Posted in soto kuning

Soto Kuning-nya pak Mamat di kawasan Bogor


Lokasi di jalan Suryakencana Bogor - Surga Makanan disini
Lokasi di jalan Suryakencana Bogor - Surga Makanan disini

Kebetulan sedang berada di kota hujan (termasuk hujan angkot), Bogor, saya dibisiki bahwa para ibu arisan, BKOW, ibu senam, ibu Bhayangkari – manakala berada di Bogor, bukan hanya membeli talas, mereka juga mengunjungi kedai Soto Bogor nya Pak Mamat yang mangkal di jalan Suryakencana 33. 

Saya mencoba mencari “tetenger” – alias landmark yang mudah dicari apabila kelak harus kembali kemari.

Nampaknya sulit kecuali sebuah pelang yang “tidak nyambung” namun paling lokasinya dekat sana. Suasana jalan Suryakencana, saat foto saya ambil memang hiruk pikuk bukan buatan, maklum jam makan siang.  Mungkin lain kesempatan saya bisa menjelaskan posisinya secara detail.

Langsung saja kami masuk ke lokasi toko nomor “33” – dan memesan “SOTO KUNING” sebab makanan inilah ciri khas pak Mamat yang kondang dimana-mana.

Soto Kuning van Bogor di Suryakencana
Soto Kuning van Bogor di Suryakencana

Penggemar Soto Jakarta mungkin tidak kaget dengan rasa soto berkuah santan, ditaburi bawang goreng, lalu potongan jerohan sapi, kikil bertaburan di mangkuk. Mau afdol peras jeruk limau. Kalau saya setelah diperas jeruknya sekalian dimasukkan kedalam mangkuk.   Ada aroma jeruk, bawang goreng, wangi santan dan tak lupa sedikit getir dari kulit jerus.

Tidak terasa satu porsi sudah ludes.

Tetapi entah mengapa lidah tua saya kadang sudah mulai “membelot” memberontak kepada saya. Saat mengirup kuah Soto Kuning,  rasa asin terlalu menonjol. Jadi ada baiknya kepada anda yang baru coba-coba, dan tak suka rasa asin , segera beri instruksi agas paka Mamat (bertopi haji) tidak mengumbar garam kedalam mangkuk anda.

Mungkin itulah sebabnya saya harus memesan es Cincau “hijau” Bogor yang juga sudah kesohor kekenyalannya. Kebetulan disisi pak Mamat sudah tersedia penjual Cincau dengan gula tak berwarna. Mengiklankan obat “Panas Dalam.” Ini hebat, seandainya bang Cincau membubuhkan warna pada gulanya, mungkin saja saya mengurungkan niat Nampaknya sang penjual membaca pikiran saya, ia sekali lagi memperlihatkan isi perut angkringnya, gerusan es batu, santan putih dan cairan gua bening. Saya lihat banyak pula pengunjung membeli es cincaunya untuk dibawa ke rumah masing-masing.  Lengkap sudah Taoge Goreng ditangan kiriku, Soto Kuning di tangan kananku, Es Cincau didepan mataku.

Kalaupun boleh saya “curiga” sedikit,mengapa masa kecil dulu kalau membuat cincau yang saya dapat hanya cairan kental hijau macam umbelnya SHREK, sementara di Bogor mereka bisa menghasilkan agar sekental Konjaku si agar Jepang.

Mudah-mudahan semua proses dijalankan secara alamiah dan tidak ada campuran kimia berbahaya. 

Taoge di tangan kiriku, Cincau di tangan kananku
Taoge di tangan kiriku, Cincau di tangan kananku

Segelas Cincau, Semangkuk Soto rasanya perut sudah nendang.

Tapi nasi putih pak Mamat saat diolah dalam perut malahan memancarkan signal “pulen” diujung lidah.  Terasa nikmat justru saat satu piring tandas.

Lagi-lagi saya dibisiki bahwa di gerai yang sama “taoge goreng bogornya” juga tidak kalah dahsyat.

Sekalipun menyadari bahaya laten makan campur aduk lantaran bakal sulit membedakan rasa masakan, saya nekad juga memesan Taoge Goreng dengan rasa taoco bogor yang menonjol. 

Hanya saya harus menyisakan dua keping ketupat lantaran perut memang sudah overload. Klop dengan Asinan Bogor maka Taoge Goreng Surya Kencana ini juga makanan tradisional yang tidak boleh dilewatkan. Sayang tak seorangpun berhasil saya ajak omong-omong sebab tidak tega mengganggui mereka diantara kesibukan yang luar biasa melayani pembeli.

Kalaupun ada gangguan “wajar” adalah berkecamuknya para pengamen. 

Saya catat ada tiga kali saya harus merogoh kantung lantaran kedatangan “Satria Pengamen Bergitar” – sementara di Jakarta umumnya ada jeda sampai setengah jam sebelum pengamen lain masuk atau pengunjung berganti.

Untungnya suara mereka memang kategori masuk festival “Karaoke.” – Lagian kalau pemimpin kita yang harusnya mengikuti “rule of the law” saja banyak yang tergelincir, mengapa rakyat kecilnya harus patuh.

Kembali ke Jakarta tentunya anak-anakku Lia, Seno (dan Satrio sang pelawak) membawa kenangan manis berkuliner di Bogor. Mereka tahu di Singapura sana bakalan tidak ketemu masakan macam di jalan Suryakencana. Sebuah kenangan “asin” tahun 2008, maksudnya masakan sotonya agak asin.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

2 thoughts on “Soto Kuning-nya pak Mamat di kawasan Bogor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s