Posted in kuliner

Sate Kilo bukan Laundry


sate_kilo_hthohir_babakan-medang_warungBerani tarik kuping, para ibu-ibu kampung saya Rawa-Bogo alias Kodau, Pondok Gede, mungkin termasuk anda juga, ketika usai acara senam untuk membakar lemak di pinggang, selalu saja tidak ketinggalan acara partai tambahan yaitu “bakar lemak kambing” alias warung sate kambing, ayam, sapi yang sepertinya tak kunjung kering sumber informasinya.

Sehingga ada rumor beredar, pergi senam niatnya buang lemak 500 kalori, habis olahraga isi “minyak” 5000 kalori. Ya tidak pernah tekor timbangan badan dibuatnya.

“Pokoknya dari arah Jakarta ke Bogor, keluar tol Sentul, “lempeng (jalan lurus) aja sekitar 3 kilo, ada warung sate kilo(an), sebelah kanan jalan, hati-hati banyak yang warung tiruan biasanya tidak enak….” – Demikian SMS yang kami dapatkan dari Ibu Lina. Masih belum puas, di balik karcis tol masih dituliskan alamat Sate Kilo yang kondang di seantero Citeureup. Dan karena saya termasuk berbadan “ikan Kembung Banjar”- jelas saja yang senam bukan saya. Saya sih sekedar pak Supir.

Perlahan kendaraan saya jalankan ketika mendekati TKP. Memang benar beberapa penjual sate mengaku sate KILOAN, namun ini awal tahun baru 2009, mereka pada tutup pintu sehingga was-was juga kami tidak bertemu dengan warung pak Thohir yang menjadi buah bibir para ibu senam.

Akhirnya ketemu juga. Rupanya plang nama mulai tertutup rimbunnya tanaman, dan yang lebih penting lagi banyak plang kampanye legislatif yang lama-lama kok mirip “menghiba-iba. Pilihlah saya, kota akan saya bangun” – perkara nanti membangun dari rumah pribadinya yang itu urusan lain..”

Pondok-pondok bambu dibangun diatas sungai pinggir jalan, strategis namun kalangsungan hidup kalen (got) mungkin lambat laun terganggu oleh tiang-tiang pancangnya. Tapi sudahlah bangunannya pun masih semi permanen. Pemilik menyajikan warung ala lesehan sehingga pembeli bisa sate lalu menunggu reaksinya sambil “klekaran” tiduran – dirayu mengantuk. Banyak motor-motor tiduran, istirahat sebelum menjalankan perjalanan mereka.

Saya lihat seorang pria setengah baya sedang sibuk memotong daging dibantu oleh dua asistennya.

Kami memesan sate kambing, sop, sate ayam, sate sapi. Mula-mula nasi dihidangkan dengan piring kecap dan gerusan teramat halus bumbu kacang. Tentunya setelah daging di kilo terlebih dahulu.

Pertama dilayani oleh petugas bercelana jean dan berkaus hitam ketat mirip Wulan Jamila, sehingga selanjutnya sebut saja Wulan. Figurnya tinggi semampai. Perutnya selangsing Dobermen. Apalagi lehernya yang putih diganduli semacam kalung besar bernama “hape.” – Tetapi karena tidak ada urusan dengan iklan deodoran, sama sekali tidak ada pameran pangkal lengan mulus nan milik Mulan beneran. Hanya saja wulan satu ini seperti kecapekan sehingga urat senyum sudah terkelupas luntur.

Kesalahan kami pertama setelah 13 jam beranjak dari tahun baru adalah setelah sekian menit hidangan yang disiapkan belum juga tiba, beberapa anggota yang memang wataknya dari sono tidak sabaran nampak mulai gelisah.

Untuk menutupinya mereka order es teh tawar tambahan dan tiga kursi karena untuk kawanan pemakan daging berjumlah dua jari lengan manusia, kursi plastik putih tidak mencukupi. Sementara untuk lesehan beberapa keluarga saya mengalami kesulitan organ tubuh. Apalagi iklan di TV kalau pegang airminum dan es batu bisa meredakan kemarahan.

Begitu menerima perimintaanb kami, alis Wulan berkerut, mirip aselinya saat digosipkan “ada” main dengan bosnya. Lantas posisi pelanggan adalah raja turun pangkat menjadi bak calon nasabah didatangi “petugas asuransi menawarkan premi”.

Bisa jadi Wulan van Babakan Madang ini terbiasa menikmati sukses sang ayah sehingga daya enterprenurnya sering bertabrakan dengan “gaya hidup anak orang sukses” – alias mudah tersinggung.  Betapa mudahnya kita melihat contoh demikian dalam penerbangan kita. Anak orang berada terpaksa “bekerja” – akibatnya filosofi sebagai penjual sudah lama di Option 1, 1 – alias kalau di HP adalah menghapus message dan OK sebagai konfirmasinya.

Benar saja Wulan mulai membentak “bawahannya” – Tidak lama bawahannya keluar dengan wajah seperti baru dikecroti “jeruk lemon chui” yang banyak diproduksi di Citeureup. Merasa dipameri “judes mar judes” – keluarga saya yang memang beberapa rem mulutnya sering blong, mengeluarkan komentar sekalipun tidak langsung didepan Wulan, namun saya yakin akan terdengar olehnya.

Kesalahan kedua kami adalah selain terbiasa layanan sate yang cepat, ramah dan terutama masakannya “okey” punya. Maka mungkin saja tanggal 1 Januari 2009 bukan hari baik kami untuk menerima dan menikmati makanan seperti yang kami kehendaki. Apalagi setelah mendengar rekomendasi teman-teman. Nampaknya kedai sate di jalan Kranggan masih lebih konsisten dan ramah dari pemilik, istri sampai anaknya. (saya tulis dalam artikel tersendiri- Sate tanpa lemak)

Tidak lama kemudian, setelah pemeran pertama tidak muncul lagi. Keluar pria berpakaian putih-putih, bertopi haji putih. Dia memang pria yang lumayan ramah sekalipun wajahnya berkeringat diterpa panas bara sate dan panasnya suasana.

Kecepatan pelayanan mulai naik sekalipun masih belum memenuhi kriteria.

Tapi seperti kata orang – bumbu masakan yang paling “top-markotop” – adalah rasa lapar itu sendiri.  Apalagi waktu sudah menunjukkan jam 13:00 sehingga dalam waktu sekejap sate ludes, bahkan lemaknya pun ikut meleleh dalam perut kami. Lupakanlah bahwa kecuali sate ayam, maka masakan asal mamalia boleh dikatakan merepotkan bagi yang bergigi palsu.

Saat membayar tagihan yang diberikan oleh Wulan Jamilah ternyata hasil kroscek memperlihatkan bahwa Wulan menjumlahkan angka selisih beberapa ribu rupiah lebih murah ketimbang seharusnya. Kalau kami tak jujur dia akan rugi diatas sepuluh ribu rupiah keriting. Kami beritahu kesalahannya, dan wajah tetap sedingin Vampir. Atau memang kata “terimakasih, maaf” sudah dipindahkan dalam HP-nya.

Kami tinggalkan warung ini dengan membawa satu kilo setengah daging dalam tubuh kami. Setelah sebelumnya order tusuk gigi lantaran – beberapa hidangan cukup melakukan perlawanan ketat dan kucing-kucingan diantara gigi seperti pedagang kaki lima yang akan digusur tramtib.

Di jalan tol JagoRawi mendung tampak menebal , di pintu tol Pasar Rebo sambil pengguna jalan Tol mempersilakan rombongan pejabat penting “nyerobot” masuk tol dan mengalahkan kami yang mjembayar tol, saya jadi kepikiran bahwa adanya kompetisi itu perlu. Saya harus mengubah resolusi Tahun Baru 2009, tidak meng “under estimate” para kompetitor dibidang apapun juga.

Mungkin saja para peniru justru menawarkan kemudahan, keramahan, kecepatan, kenikmatan masakan.  Apalagi pengalaman saya yang kurang “menyenangkan” – mendapatkan pelayanan yang jauh dari harapan.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s