Menulis tidak memerlukan teori macam-macam. Ambil kertas. Tulis. Kalau macet, diamkan, pergi berjalan-jalan biarkan buah pikiran diperas. Kembali lagi ke kertas kecil. Biasanya ide mulai muncul baru.

Tidak ada penulis didunia ini yang tidak gagal menulis. Mereka tetap harus berulangkali membongkar pasang tulisannya.

Apapun namanya sebuah pekerjaan, tetap membutuhkan ketekunan, keuletan. 

Menulis pada dasarnya adalah memberi hadiah kepada diri sendiri. Hadiah, biasanya merupakan kejutan. Saat menyelesaikan sebuah tulisan seringkali penulis terkejut akan hasil tulisannya. Lho kok ada gagasan baru yang selama ini belum kepikiran. Tapi aselinya kata-kata ini saya ambil dari novel Jenar Ayu.

Selamat menulis, selamat mencoba..Selamat menulis prasasti untuk anak cucu dan keluarga kita. Badan boleh hancur dimakan cacing tanah, namun tulisan yang kita tinggalkan akan tetap utuh, seperti Jejak Kaki King Size raja Tarumanagara yang ditinggalkan untuk kita di sungai Ciaruteun – Bogor.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Menulis Untuk Lingkungan Hidup

  1. he..he..he…kayaknya jauh dari rig membuat pak dhe semakin rajin menulis. Ntu die masale aye pak dhe…anak aye lebih doyan maen gem daripade nulis sepate dua pate kate…gimane ye resepnye?

    JAWAB: Lha sama saja, kedua anak saya belum nampak mau menulis. Resepnya ya kita menulis terus siapa tahu nanti kerembesan juga. Mimbar

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s