Posted in ikan, imlek

Ikan Sapu-sapu yang jago lari


Cuma pegawai rendahan di dasar kolam
Cuma pegawai rendahan di dasar kolam

Apa sih gunanya memelihara ikan sapu-sapu kecuali dimanfaatkan menjadi tukang bersih-bersih akuarium para penggemar ikan hias seperti milik teman saya ini.

Ikan sapu-sapu tergolong binatang tahan hidup dalam suasana apapun juga. Kolam, got, kalen yang sudah tercemar limbah pabrik, bukan merupakan halangan bagi mereka untuk beranak pinak. Padahal ikan “tahan banting” lainnya seperti mujair sudah lama klepek-klepek semaput.

Di perairan Ciliwung saya lihat bapak-bapak dan anak-anak pada menjaring ikan dengan kulit sekasar salak, kalau makan nungging (kata bahasa ikan lho).  Setelah kulit di klotoki, daging putihnya dicincang menjadi Somay dan Bakso ikan yang lezat yang ngider keliling kampung pakai sepeda dengan kotak kayu dibelakangnya. Kita percaya saja lantaran di kotak papan penjual tertera “Tengiri.” -Yang dikuatirkan, karena dia tahan cuaca tahan limbah, maka dagingnya meneruskan limbah berat ke darah kita.

Salah satu karakter ikan ini biasanya pemalas. Jatahnya makan lumut, tapi kalau sudah mencobai rasa pelet, ibarat pemakan sayuran pindah ke protenian, dan lumut kita semakin subur menggelora lantaran “predator” nya sudah tidak menaruh selera.

Si hitam sedang PDKT dengan si merah
Si hitam sedang PDKT dengan si merah

Teman saya pelihara arwana ada yang sudah seukuran Bandeng Imlek  buat pesta saudara kita ber tahun baru sebentar lagi. Tahu-tahu pagi-pagi kedapatan “dut” lantaran terjun bebas ke lantai marmer. Besoknya dia beli lagi.

Tapi saya tidak terkagum dengan Arwananya yang kalau lagi melotot dan memerahkan sisiknya kok mirip Raja Rahwana, ketimbang dewa rejeki.

Yang saya amati adalah atraksi sapu-sapu yang bisa seperti “interniran Jepang mabuk gadung” – mereka bisa berlarian kian kemari berjam-jam mengelilingi akuarium dengan stamina setara serdadu  Yunani bernama Pheidippides pada 490SM yang mencetuskan lari marathon.

Sayang ketika foto diambil dalam satu kesempatan maka  pak Sarengat atawa Gurnam Singh dari dunia ikan ini sedang malas berlari. Rupa-rupanya dia sedang berusaha PDKT dengan ikan sejenis yang warnanya lebih cerah. Mungkin kalau istilah dunia kita memperbaiki keturunan.

Jangan-jangan atraksi berlari dan terus berlalri mengejar sang Putri adalah kebiasaan ikan ini yang baru saya ketahui.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

One thought on “Ikan Sapu-sapu yang jago lari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s