Posted in listrik

Dikira Mencuri Listrik


Mak Lasih sang pembantu paruh waktu pagi-pagi sudah melaporkan bahwa ketika kami bepergian, rumah “diperiksa listriknya oleh PLN” – ini maksudnya di “random” -pilih acak- sebagai salah satu bangunan yang dicurigai sebagai salah satu pencuri listrik.

Saya briefing sedikit mengenai posisi rumah saya di jalan Pendidikan, Pondok Gede. Saya berada “seakan” sudah diujung kabel listrik lantaran tiang listrik semen ke enam dari jalan Kodau tiang terakhir untuk saat ini.

Seperti kebiasaan warga, mereka menggantol listrik untuk memasang penerangan jalan setapak. Seperti kebiasaan pula karena tiang listrik menempel tiang rumah dan pemiliknya adalah “tiyang Jawa” seperti saya, maka saya diminta kerelaan mengurus penerangan bergaya swadaya.

Dan yang tidak tertulis, saya harus menyediakan dana beli beberapa lampu Neon, rumah lampu, starter, puluhan meter kabel listrik, skakelar dan “uang lelah” – petugas yang memasang peralatan tersebut.

Semula urusan perlampuan berjalan damai-damai saja, artinya belum ada masalah yang timbul. Kalau sore lampu dinyalakan, menjelang subuh dimatikan. Warga juga ikut berpartisipasi menghidup matikan lampu sesuai jadwal. Tapi lantaran makanan kita umumnya soto ayam, sate ayam dan goreng ayam. Muncul pula kebiasaan hangat “cirik” ayam. Cepat lupa.

Apalagi seperti gigi dan lidah, maka mendadak sebuah keluarga – mulai keberatan akan kehadiran penerangan tersebut.

Diam-diam manakala kami tidak dirumah, lampu tersebut dimatikan.  Atau malahan dibiarkan menyala seperti toko Seven Eleven. Lalu masih kurang puas – saklar yang semula menempel erat seperti katak pohon di batang jengkol mulai diganggu sampai rusak.

Persoalannya kita bermain dengan tegangan tinggi. Salah-salah ada nyawa melayang disengat barang tak nampak mata ini ketimbang gangguan laron “jumbo” yang memang merupakan pemandangan hari-hari mengelilingi lampu saat usai hujan sore-sore kilat sambar pohon (mirip) kenari.

Dengan “restu” pihak PLN juga, kabel yang menjulur lepas di “sampirkan” mirip handuk basah lewat pagar masuk  kedalam rumah saya sehingga praktis terlindung, namun kesannya saya seperti “nge-hak-i” memonopoli sarana publik.

Yang tidak diduga – pihak ada PLN yang masuk golongan “non merestui” malahan jadi curiga saya mencuri listrik untuk keperluan rumah.

Ada dua mobil PLN,” kata mak Lasih.  Seorang petugas lalu naik ke atas dan menemukan kecurigaan ada dua toren jingga bercap dolphin dengan dua pompa.

Begitu sakelar lampu jalan dinyalakan, mereka tidak mendengar suara pompa air berbunyi.  Lalu mak Lasih diinterogasi halus, ditanyakan  dimana colokan listrik pompa air mengapa tidak “nyala” – saat sakelar lampu penerangan jalan dihidupkan. Lalu “audit” masuk ke area mengapa ada beberapa mesin pendingin  tetapi piringan meteran berputar lelet. 

Pertanyaan bernada menuduh dan main tembak membabi buta.

Beruntung mak Lasih masih mampu menjawab bahwa pompa tersebut disambung dengan otomatis. Baru hidup kalau permukaan air dalam toren menurun.  Piring meteran baru ngebut kalau AC dinyalakan. Lalu saya ingat beberapa kerabat, keluarga memang dirumahnya mengakali peralatan listrik. Di dunia nyata orang-orang itu menjadi orang sukses. Bahkan diantaranya ada yang sedang kampanye Caleg.  Kita bicara orang yang mengeluarkan dana ratusan juta rupiah untuk membuat kaos dan atribut partai lho.

Lalu kami diberi sertifikat. Saat mak Lasih harus tanda tangan, petugas minta bukti KTP aseli mak Lasih yang jelas ia harus berlari meninggalkan rumah berjarak puluhan meter disana. Mujurnya ia cukup cerdas sehingga buru-buru menilpun teman lainnya untuk menemani sang “petugas ” saat rumah kami ditinggalkan.  Sebelum meninggalkan mak Lasih dan rekannya mereka melihat foto pernikahan Lia putri “ndut” saya pada Desember 2007. Foto lain adalah saya bersama Raja Jawa (Solo) almarhum. Inipun akal-akalan saya dalam satu jamuan makan malam saya ajak beliau yang saat itu pakai sutera ungu berfoto denganku. Tidak mudah karena banyak yang ingin berbuat serupa.

petugas sempat tertegun “Angkatan ya..” – maksudnya jelas ini Komplek AU, dia kuatir saya salah satu dari Angkatan, dan urusan bisa runyam. Jelas petugas juga katarak seragam, lha disitu saya cuma bersenjatakan keris kodian dan memakai helm “blangkon.” lantas bau militernya dimana?.

Sekarang rumah saya sudah disertifikat bahwa Semua alat listrik, meteran, tidak mengalami perubahan. Tetapi bukan jaminan beberapa bulan kemudian akan diadakan razzia kembali.  

Kalau saja mulut kami ember, kami bisa menunjuk sebuah rumah yang disambung secara rahasia “ke mesin cuci” – bahkan ada rumah yang nyaris tanpa meteran. Herannya petugas seperti katarak cuma berlalu begitu saja.

Atau ada semacam perjanjian tak tertulis. Manakala satu pihak memberikan “restu” maka pada saat yang lain laporan diteruskan untuk ditindak lanjuti apakah wewenang tidak disalah gunakan.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s