Posted in kumuh

Benteng Alamo ala Bukit Duri dan Kampung Pulo


cm_20dec2008_psr-rakyatPadahal saya sempat berkeringat malam ketika mencari lokasi ini.

Bermula dari sebuah pesan singkat bahwa Warga Bukit Duri dan Kampung Pulo mengundang saya menjadi pembicara dalam acara diskusi Pasar Rakyat sekaligus Gerakan Lingkungan Hidup. 

Karena tidak tahu posisi Bukit Duri, saya putuskan naik Taksi dari Pondok Gede.

Pertama saya masuk pool Taxi Express di jalan JatiKramat. Sayang tidak ada taxi yang menganggur padahal ada beberapa orang yang berinisiatif memanggilkan taksi untukku. 

Lalu saya panggil Taxi melalui tilpun lagi-lagi operator diujung sana menjelaskan bahwa semua taxi fully booked. Saat menilpun, sebuah taksi warna biru melintas. 

Beberapa detik diperlukan untuk menghidupkan argo “Tarif Bawah” – lalu disertai kepakan dari ban belakang yang berfungsi seperti sayap karena ogleknya taxi mulai meluncur.  Lalu pendingin udara mulai diaktipkan. Saya hanya mencium bau sangit angin dan debu yang berhembus dari kompresor pertanda AC perlu diservis.

Beruntung udara luar mendung sehingga pendingin AC “sepertinya” berfungsi menghembuskan udara dingin.

Menuju jalan Casablanka – taxi malahan memutari komplek mall Pondok Indah yang membuat kendaraan seperti Keong.  Sayangnya pak supir termasuk mahzab nyasar dulu baru bertanya padahal sekali kesasar bisa rusak rencana sebelanga. Masalahnya kami harus berbalik arah jauuh dan macet.

Akhirnya saya putuskan turun dan berjalan kaki mencari Sanggar Ciliwung Merdeka. “paling dua ratus meter,” kata penjual martabak. Namun ketika kaki makin melangkah masuk ujung-ujungnya belum nampak aktivitas semacam pasar rakyat apalagi ujut sanggar maka saya beranikan diri untuk menanyakan sekali lagi Sanggar Ciliwung, kepda seseorang dipinggir jalan.

Jauh pak!, nanti saya carikan Ojek ya…” – kata lelaki bertato ini. Dia malahan meneruskan informasi “belum lama ini ada orang Jerman mau mengontrol Sanggar Ciliwung“.

Hebat, saya dikira utusan negara Donatur bantuan LSM. Ojek kami dapat dan disela perjalanan, kang Ojek bilang, kalau mau bantu – bantu juga teaternya Ibu Ratna Sarumpaet. Lagi-lagi saya dikira Donatur Kaya….

Terbayang tidak sih, ada beberapa kata negatif mengikuti Bukit Duri, pertama kawasan bromocorah, penjara Bukit Duri, lalu jalan Potong Ayam lantaran warga bantaran profesinya menjadi jagal ayam. Dan terakhir dituding penyebab banjir.  Sampai di tujuan Layar tancep baru saja akan mulai.

Sempat berbincang sebentar dengan pengurusnya sebelum terputus kedatangan wartawan TvOne untuk melakukan wawancara dengan pengurus.  Perlahan saya berdiri lalu pergi sambil membidikkan tustel kearah penonton yang sebagian besar anak-anak.

ciliwung_20dec08_filem-anak-jalananDisela-sela pemutaran “layar tancep” dokumenter yang dibuat oleh komunitas anak pinggiran Ciliwung Meredeka, seorang bocah kecil usia sekitar empat tahun beringsut mendekati teman saya.

Lalu terjadi dialog yang intinya “Dian” begitu saja nama bocah perempuan berbaju putih ini menanyakan “nomor Hape.”

Merasa sekedar bocah iseng, nomor Hape diberikan dan diejakan satu persatu lalu kami minta untuk diulang.

Kali ini kami tersengat sebab detik itu juga Dian mampu mengulang nomor panjang yang baru diberikannya.

Setelah mempertontonkan kemampuannya “malaikat kecil” ini berdiri dari duduk bersilanya lantas berjingkat dan keluar barisan berkumpul dengan temannya di luar sana.  Saya tercekat, dan fatal akibatnya – lupa memotret wajahnya.  Ternyata Dian adalah salah satu dari mutiara-mutiara bantaran kali Ciliwung yang kebetulan bisa kita lihat.

Di depan sana pemutran layar tancem berlangsung meriah, karena diselenggarakan disebuah tikungan dekat jembatan Tong Tek  dekat bekas Penjara Bukit Duri dimana SK Trimurti pernah mendakem disana, maka penonton harus saling berbagi dengan bajaj, motor bahkan mobil sekalipun yang akan lewat. 

Tidak ada yang terganggu, semua berjalan dengan normal. Kalau pak RT, pak RW atau siapa saja tokoh dalam filem buatan anak-anak Ciliwung ini muncul di layar, mereka tertawa ngikik, saling tunjuk.

Biarlah kami diberi label anak pinggiran yang selalu dikaitkan dengan kriminal dan sampah, inilah rumah kami 3 x1,5m yang diluaran sana adalah liang lahat orang kaya, kami disini liang hidup lima nyawa.” – maklum saat itu mereka sedang mewawancarai seorang ibu yang pekerjaannya bergantung dari “buruh” cuci pakaian.

Nampak ia mencuci pakaian diatas getek bambu. Soal sampah yang selalu dianggap kesalahan warga pinggiran, dia hanya pasrah bilang “namanya warga ada yang mau dibilangin jangan buang sampah ke kali, ada juga yang bandel.”

Siapa nyana bahwa komunitas yang mulai resah lantaran menerima Rencana Eksekusi Penggusuran Rumah Tinggal mereka ini dalam ujut Juklak “Executive Summary Kawasan DAS Ciliwung Kampung Melayu, DAS Ciliwung-Kalibata-Cawang, DAS Ciliwung Pangadegan. Bantuan teknis penyusunan RTBL 2008 jelas mengindikasikan bahwa penataan yang dilakukan berdampak besar pada pemukiman Kampung Pulo dan Bukit Duri.

Akankah swadaya masyarakat selama ini seperti Program Pengolahan Sampah (PPS) yang mampu mengolah rata-rata 500kg sampah perharinya, Program Air Bersih, Program Penambahan Gizi, Program Rumah Sehat, Program Pendidikan Lingkungan Hidup akan mubadzir begitu saja, padahal selama ini sudah berjalan lancar.

Itulah serangkaian acara Pasar Rakyat Ciliwung Merdeka para kawula Bukit Duri dan Kampung Pulo. Disela pemutaran filem, para tokoh dalam dokumenter angkat bicara mengenai suka duka membuat filem. Lalu  mas cm_20dec2008_wiranegaraWiranegara dari Fakultas Filem dan Televisi IKJ (Institut Kesenian Jakarta), mengulas pembuatan dokumenter dari sisi “anak sekolahan” – namun pada dasarnya, filem dokumenter harus dibuat tanpa ragu-ragu, manakala perlu ditembak (shoot), tembak saja objek.  Wiranegara pernah mendapatkan penghargaan filem dokumenter terbaik saat ia membuat filem mengenai dalang perempuan, yang teraniaya saat terjadi gonjang ganjing politik karena ayah dan ibunya dibantai.

Saya hanya menambahkan bahwa filem yang kalian buat ini akanmenginspirasi banyak orang beberapa puluh tahun kemudian.

Saya masih ingat saat kecil menonton filem dokumenter, itu lima puluh tahun lalu. Lalu saya “curhat” bahwa saya sendiri besar sebagai anak pinggiran kali (Musi Palembang), pernah menjadi pengasong majalah, koran, memulung kopi, lada yang berceceran dari tongkang yang bersandar di sungai musi, menjadi pembawa barang belanjaan orang dipasar dengan mengharap upah sekedar jajan. Dan modal tempaan kerja ini saya pikir bermanfaat menjadikan seseorang kalau boleh dibilang “ulet, tahan uji” secara alami dan bisa naik kejenjang lebih tinggi manakala ada kesempatan.

Saat beberapa dokumenter diputar lantaran ada seorang ibu protes “jangan bicara terus, filemnya diputar dong!,” maka saya menyusup melihat pasar rakyat yang dibentuk secara “knock down” – tiba-tiba diantara sebuah rumah yang menumpang pagar “Depo Kereta Api Tebet” – muncul wajah dari pintu yang dibelah dua, mirip salon filem koboi. Kami bersalaman dengan ibunda ini. Anaknya “Dwi”, 20,  ternyata menjadi finalis dalam acara menyanyi Menggapai Bintang. Sebuah bukti banyak mutiara bertaburan di kawasan Ciliwung ini. Melewati sebuah rumah dengan silinder minyak didepannya, seorang nenek nampak memanggil “guide” – saya. Melihat tangannya ditutupkan di samping mulutnya, ia pasti membisikkan sesuatu.

Betul saja, “guide” mengeluarkan koceknya memberikan lembaran dua puluh ribuan. Padahal nenek ini sudah mendapat jatah sebulan 75ribu untuk uang sekolah cucu-nya. Namun ia memilih ambil langsung dua puluh ribu dari sumbernya. Rupanya kendati mendekati pikun, bawaan masa muda belum hilang semuanya.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Benteng Alamo ala Bukit Duri dan Kampung Pulo

  1. Sewa Layar Tancap
    Mawar Film (Layar Tancap), Sewa Film Layar Tancap Untuk Hiburan Rakyat,Pernikahan,Hajatan,Khitan, Shooting Film Dan Sebagainya. Pemutaran Film Biasanya Di Putar Mulai Jam 7.40 Malam Sampai Jam 3.30 Shubuh, Jenis Film Tergantung Pesanan Bisa Pilih Sesuai Dengan Keinginan pemesan mulai film lama hingga film terbaru dari bioskop.
    Untuk Informasi Lebih Lanjut Bisa Hubungi Di No 02192686891 ( Bapak Janim ) Atau 08567578319 ( Heru )

    Terima Kasih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s