Posted in Uncategorized

Awas Hati Hati harga eceran Premium sudah 3 kali diturunkan!


Peringatan ini diucapkan dengan tekanan seperti “Awas Demam Berdarah” lalu apa yang salah dengan Premium diturunkan? semenjak 15 Desemeber 2008 ini

Pasalnya kita sudah lama tidak mengikuti hukum Newton sekali benda bernama Sembako atau BBM meroket ke udara, maka gravitasi sudah nol puthul yang berkerja dan janganberharap turun sedikitpun. Tak heran kita terkena seperti “culture shock” mendengar BBM bisa diplorotkan. Dan akibatnya pihak SPBU berteriak “saya rugi 40 juta” – sementara jarang sekali kita mendengar orang berteriak “saya untung.” Lalu BBM menghilang, antrian memanjang.

Padahal dulu, kalau ada pengumuman BBM naik, biasanya per satu April, maka sehari sebelumnya akan nampak jejalan antrean kendaraan, terkadang mengelus dada melihat mobilĀ  sekelas Mercedes mewah ikutan antri diantara deretan bajaj demi menghemat beberapa rupiah. Bisa dimaklumi, harga naik berarti pengeluaran kocek juga makin berat. Dan menjelang pengumuman harga naik maka bensin menghilang namun tidak ada SPBU berteriak di koran “saya untung..saya untung..”

Lho sekarang pengumuman BBM diturunkan sampai tiga kali reaksi masyarakat sama paniknya. Ternyata setelah dibaca di koran dan televisi salah satu penyebabnya bukan saja distribusi melainkan sekelompok anggota masyarakat yang selama ini menikmati keuntungan dari penjualan premium sekarang mereka terpaksa harus gigit jari karena selisih harga dan memutuskan untuk tidak candak kulak premium.

Soal antri ini saya ingat masa kecil saya, saat sang pemimpin berambisi membusungkan dada mau menghancurkan negara yang kami sebut BONEKA ternyata sekarang menjadi Raksasa hidup gemerlap. Sejatinya saat itu rakyat yang hancur, antri minyak tanah, antri beras, kadang antri nasi sudah menjadi bagian hari-hari masa kecil saya.

Terbayang betapa cairan bening minyak tanah yang ditaruh dikaleng berbentuk kotak, biasanya dulunya bekas minyak kelapa. Warna minyak yang kebiruan lantaran memang hasil pabrik selalu demikian dimata saya seperti melihat lampu neon ultra violet. Warna kekuningan yang terpendar dari dasar kaleng terbuka seperti melihat cairan emas.

Belum lagi aroma minyak lantung, sepertinya wangi dan harum di hidung saya ketika kecil. Hanya Lia anak saya yang kalau kecil mencium bau bensin lalu hidungnya kembang kempis.

Sekarang minyak tanah sudah diharamkan. Maka kenangan masa kecil akan minyak patra, minyak lantung, kerosin, perlahan akan pudar. Kelak cucupun bakalan tidak tahu bau minyak tanah jangan-jangan mereka menyangka minyak bumi ya minyak tanah itu.

Lalu iklan akan kehebatan pemerintah menurunkan harga mulai diumbar, sampai risih melihatnya. Apalagi nampak ibu-ibu sedang bekerja di kebun berterimakasih BBM turun sekalipun kalau beliau naik angkot atau ojek, belum ada tuh yang menurunkan harga. Dan ibu yang sangat berterimakasih “mungkin” sekali tidak memiliki mobil pribadi. Maaf lho bu.

Sampai-sampai kepikiran, apa betul kebijakan yang dilakukan selam ini masih berhubungan dengan akan datangnya sang Pemilu?

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s