Posted in blackberry

Blackberry – mahluk apakah itu


Dimana-mana mata membaca artikel mengenai teknologi informasi selalu terantuk kata “blackberry.”

Setiap pagi saya harus “ngemel” (ini bahasa jaman pak Harto dimana pihak yang “tersangkut gerakan hitam” diwajibkan laporan secara berkala)  – disebuah perusahaan minyak. Mendengarkan para pakar dari negara tumpah darah Pizza dan Mafia saling telewicara sebuah operasi pengeboran yang minimal mengeluarkan biaya 1 juta dolar perhari.

Herannya para italiano juga kok mirip kita. Bukan wajahnya melainkan kalau mengikuti rapat selalu saja ada acara federalisasi buka lapak ngobrol sendiri dengan teman disamping kita..” – sehingga terkadang sulit menedengarkan apa yang sedang dibicarakan didepan corong.

Kalau rapat usai, beberapa peserta ada yang berkeluh kesah mengatasi “sedikitnya waktu tersedia di kantor” – gara-gara dua jam dibuang untuk menghadiri rapat yang kadang berlangsung cuma sepuluh menit, dua jam lagi kembali ke kantor. Mau bawa laptop, terlalu besar. Apalagi yang “stuur” sendiri.

Sehingga jalan keluarnya adalah “blackberry.” – Toh kerja jaman sekarang sebetulnya didominasi “baca dan kirim email.”

Bahkan baca majalah anak-anak masih pakai pemperspun saya kepentok dengan artikel berjudul “mengenal BlackBerry.”  Dikatakan bahwa OS (Operating System) ini asal muasalnya dari RIM (Research In Motion) asal Canada. Semula usia perusahaan ini dianggap habis alias klepek-klepek lantaran orang sudah tidak mau pakai pager, sebagai core bisnis RIM. Padahal saat itu perusahaan lain sudah bergerak dengan menjual pesan singkat alias SMS.

Yang tidak diduga perlahan-lahan, RIM membangun software blackberry sehingga menjadi semacam gadget baru di dunia komunikasi.

Baru selesai baca artikel BlackBerry, teman dari IT sebuah perusahaan bahan tambang mengirimkan berita bahwa kantornya sedang sia-siap pindah ke blackberry.

Lalu saya mencoba IT dikantor saya menanyakan apakah NOKIA bisa dimanfaatkan sebagai PushMail selain BlackBerry. Tidak diduga pertanyaan saya ini menjadi kehebohan sebab berani-beraninya tanya soal diluar prosedur. Saya langsung ditilpun pihak terkait. Lha sudah punya Nokia ditangan apakah harus dilepaskan demi Black Berry terbang tinggi.

Untung saja Nokia di Eropa menawarkan cara berlangganan PushMail (membaca menulis mengirim email Email sama sederhanaya dengan kirim SMS) dengan cara gratisan. Begitu saya mendaftar langsung saja email dari Yahoo, Gmail bahkan Telkom.Net masuk langsung ke HP saya.

Sedikit mengganggu adalah saat mengirim email selalu saja ada tambahan “Sent by Nokia” sebagai tanda tangannya. Entah untuk berapa lama langganan PushMail Nokia ini dibiarkan bebas, mungkin kalau sudah banyak pendaftar mulai ditarik iuran. Namun setidaknya melegakan bahwa perusahaan macam Nokia juga memikirkan kebutuhan pelanggannya – sebelum mereka pindah ke merek lain.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s