Posted in tol

Pintu Tol


Beberapa meter sebelum pintu tol Jatiwarna 2, Pondok Gede, mobil dengan sarat penumpang mendadak stop pinggir. Braak – pintu belakang dibuka, lalu seperti muntahan rudal berfosfor putih tentara Israel, penumpang didalamnya memuntahkan kulit rambutan (karena musim buah rambutan, kulit duku dan kulit jagung rebus. Nampaknya mereka baru berpesta dalam kendaraan. Sadar-sadar muatan mobil penuh dengan sisa makan sehingga enteng saja mereka muntahkan dijalanan. Saya sengaja memperlambat kendaraan di belakang mereka sambil mengawasi tindakan para lelaki dan perempuan dewasa ini. Sang supir memperlihatkan wajah “bukan urusan eluh..” – sementara penumpang lainnya senyum kemenangan karena sudah berbuat hal yang cerdik. Makan tetapi tanpa pusing akan kotoran.

Pernah atau malahan sering antrian di pintu tol bukan? – didepan loket mobil berhenti, kaca jendela diturunkan, sebuah tangan (harus kanan) terulur sambil melambaikan uang kertas.

Detik kaca diturunkan anda didalam mobil yang terbiasa dihembus pendingin udara mendadak sontak pipi serasa ditampar hawa panas udara Jakarta, kadar CO2 yang menyunat oksigen sekitar loket, bau asap dari knalpot. Coba berdiri barang satu menit, rasanya mirip di playgroup neraka. Dada seperti habis menyelam selama satu menit di laut.

Lalu tangan lain yang biasanya petugas berseragam biru memberikan sehelai tanda pembayaran tol.

Dan sebuah pemandangan yang “kurang enak” – biasanya apalagi pemilik mobil pribadi langsung meremas sesaat tanda bukti dan melepeh (buang) begitu saja sampah sehingga tak heran pemandangan pintu tol nampak kotor. Kalau anda memperhatikan dari jauh, gerakan pengemudi melempar kertas seakan-akan seperti gerakan pemain basket. Tentu saja tidak ada kertas yang berhasil masuk tong sampah. Selain kertas cuma secuil dan mudah melayang, jarak antara pengemudi dan “kotak karcis bekas” membutuhkan seorang Michael Yordan untuk membidiknya.

Terkadang saya melihat kotak sampah dan petugas sapu jalan mencoba adu balap dengan kecepatan sampah. Biasanya sebentar saja petugas bakalan keok.

Kalau saja sensor “budi pekerti” masa sekolah kita dibuka sedikit saja. Bagaimana rasanya jika kita sesekali ganti peran menjadi petugas tol sebagai pihak pemberi tanda bukti, lalu pihak lain dengan acuh tak acuh membuang kertas tersebut di depan hidung saat uangpun belum sempurna masuk laci.

Saya pikir akan keluar tanda baca “tuwiiing” diatas kepala kita.

Bukankah lebih baik kertas tersebut disimpan didalam kantung anda untuk sementara, sebab siapa tahu terjadi kejadian tak diinginkan paling tidak anda memiliki bukti bahwa pada jam sekian, memang melewati jalan tol secara legal.

Tak heran petugas tol hampir selalu “cemberut” karena perhatian mereka harus terpusat pada uang pengembalian, jumlah uang diterima, bilamana angka uang cukup besar jari tangan mengecek apakah uang tersebut palsu atau tidak.

Kalau anda hendak mencoba mendapatkan sensasi lain cobalah sesekali bayar tol di ramp biasanya yang nominal 1500-an maka karena udara pagi yang segar dan pemakai tol masih relatif sepi, sesekali masih mendengar sapaan selamat pagi.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Pintu Tol

  1. Memang tidak perlu jauh-jauh melihat kejadian serupa. Selalu saja sekitar kita banyak hal “aneh:” yang bisa kita petik dan pelajari serta dijadikan bahan Blog.

    Like

  2. Banyak kejadian2 disekitar kita yg memang perlu tuk dijadikan bahan tuk nulis diblog. Dari hal hal dalam lingkungan keluarga sampai lingkungan sekitar.Dari blog tersebut orang lain dapat mengambil pelajaran dan bg penulis dpt dijadikan rintisan.Banyak pelajaran berharga dri sekedar tulisan tsbt. Maka dari itu hidup bloger!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s