Posted in pemilu

Jangan Main-main dengan Anak Kecilmu


 

Menjelang pemilu 2009 banyak sekali kelakuan peserta pemilu seperti anak kecil. Seperti membanggakan prestasi, lalu rebutan klaim atas sebuah prestasi dan saling mengejek peserta lain sebagai “anak-kecil.”

Kata anak kecil sendiri mula-mula diperkenalkan oleh presiden Gus Dur. Orang tersentak, presiden kok kalau bicara tanpa tebang pilih. Padahal sebelumnya presiden adalah tokoh yang setiap ucapannya dijaga hati-hati.

Dulu pak Harto mengatakan “saya gebuk” – maka aplikasinya di lapangan tidak main-main. Yang berseberangan langsung dipangkas habis.

Apalagi orang macam pak Harto berpegang pada mahzab “Sabda Pandita Ratu..” alias kalau raja berbicara, setiap kata adalah “mirip” undang-undang.

Setelah presiden Habibie yang demokratis, lalu datang Gus Dur yang terkenal berbicara lugas. Orang tentunya masih ingat saat anggota DPR yang selalu ribut “eker-ekeran” dikomentari oleh Gus Dur sebagai “kayak anak TK” – yang tidak dinyana, anak TK ini tidak terima dan menggalang persatuan untuk menjatuhkan Gus Dur.

Berganti presiden, ungkapan kayak anak TK diganti seperti anak kecil. Seorang suami presiden kita mengomentari kelakuan menterinya sebagai „anak kecil.”

Padahal sebelum kata-kata tersebut terucap mati-matian kami menjadi supporter mereka. Tidak perlu kaos, atribut atau uang. Pokoknya gerilya berjalan terus mempengaruhi teman-teman kantor, milis atau apa saja agar memilih partai yang sedang di zolimi tersebut.

Gara-gara kata-kata tidak simpatik, saya balik jalan. Tanpa diberi uang, tanpa diberi janji banyak masarakat kita diam-diam beli kaos, bikin lencana, mendukung calon presiden „anak kecil” – gara-gara komentar „anak kecil” – seseorang bisa terjungkal.

Saya boleh mengaku menjadi klandestein tanpa pamrih sama sekali. Ketika kami tilpun famili di Lampung, Yogya, bahkan Singapura. Bukan main sambutannya sama. Kita perjuangkan tiga berlian.

Lalu di TV saya melihat komentar calon presiden mengkritik kebijakan pemerintahan sebagai „Yoyo mainan anak kecil..” – kadang dinaikkan, kadang diturunkan, yang menderita rakyat, kata kritikus yang menurut beberapa lembaga survei bisa menjadi pesaing tangguh. Tetapi percaya dengan kata bertuah „anak kecil” – jangan-jangan peristiwa 2004 terulang lagi. Bisa kualat.

Seperti recycle, pihak yang semula berseberangan sekarang nampak akrab runtang-runtung di media massa. Atas nama Koalisi. Coba anda datang ke sebuah resto Seafood di Cirebon, ada sebuah foto di dinding restoran mengenai kedua Capres yang masih akrab. Dan saat seseorang naik tahta, sahabat ini malahan seperti anak kecil tidak kebagian mainan. Temannya mulai didongkel-dongkel sampai jatuh.

Karakter-karakter pemimpin yang demikian membuat saya sering was-was.

Sekalian mengumbar rasa. Saya pribadi kok kurang sreg Sultan Yogya mencalonkan diri entah jadi presiden entah menjadi capres. Belum mulai saja, beberapa tokoh sudah mulai menjegal dari belakang.

Apa belum cukup bapak Sultan melihat kenyataan di masyarakat bahwa sekarang anda disanjung karena butuh dukungan. Tetapi setelah Pemilu, apalagi anda menjadi pemenangnya jangan-jangan Sultanku di ejek “mirip anak kecil” lagi. Atau malahan di “jothak.” oleh orang Dewasa

Jothak= jw, dimusuhi, tidak diajak bicara

Posted in Uncategorized

Kartu E-Toll


Dulu orang kaya sering ditamsilkan “berdompet tebal.”

Tapi sekarang punya hanya uang gocengan tetap saja dompet saya tebal.Bagaimana tidak ada berapa kartu disimpan disana, mulai dari KTP, SIM, NPWP, Frequent Flyer, dua ATM, Kartu Kredit, Asuransi, Kartu Diskon, Kartu akses kantor, Flazz dan entah apa lagi. Belakangan seorang bagian pemasaran getol menjual kartu tambahan berupa kartu kredit cicilan. Dengan logat termata kental dan cara biasa teramat terburu-buru mengesankan seperti kalau  mendengarkan kotbah di rumah ibadat khsus para halak hita, Valeria, sebut saja namanya begitu mengez(z)ar zaya dengan buzukan “kalau baapak biza menunzukkan kartu NPWP maka pagu kredit akan sebezar sekain zuuta Pak! – tetapi tanpa NPWP pagu terpaksa kami turunkan menzadi zepertiganya pak!“:

Akhirnya zaya kalah dengan buzukan yang bertubi-tubi.

Tapi dasar serakah, dasar kepinginnya mirip iklan mobil “one step ahead” maka saya masih kepingin kartu E-Toll yang sekarang logonya dipasang di gerbang tol dalam kota. Sebuah jalur khusus dipasang, Jalan dipersempit, terkesan hati-hati ada galian kabel yang tak kunjung selesai. Sebuah besi dilengkungkan membentuk bulan dipasang dengan papan peringatan selain Sedan dan sejenisnya dilarang masuk.

Apalagi kadang dijaga para sekurit yang siap menghalau kendaraan semacam Bis masuk kesana. Jelas tidak bakalan muat, tetapi di negeri ini ada saja orang yang coba-coba. Apalagi bukan untuk anak.

Daya tarik karcis E-Toll ini sebetulnya “itoe koetika” sebuah siang, para petugas sibuk..sibuk…Suibuk (mau yang tiga kali?), berlarian memegangi gerbang tambahan yang bertuliskan khusus mobil kecil. Rupa-rupanya sang gerbang masih malas untuk berdiri tegak.

Saat mereka sibuk itulah saya baru ngeh bahwa pengelola jalan tol menambah layanan agar transaksi di pintu gerbang bisa berjalan lebih cepat. Sekalipun sedikit lucu, apalah artinya detik perdetik irit di pintu gerbang – kalau jalanan tolnya sendiri macet termacet.

Tapi kepikiran juga kalau saat itu saya berada dibawah gerbang, dan tanpa ampun kejatuhan tiang gawang. Kok kalau soal keselamatan kita hanya terbatas peringatan ikon “pakai sabuk keselamatan” saja.

Sebuah bank yang konon menjual kartu tersebut saya datangi. Satpam yang ramah menanyakan keperluan saya. Dan jangan kaget kalau respons yang anda terima tidak terbersit diwajahnya bahwa ia paham apa yang saya tanyakan. Satpam berlalu bertanya kepihak pelayanan pelanggan. Lalu ia kembali lagi dengan mengatakan bahwa di kantor ini belum tersedia kartu tersebut sekaligus mengisyaratkan “kalau dikantor pusat lebih lengkap koleksinya..”

Nampaknya saya harus ke pusat yang di jalan Gatot Subroto. Sayapun bergegas menuju sana, dan setelah mendapat respons “bingung” lagi lalu satpam bertanya ke pihak bank maka jawabannya lebih eksplisit bahwa kartu belum dijual menunggu pertengahan bulan depan..” – Kuciwa namun setidaknya lebih jelas ketimbang jawaban pak Satpam di kantor cabang sebelunya.

Akhirnya supaya kelihatan berfikiran positif saya cuma mbatin dalam hati (namanya bicara batin) ya sudah, dompet saya jadinya tidak terlalu tebal. Lalu saya perhatikan penampilan saya akhir-akhir ini. Lemak di perut sudah seperti dompet kusir dokar, di pinggang kanan masih diganduli kantong untuk HP dan sebetulnya kamera, dompet tebal dibelakang tempat bermukim segala macam kartu termasuk kartu nama.

Posted in Uncategorized

Obituari Singkat Mas Huntoro


Di jalan kecil namun Asri di kawasan Kasihan Bantul, Yogyakarta mobil saya belokkan dan mencoba parkir di salah satu tanah lapang yang kadang dipakai untuk menjemur padi atau bermain badminton.

Melihat kedatangan saya, sosok lelaki besar di ujung sana langsung menghentikan kegiatannya lalu berlari memapagi saya. Kami bersalaman, dia menyebut nama dan kami terlibat pembicaraan ringan.

Tak lebih dari lima menit kami berbicara ia pamitan untuk meneruskan pekerjaannya.

Kesan dosen yang angker, sengak, dengan lidah tajam menohok ulu hati sama sekali tidak nampak di wajah ramahnya.

Maka alangkah kagetnya ketika saya mendengar 27Januari 2009, ia sudah meninggalkan kita dalam usia 52tahun.

Reaksi teman-teman memang luar biasa.

Mas Wib dari Yogya sudah kirim SMS, di pagi buta. Teman di milis sudah saling mengirimkan sungkawa. Apalagi mas Hun adalah kakak kandung Mas Ajitoro seorang “die hard” mulogger yang masih bercokol di Australia. Belakangan saya tahu mas Ajitoropun mengirimkan email kepada saya yang selalu direspons dengan “alamat yahoo saya salah..”

Bisa jadi mas Hun tidak ingin kepergiannya dijadikan berita duka sebab ia rela bahwa pertarungannya terhadap sakit bocor madu yang dideritanya sejak tahun 1999, seperti memasuki waktu untuk lempar handuk.

Satu peninggalan mas Hun yang membekas, kendati kami cuma bicara singkat . Ia pernah berbisik kepada mas Ajitoro dan bilang “saya selebritis kampus..”

Terlalu mengada-ada memang, tetapi jujur saja sebagai penganut mahzab sedikit “narsis” saya senang mendengarnya.

Entah pernyataan  jujur atau tidak, dosen yang kurang sreg dengan dunia email ini menunjukkan watak “senang membuat orang lain senang” – saat kita pada umumnya sedih melihat orang lain senang.

Posted in majalah

Loper Koran Yang Kutunggu-Kutunggu – telat lima hari


Bukan ikutan krisis moneter Global ala Amerika yang lagi terpaksa merumahkan ribuan pegawainya. Sepertinya cukup sudah masa janji yang diberikan pak loper koran. Akhirnya vonis jatuh.

Hari Kamis ini terpaksa bibi di rumah menguatkan hati dan ditega-tegain berkata kepada pengantar majalah kami “ini adalah majalah terakhir, minggu depan kami menyetop berlangganan..”

Bisa dibayangkan betapa kecutnya wajah anak muda bersepeda itu manakala mendengar kabar tak menggembirakan lebih dahsyat ketimbang api Plumpang yang datang menjelang tahun Kerbau Api.

Pasalnya sudah hampir dua tahun dia menjadi pengantar koran dan majalah saya tidak melihat peningkatan mutu pelayanannya.

Pertama koran dan majalah bisa datang tepat waktu. Namun sejalan dengan waktu, pelayannya semangkin mengendor.

Sebut saja majalah Tempo yang terbit setiap hari Senin.

Tetapi khusus Senin 26 Januari 2009. adalah Tahun Baru Imlek 2560, tak heran sehari sebelumnya Minggu 25/1/2009 di jalanan orang sudah dengan mudah mendapatkan majalah kesayangan ini. Namun tunggu punya tunggu “Bujang” – sebut saja demikian baru mengantarkan lima hari kemudian.

Disabar-sabarkan lama-lama saya muntab ketika dia menjawab bahwa “Majalah Tempo belum terbit sejak Sincia.”

Padahal kalau urusan pembayaran – tagihannya tidak pernah telat sedetikpun.

Saya masih bisa toleran ketika dia beralasan ketiduran di surau. Kalau ditegur, bisa-bisa fatwa yang datang. Di lain hari dia bilang keterusan main PS, atau kemalaman nonton Sepak Bola di TV. 

Rupanya dia menganggap pelanggan adalah bapak ibunya.

Orang berlangganan koran karena ingin dibaca beberapa menit sebelum ke kantor misalnya. Tapi saya hanya kebagian setelah pulang kantor. Sekarang melorot membaca majalah basi lantaran datang lima hari kemudian. Hopo tumon.

Posted in imlek

Melihat Suhu Tan di TV One


Sincia-sincia begini apa salahnya keluar rumah. Kebetulan sedang berada di Grogol lokasi yang dekat dengan tanah tumpah darah segala kegiatan berbau etnis Tionghoa.

Menyusuri jalan Gajah Mada maksud hati menuju Petak Sembilan. Namun setelah mencoba menembus jalan tikus macam jalan Toko Tiga, Tanah Sareal,  pendeknya kawasan Pecinan kami sadari bahwa usaha ini akan sia-sia lantaran kawasan padat rumah dengan mobil parkir disana sini. Kami tahu bahwa pesta Imlek baru usai sehari sebelumnya. Namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Akhirnya memang betul, tidak ada pemandangan yang kami lihat kecuali kesibukan terutama warga keturunan saling bersanjo (palembang – berkunjung) antar kerabat.

Daripada bingung, kami masuk ke bakmi GM yang hari itu tetap berjualan. Menurut kabar yang kami dengan, barang siapa berjualan di hari Sincia, dia harus berdagang lima hari berikutnya. GM lantas memberikan hadiah “angpao GM.” Sebuah kalender meja menjadi milik kami.

Lepas makan bakmi. Kamipun beranjak pulang menembus jalan Tambora muncul di Duri.

Sesampai di Grogol  baru saja pantat ditaruh dikursi adik Ipar berteriak histeris “Suhu Tan di TV one” – saya langsung menghambur ke ruang TV sambil mencatat siapa tahu ada nomor yang bisa dipakai untuk menghubungi Suhu. Nama Suhu Tan seperti tidak asing bagi keluarga kami, pertama sesama warga Wikimu, kedua beliau pernah meringankan langkah mendatangi pernikahan anak saya Lia setahun lalu.

Sayang, sampai  akhir acara tidak diadakan tanya jawab. Kesimpulannya, tahun Kerbau API sebaiknya kita bermain di saham tidak keras. Jangan spekulatif.

Sementara Kerbau Api akan menghasilkan mineral. Perlambang dunia pertambangan termasuk minyak akan cerah memasuki bulan April.

Siapa Suhu Tan ini? – sejatinya pengurus agama Budha ini bernama Budiono. Namun saat diminta oleh pengurus jurnalisme warga untuk mengisi kolom Wikimu, seorang teman, Guswai, mengusulkan “pakai saja nama Suhu Tan, biar lebih meyakinkan..” – dan nama penggemar cerita silat Gak ini kemudian berkibar. Sekarang Suhu Tan mengisi acara fengshui pada harian Kontan setiap hari Jumat. Disamping kesibukannya sehari-hari mengurus umat dan mengawal pelancong ke China.

Yang paling menyenangkan dari semua prediksi Suhu adalah dunia pertambangan bakal membaik. Yihuui.

Posted in meditasi, yoga

Tahun Baru Kerbau dan Meditasi


Senin 26 Jan 2009 tergolong arisan pelbagai peristiwa dunia. Tahun Baru Cina memasuki alam Kerbau. Ditimpali oleh Gerhana Cincin sampai gerhana lain yaitu MUI menggenjot produksi sumur fatwa-fatwa yang tiada keringnya.

Yoga yang biasanya berhubungan dengan cara meditasi dilarang. Kata sementara orang kita seperti berjalan sambil memasang teleskop dari Lembang. Bintang di langit nun jauh disana dibahas mati-matian. Jerawat di muka malahan tidak nampak.

Mudah-mudahan anda yang punya nama Yoga tidak bersiap mengganti KTP, IJAZAH, SIM, KARTU KELUARGA sebab kebiasan kita manakala satu kegiatan diharamkan. Maka asesories yang terkait akan bernasib sama. Ada yang mendengar nama salah satu hewan mahluk ciptaan Tuhan disebut, langsung mengkirik “hiy.”

Sayapun kalau menghadiri pesta pernikahan sekelompok masyarakat lalu melihat glundungan utuh kepala hewan diatas tambir (tampah) – masih kaget. Sekalipun otak saya perintahkan untuk bersikap wajar.

Saya tidak tahu apalah Falun Gong akan mengalami nasib mirip perintisnya di daratan Cina Komunis sana.

Lalu ingat sebuah acara radio diasuh oleh Gde Pramana: “Ada bermacam-macam cara orang belajar meditasi. Ada banyak cara bermeditasi, ada banyak tempat untuk di hotel, di mal, di kamar yang sunyi. Ada yang pergi ke puncak gunung, lalu mengamati tarikan nafas. Saya ingin mengajarkan anda cara meditasi yang paling baik. Cara ini tidak membutuhkan tempat sunyi, sebab meditasi ini adalah meditasi kejujuran hati dan sikap menolong sesama. Sudahkan anda bermeditasi hari ini.”

Saya tidak tahu apakah ajaran meditasi Gde Pramana kelak akan di larang.

Saya berdoa semoga Karate, Kempo, Kendo dan aliran bela diri dari luar Indonesia akan di-makruh-kan lantaran rata-rata lahir di Jepang bagaimana akan diharapkan berselera Timur Tengah. Mirip mengharapkan harimau harus mengembik dan makan rumput.

Beberapa hari lalu di Mal Ciputra saya melihat pagelaran musik tradisional Cina. Pemainnya muda-muda. Beda pemain muda dan tua cuma pada penghayatan. Pemain tua umumnya menghayati lagu sampai ke hati, mereka tenggelam dalam irama, mata terpejam dan trance. Musik menjadi ritual dan sakral. Dijaga jangan sampai salah sambung, salah nada. Akibatnya mereka tidak menjadi tontonan menarik. Tetapi tuntunan menarik jelas Iya.

Pemain muda biasanya saling lempar senyum kepada sesama pemain. Tanpa beban. Mereka sebagian mungkin tidak sadar sepenuhnya, bahwa hanya ada satu manusia di bumi ini yang kebetulan naik tahta dan melonggarkan pembatasan-pembatasan tersebut. [I am not campaigner or part of the member LHO]

Gesekan senar, pukulan tambur dan kencreng seakan memenuhi hall mal yang hari itu bernuansa hokie yaitu merah. Karena lagu gurun Gobi pertama saya ya senang namun karena tidak mengerti, kurang ambil perhatian. Okeylah, ada instrumentalia “Dayung Sampan” yang juga di klaim musik jiran- saya masih bisa mengunyah nikmatnya musik.

Lho kok mendadak musik berubah “Besame Mucho (salah tulis), lantas perlahan bergeser masuk ke ranah dangdut. Dan adegan campur sari ini langsung disambut lebih hangat karena beberapa penonton termasuk saya sekarang bisa menikmatinya.

Pertunjukan tersebut cukup sukses. Tapi kelak apa akan dilarang juga.

Posted in kuliner

Kesasar ke alamat Mbah Jingkrak


Itu alasan saya ketika menyadari setengah jam terlambat dari waktu yang dimusyawarahkan. Jelas bohong, sebab justru saya yang wara-wara mengiklankan acara kuliner bulan Januari 2009 nanti di rumah makan bersuasana Jawa.

Yang betul adalah mencoba melakukan akrobat diantara kegiatan kantor yang menunjang peri kehidupan dan kocek saya, ditambah komunitas wikimu yang sudah seperti saudara kedua. Masih mencoba berakrobat  dalam deretan parade orang bermobil berpendingin tetapi mengeluh (macet), adik tersayang Utami sudah menilpun. “Mas – anak-anak sudah menunggu di Mbah Jingkrak, tadinya aku mau ikut tapi bapaknya anak-anak tidak mengijinkan. Padahal anak-anak sudah ngompori bahwa pakde sebagai koordinatornya (padahal pak Phil). Tapi kalau suami sudah bilang biru, ya aku ikut mengamini biru..” – maklum istri angkatan, maklum pula memang mereka kelompok yang kadang dituding “sempalan” – bahkan dalam catatan MUI – mereka tergolong memasuki wilayah abu-abu.

Setengah jam berkutat akhirnya saya berhasil lolos dari jeratan macet dan masuk ke jalan Setiabudi Tengah no 11. Disana pak Phil nampak sudah bersiap-siap dengan penganan kloter kedua. Nampaknya Mie rebus Jawa merupakan rombongan kloter pertama yang masuk kedalam sistem pencernakannya. Mel dan Firsa sedang kotos-kotos mandi keringat. Mel bilang “gadon” kok malahan tidak ada.

Keponakan bertiga sudah tidak perduli dengan kedatangan pakde. Teman lain tentunya tidak saya sebutkan satu persatu kelihatannya menikmati hidangan usulan kami.

Lalu mulailah pada berbagi hendak menulis Mbah Jingkrak dari pandangan masing-masing.  Saya malahan bertanya bulan Februari akan makan dimana? apakah BBT, ACANG, ALOK, RENDEVOUS, MIRANDA atau CAHAYA KOTA.

Mie BBT sekalipun mudah dicapai tetapi kelemahannya kita tidak akan bisa duduk santai berkumpul lantas mengobrol. Beberapa kedai bakmi hanya buka sampai sekitar 14:00 – sementara Cahaya Kota yang dikenal sebagai restonya para presiden kita, belakangan ditinggalkan oleh sang juru masaknya. Sampai kami berpisah dua jam kemudian, belum dicapai kesepakatan mengenai wisata kuliner bulan depan.

Mumpung lagi demam “saudara- teman kecil Obama” – saya menganjurkan makan di resto Miranda (dulu Tan Goei), karena letaknya dijalan Besuki posisinya berseberangan dengan SD Besuki yang konon Obama pernah sekolah disana. Boleh jadi Obama pernah makan disana dengan ayah ibunya kemudian jadi Presiden. Yang pasti mereka yang pernah diajak makan Nasi Goreng Kepiting – menjadi Presiden bekas perusahaan saya. Tetapi akhirnya percakapan merembet ke gosip bahwa puluhan tahun lalu sebelum Obama naik daun, saya justru mendengar bahwa SD Argentina adalah sekolahnya.

Saya sendiri sudah lama tidak menjenguk restoran yang memang okey punya untuk berkumpul dan kongkow-kongkow.  Maklum setelah ganti STNK dari Tan Goes menjadi Miranda, ada beberapa perubahan rasa dalam Nasi Goreng Kepiting. Mudah-mudahan sekarang membaik.