Posted in mudlogger, oil base mud, oil rig

Mendadak pembicara seminar anak Geologi Trisakti


trisakti_240109_seminar_mudlogging10
Bersalaman dengan ketua panitia AAPG yang masih satu atap dengan saya
    • Saya bukan anak pandai di sekolah saya. Prestasi akademis pas pasan
    • Saya juga bukan lulusan perguruan tinggi terbaik di Indonesia
    • Saya anak teknik tetapi kurang sreg dengan mata kuliah Matematika. Tapi bisakah saya bekerja pada perusahaan kelas dunia yang syarat masuk begitu njelimet. Apakah berarti saya kehilangan kesempatan menyumbang tenaga (dan dapat penghasilan) dalam industri perminyakan.

    Demikian layar pertama presentasi saya buka. Maksudnya jelas, selama ini orang hanya bicara bahwa perusahaan selalu minta pelamar dengan IP tinggi, lulusan perguruan tinggi ternama. Lantas bagaimana nasib pelamar yang kebetulan tidak memenuhi persyaratan manusia dewa tersebut.

    Seharusnya saya diminta bicara oleh panitia AAPG (American Association Petroleum Geologist) cabang Trisakti untuk berbicara mengenai karier Geologist di Mudlogging pada jumat 23/1/2009 namun secara mendadak di meja saya ada undangan Bid Clarification perusahana minyak di kaki BEJ pada hari yang sama. Jarak antara BEJ dengan Kampus Trisakti Grogol sebetulnya bisa ditempuh dalam waktu 30 menit.

    Belum lagi sudah janjian dengan warga Wikimu semua dalam waktu berdekatan dan salah perhitungan bisa babak bundas alias kacau. Hanya orang “gila nekad ” kalau di Jakarta yang berani ambil resiko menghitung jarak tempuh ala pelajaran berhitung anak SD.

    Daripada telat, maka saya tilpun panitia mengatakan bahwa kalau bisa acara diundur hari Sabtu. Sebuah keputusan riskan karena pada hari tersebut umumnya mahasiswa dan mahasiswi berlibur. Untung panitia bijaksana, dan acara diundur pada Sabtu Pagi 24/1/2009. Belakangan saya tahu bahwa sebagai pengganti saya pada Jumat itu mereka malahan mengundang Prof Dr. Koesoemadinata yang jelas sangat pakar kalau soal ilmu kebumian.

    Lalu saya tahu bahwa Sabtu adalah hari libur sementara materi makalah satui hari sebelumnya sudah di ambil oleh Profesor Koes alamat presentasi “free as usual” saya bakalan hambar kurang semriwing.

    Setengah jam sebelum waktu tiba saya sudah mengSMS ketua panitia. Kelihatan sedikit nervous sebab baru beberapa mahasiswa yang hadir. Tidak mengapa. Saya maklum itu. Lalu kami menuju lantai 202, saya cek sekali lagi komputer, bahan presentasi, membuat backup ke CD dan ThumbDrive. Bekerja dengan komputer harus selalu paranoid. Jangan percaya dengan hard disk.

    Sekalipun saya mengetik ceklak..ceklek, sebetulnya mata di tengkuk saya bekerja. Tapi karena ini khayalan, maka yang saya siagakan telinga saya.

    Braak, poster besar tentang tema seminar dan pembicaranya mendadak jatuh. Yang saya catat, jaman sudah berganti, sekarang spanduk sudah tidak mengenal kain blacu. Mereka pakai plastik di cetak seperti foto dengan konsekuensi lebih berat dan licin.

    Lalu datang seorang lelaki usia pertengahan, pakai safari coklat, gaya bicaranya mirip Sekretaris Jurusan, mengecek apakah mahasiswa sudah dapat surat puas praktikum untuk melanjutkan ke Yudicium. Rupanya saya meleset, dia mirip Tekab, lantaran bertanya kepada panitia “Ada ijin mengadakan kegiatan ini? ” – nampaknya sang Tekab Kampus masih saja kurang puas.

    Ia tetap melakukan ispeksi mengitari keadaan ruangan seperti kuatir ada bom ditanam di kursi saya. Saya pura-pura asyik menghadap monitor. Tapi selintas melihat kilatan seperti uang kertas berwarna kehijauan. Rupanya ramuan ampuh menghalau dan sekaligus berterimakasih kepada pihak keamanan yang sangat “concern” akan keamanan kampus.

    Ketua Panitia nampak terkejut ketika saya memberi komentar soal keamanan tadi.

    Beberapa catatan saya perbaiki. Untuk menarik perhatian saya berikan pengalaman menyikapi jatuh bangun- bekerja di perminyakan yang ternyata tidak selalu stabil aman dan tentram. Ancaman PHK juga selalu ada sekalipun pada perusahaan kelas internasional. Apalagi krisis global seperti ini. Mengebor minyak rugi, mendapatkan minyak juga tidak untung.

    Tercatat 50 mahasiswa datang. Saya juga menjlentrehkan bagaimana sebuah biodata harus dikerjakan, teknik kalau memasuki ruang wawancara. Semua saya ambil dari contoh hidup mewawancarai calon anggota tim saya.

    Membuka acara saya langsung menohok dengan jati diri saya dengan membuat pointer bahwa saya tidak pintar, tidak ahli matematis, lulusan sekolah kelas biasa-biasa saja, IP rendah, dan bukan sarjana strata satu.

    Tema ini saya ambil sebab saya masih ingat benar – teman-teman bekas perusahaan saya yang lama pernah melecehkan saya dengan alasan “cuma sarjana muda.” – koreksi sedikit, bukan cuma teman bahkan bekas Direktur tempat saya bekerjapun ikut merendahkan prestasi saya dengan mengatakan “perusahaan tidak akan maju kalau ditangani level Sarjana Muda.” –

    Tahun 2004 saya meninggalkan perusahaan tersebut dan semua proyek dipending sampai sekarang. padahal sudah dipegang sarjana bertitel panjang. Beberapa menderita stroke karena stres.

    Begitu beberapa audience mulai menguap segera saya mengkontra hipnotis kesadaran dengan mengatakan bahwa “Anda mempunyai peluang untuk dapat kerja lebih besar ketimbang lulusan dari kota lain..” – lantas saya ambil misalnya ketimbang menggunakan orang dari Yogya atau Bandung jelas kita lebih suka karyawan yang tinggal di Jakarta (jangan katakan di Bekasi, Cinere jarak tempuhnya lebih lama ketimbang dari Bandung.) – Tetapi biasanya dari Trisakti kondang anak kaya yang kesukaannya naik Motor Balap. Sementara pesaing anda dari Yogya, cukup puas sudah bisa beli “lontong balap.” – ini jam 11:30, waktu perut keruyukan saya bicara makan. Jelas mereka terbangun.

    Saya lihat peserta mulai tertawa dan segar kembali. Saya juga tidak lupa menyisipkan joke mulusnya ketiak “wulan jameela.” dalam sebuah iklan tawas modern. Lalu soal iklan TV “Primbon Saya Cocok untuk anda..

    Tantangan sendiri memang mengubah presentasi membosankan menjadi menarik (maunya) karena harus menyatakan pelbagai disiplin ilmu dan pengalaman dalam waktu singkat.

    Diam-diam saya membeli empat buah USB 2GB, dan saya isi dengan materi seminar saya. Kelak kepada mahasiswa yang aktip bertanya saya berikan kenang-kenangan berupa USB. Trik ini saya lakukan saat seminar selesai.Sayang hanya dua peserta bertanya, dan terkaget ketika saya tanya “apakah anda mau menerima USB Flash dari saya?

    Tahu dibagi USB gratis kalau bertanya seperti biasa maka ada rasa getun dari beberapa mahasiswa. “tahu gitu (dibagi USB) saya bertanya deh. Sebetulnya banyak yang saya akan tanyakan – tetapi seminarnya lucu jadi nggak jadi tanya..” – ini memang penyakit metase. Kalau rapat selesai baru keluar jurus “sebetulnya aku pingin tanya tapi…” – dan biasanya diselesaikan dengan berbisik kepada teman disampingnya.

    Seorang calon dari Universitas Indonesia, sebetulnya candidat saya untuk saya berikan USB. Sayang sekalipun dia duduk di depan dan serius mengikuti presentasi, nampaknya belum ada tanda-tanda akan bertanya.

    Tetapi nasi sudah jadi bubur. Padahal 45 menit kedepan saya sudah menyindir cara belajar yang mirip anggota DPR seperti datang, diam, isi absensi lantas mengantuk.

    Toh “sanepo” alias sentilan saya tidak dipahami juga.

    Saya juga mengharapkan ada pertanyaan nakal misalnya “Bapak kan bukan sarjana strata satu, gimana kok bisa bekerja di perusahaan Internasional, sementara perusahaan lokal kadang lebih diskriminatip dalam menuai calon pekerjanya..

    Sayang pertanyaan tersebut oleh mahasiswa Trisakti yang kondang vokal tidak terucap. Dan sebetulnya mulut saya sudah pahit berbicara selama 60 menit. Tetapi secara keseluruhan saya happy dapat berbagi ilmu di Universitas Cikal Bakal Reformasi ini.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.

3 thoughts on “Mendadak pembicara seminar anak Geologi Trisakti

  1. major yang dulu bapa ambil perminyakan apa geology?
    wah saya salut banged dengan pengalaman bapa yang klo di bandingin sama gado-gado,lewat lah,hehe…

    sebelumnya saya sudah sering membaca blog bapa dengan berbagai cerita suka duka di oil industry yang ngebuat saya semangat kuliah diperminyakan,hehe

    maklum saya dulu home-body person bgd..

    Like

  2. Saya memang gado-gado tetapi setengah mateng. Pertama pernah kuliah di Pertanian, belum satu semester pindah ke Perminyakan. Lalu sempat di cangkok ke ITB perminyakan – diharapkan bisa jadi Dosen di Yogya, itupun tidak mulus. Lalu diajak teman bekerja. Pernah ambil jurusan Geologi di Bandung, masih merasa kurang sreg. Sampai-sampai teman, bahkan sekretaris jurusan mengira saya “mutung” alias patah arang. Padahal ya cuma merasa kurang sreg.
    Cara hidup yang jangan ditiru ya… sekali lagi jangan ditiru. Tapi karena ini riwayat hidup saya, ya harus jujur menuliskannya.

    Like

  3. Waduh jadi malu pak saya bacanya, mengingat saya ga ada dikampus karena sudah lulus…bisa jadi saya yang menguap, walaupun bukan anak kaya jakarta. Tapi makasih sharenya pak, tendesinya sama yang saya rasakan ketika memberikan materi ke junior sewaktu dikampus. Salam kenal pak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s