Posted in pertanian, petani

Dilarang membawa Mangga Arumanis keluar Indonesia


Mangga Gagal dibawa ke Singapura
Mangga Gagal dibawa ke Singapura

Sewaktu saya di Australia. Ada peraturan pemerintah setempat bahwa membawa hasil produksi peternakan maupun pertanian dari negeri lain masuk Australia adalah perbuatan yang sangat diharamkan. Alasannya jenis virus, binatang mungkin tersembunyi dalam buah-buahan dan menyebar di Australia.

Namun sebaliknya membawa produksi mereka ke negara manapun, sangat diharapkan. Namanya saja komoditas agribisnis.

Sekarang lihat di Jakarta. Minggu 28/12/08 saya mengantarkan anakku Lia dan suaminya Seno yang barusan berlibur kembali ke Singapura.  Selama hampir dua pekan berada di tanah air,  selama itu pula keponakan silih berganti menginap dirumah. Kebetulan hari-hari anak sekolah kendur dari siksaan PR, Les, olah raga, dan eskul yang lain.

Begitu mendengar kabar Lia akan pulang, tantenya yang di Kelapa Gading langsung minta waktu untuk menraktir masakan laut di Sedap Malam  Kelapa Gading, yang kondang dengan masakah Kepiting Saus Padang yang hot, spicy tetapi nyam-nyam. Entoh masih belum puas, Lia dibawakan 10kilogram mangga Arumanis sebuah varietas unggulan Indonesia.

Biasanya mangga inipun dibagikan kepada teman-teman di kantornya di Sigapura. Terbayang wajah riang teman di kantor Lia di Singapura sana yang pengetahuan umumnya rada menghawatirkan, seperti sebagian besar menganggap bahwa Hari Raya Idhul Fitri bukan hari raya Muslim, melainkan hari raya orang Melayu

arumansi_dibuka

TEBAL MANIS TAK BERSERAT

Tebal, tak berserat, manis kadang ada aroma nanas diujung lidah
Tebal, tak berserat, manis kadang ada aroma nanas diujung lidah

Betapa tidak membanggakan buah mangga Arumanis memiliki kulit yang tipis sehingga mudah disayat, daging yang tebal tak berserat sehingga tidak usah cari cungkil gigi atau dental floss usai mengonsumsinya. Soal rasa,  daging mulus kuning ini selain juicy, manis terkadang ada aroma nanas di lidah. Kadang penampilannya nampak masih “mengkel” hijau berbintik hitam sedikit, namun ternyata sudah siap unduh.

Belum lagi penganan lain seperti kue, masakan basah sehingga Lia kadang ngedumel bercanda “kesannya kami kekurangan makan di Singapur ya..” – Kejadian ini memang bermula saat Lia pertama-kali belajar hidup mandiri menjadi anak kos di Singapur. Makan bolak-balik  “mie instan” yang mudah diolah dan murah. Hampir sepuluh tahun berlalu, kesan tersebut membekas  dibenak kerabatnya dan belum juga tanggal.

Pendek kata kalau saja dia punya lapak, Lia bisa jualan penganan dan buah-buahan di Singapura.

Di samping mencium wangi mangga – saya juga mencium problem yang bakal muncul di Airport kelak. Tapi tidak ada salahnya kalau dicoba, apalagi Singapura bukan negeri yang ketat akan peraturan ala Australia.

Begitu memasuki alat scanner, petugas sekurity langsung menolak mangga tersebut, sesuai dengan Juklak dan Juktek yang diterima. Ketika anak saya memilih membatalkan untuk membawa mangga tersebut, yang tidak disangka, petugas menawarkan “tapi bisa kami bantu mbak!” – katanya penuh arti.

Lantaran lama di Singapura, Lia sedikit kaku soal toleransinya terhadap falsafah hidup sebagian petugas, pamong kita yaitu TST  “Tahu Sama Tahu” – ia tidak mengindahkan tawaran manis petugas pintu masuk sekalipun sang petugas sudah semanis mangga ranum arumanis “bener mbak tidak mau dibantu…

Mangga akhirnya “balik ke bandar” –  saya gotong pulang. Bayangkan 15kilogram barang membawanya harus digotong.

Padahal mangga Arumanis (143) dari keluarga anarcadeaceae ini merupakan tanaman Probolinggo yang digadang-gadang Mentri Pertanian sebagai andalah ekspor kita. Cuma sedikit “gelo” alias gusar lantas bagaimana kita akan maju, produksi mangga kita disukai di luar sana sama dengan respek orang luar terhadap Bika Ambon yang dari Medan. Tetapi perlakuan kita terhadap produksi sendiri masih berat sebelah. Lebih mementingkan kocek sendiri daripada skala berfikir yang nasional.

Apa ya yang mau diekspor cuma berita “sepak bola berakhir RICUH”, demo damai berakhir “RICUH”,  pertunjukan kesenian berakhir RICUH, rapat DPR berakhir RICUH lalu bermimpi investor akan datang menanamkan modal kemari?

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “Dilarang membawa Mangga Arumanis keluar Indonesia

  1. tajam sekali penciuman pak de ini, sampe topik mangga bisa ngeluyur ke ranah politik..

    hebat sekali, kagum saya dengan tulisan ndoro
    “plok plok plok plok plok…”

    sukur alhamdulilah, klo pak de sempet jalan2.. memang daerah tapal kuda jatim (porong-gempol-pasuruan-bangil-probolinggo) terkenal dgn mangga arum manisnya. ibu bapak saya besar d sana, jadi kami anak2ny ini sudah mati rasa ma panganan yang satu itu

    hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s